ada hal yang aneh dalam sastra Indonesia, yang mungkin selama ini nyaris tak diperhatikan dan seolah dianggap di luar dari kaidah umum dan logika berpikir dan berperasaan di kalangan sastra modern kita. dan akhirnya, aku tergelitik ketika membaca pertanggungjawaban juri Dewan Kesenian Jakarta mengenai Sayembara Manuskrip Buku Puisi;
Seorang penulis puisi tentu saja mesti membereskan dirinya dalam hal kemampuan berbahasa tulis dengan baik. Berbagai error berbahasa, termasuk kerancuan logika, dalam banyak manuskrip jelas tidak berkaitan dengan licentia poetica. Error yang kami jumpai bahkan menyangkut perkara teknis yang sangat elementer, misalnya ejaan dan tata tulis. Sekadar contoh, masih banyak yang tidak dapat membedakan awalan di- dengan kata depan di.dan sebagai anak psikologi, yang sangat tertarik dengan kajian klinis atau psikologi klinis, hal semacam ini, yang sejujurnya telah menjadi sangat umum di kalangan sastrawan, penyair, kritikus dan pembaca atau akademikus sastra Indonesia, benar-benar membuat aku tertawa terbahak-bahak. bagaimana tidak? sastra Indonesia seolah-olah hanya dipersembahkan untuk orang-orang normal dalam artian psikologi atau psikiatri. di dalam sastra Indonesia dewasa ini seolah-olah terpampang dengan jelas semacam tulisan layaknya akademi Plato zaman dulu; HANYA ORANG NORMAL DAN SADAR DENGAN TATA BAHASA DAN EJAAN YANG DISEMUPURNAKANLAH YANG BOLEH MEMASUKI RUANGAN INI, BELAJAR DAN MENULIS SASTRA INDONESIA.
dalam perdebatan, dalam polemik dan sebagainya, seringkali orang-orang, pembaca umum, terlebih mereka yang terlalu gila dengan teori sastra, gila dengan filsafat bahasa dan segala hal yang berkaitan dengannya, sangat keterlaluan anehnya dengan menganggap tata bahasa dan ejaan yang benar adalah semacam cawan suci yang layak diagungkan, disembah, dan dijaga sedemikian kuatnya. sampai-sampai banyak orang lebih suka mengurusi kekurangan tanda baca, dari mulai koma hingga kata sambung. bahkan kesalahan dalam menggunakan awalan, akhiran, dan sebagainya. seolah-olah hal ini lebih sangat penting dari yang lain-lain, semisal gagasan baru di dalamnya, narasi baru yang digunakan, atau sudut pandang yang berbeda, menarik dan tak lumrah atau hal-hal lainnya. inilah kegilaan yang selama ini nyaris jarang dibicarakan di kalangan sastrawan dan penyair kita. bahkan mungkin para kritikus itu sendiri. sedangkan sangat jelas, kebanyakan para mahasiswa sastra hanya orang-orang yang lebih suka mengekor tanpa berpikir lebih jauh sehingga akan sering terjatuh pada penghambaan yang semacam itu juga. jika terus seperti ini, sastra Indonesia akan kehilangan orang-orang hebat yang memiliki gagasan, ide, tema, bentuk atau apapun itu yang belum pernah atau mungkin layak untuk dilihat dan tindaklanjuti karena di kalangan sastrawan sendiri sangat keranjingan dengan penggunaan tata bahasa dan ejaan hanya untuk orang normal saja.
kadang aku berpikir, lah, kalau anak autis, disleksia, atau bahkan para pengidap cedera otak parah, dari mulai Amnesia, Demensia, Alzheimer dll itu, sangat tidak dianjurkan menulis sastra Indonesia karena tak becus mengurusi kata-kata dengan benar? ini berarti orang Bipolar, Skizofrenia, Borderline dan lain sebagainya yang tercakup dalam DSM 5, yang banyak di antaranya memiliki kekurangan dalam penggunaan bahasa atau penurunan kemampuan berbahasa, akan sangat disingkirkan dengan begitu mudahnya, sejenius atau secerdas apapun orang itu. tidakkah ini yang selama ini ditutup-tutupi? tidakkah ini sama dengan diskriminasi?
ketika aku melihat banyak sastrawan dunia yang sakit gila atau para ilmuwan yang mengidap segala jenis gangguan kejiwaan dan masih bisa melahirkan sesuatu yang luar biasa, melihat kecenderungan sastra Indonesia, benar-benar membuat kegilaan itu bertambah gila lagi.
kadang aku pernah mengkhayal dan tertawa sendiri, terbahak-bahak tentunya. apajadinya jika Indonesia dipimpin dan dikuasai oleh orang buta yang menggunakan huruf braille? itu membuatku hampir sakit perut. bisa-bisa yang boleh menulis sastra Indonesia hanya mereka yang bisa menggunakan huruf braille saja. apajadinya jika anak disleksia kelak menuntut balas? bisa juga kelak dia akan membakar seluruh buku sastra bahasa Indonesia dengan ejaan dan tata letak serta huruf seperti sekarang ini dan menggantikannya dengan buku-buku yang hanya bisa dibaca dan ditulis oleh anak-anak disleksia yang bagai terbalik-balik itu. sial, sumpah, aku ingin tertawa lagi.
sastra Indonesia benar-benar konyol dan diskriminatif. sumpah, aku tak tahu lagi harus bagaimana merenungkannya. kekolotan dan penghambaan akan penggunaan tata bahasa, ejaan yang disempurnakan, dan tetek bengek bahasa orang normal, benar-benar membuat sastra Indonesia kian hari semakin menakutkan dan terlihat sangat tidak peka dan konyol.
jika kita terbiasa mengamati sebuah buku, ada buku yang terbit tahun 2014 menggunakan kata mempesona, sedangkan buku terbitan tahun 2008 atau 2001, menggunakan kata memesona. bahkan Pram di dalam Horison Esai Indonesia Kitab 1 menggunakan kata merubah dari pada mengubah. sejujurnya, banyak editor kita pun dibuat gila oleh ejaan bahasa Indonesia yang terasa mengerikan itu. dan sangat keterlaluan, jika kita terlalu sibuk mengurusi hal semacam ini dari pada beberapa hal lainnya yang ditawarkan oleh orang baru atau orang lama yang coba menawarkan gagasan baru, kecenderungan baru atau mungkin intertekstualitas yang berbeda dan menyegarkan. kesalahan tata bahasa dan ejaan masih bisa ditangani oleh segudang editor kita. sedangkan kesalahan pola pikir, seperti kecenderungan sastra Indonesia yang seolah bagaikan hanya untuk orang NORMAL itu, adalah kesalahan pikir yang sangat mengerikan yang selama ini seolah didiamkan saja.
yah, setidaknya, banyak sastrawan dan penyair kita diisi oleh orang-orang normal. dan karena keterlaluan normalnya, diikuti oleh banyak orang normal lainnya.
