Senin, 18 April 2016

SAUT SITUMORANG, KRITIK SASTRA, DAN MARI BERPIKIR ULANG















Dalam Politik Sastra, Saut Situmorang agak sedikit tertidur ketika ia membicarakan kritik sastra. Saut menginginkan sebuah kritik sastra yang logis, ilmiah, dan jelas menurut standar Barat. Persis seperti itulah yang ia utarakan dalam tulisannya “Dicari: Kritikus (us) Sastra Indonesia” dan tulisan yang lainnya, “Kritik Sastra Tanpa Teori” yang menganggap keberadaan sebuah teori sebagai semacam pendekatan dalam menelaah dan menilai sastra, sangatlah diperlukan dan sangat penting. Tapi tunggu dulu. Sejak kapan teori sastra bisa kita sebut ilmiah?

Mungkin kita harus berani jujur, bahwa kritik sastra kita sebenarnya adalah kritik sastra subyektif. Yang ilmiah dan obyektif hanyalah sekedar keberadaan samar yang tak jelas. Dan sejak kapan, teori sastra yang kita anut dan yakini benar-benar menjadi ilmiah dan kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan? Selama ini, kita berjalan dalam keadaan setengah sadar dan menganggap bahwa teori sastra yang kita gunakan untuk menelaah berbagai macam jenis karya adalah dari sumber yang sudah selesai dan tetap atau bisa dibilang ilmiah hingga mungkin kita mengatakannya sebagai ilmu pasti.

Cobalah suruh Narudin Pituin untuk menelaah seluruh tradisi kritik sastra. Maka dunia dan keyakinan dirinya akan semakin kacau. Makna yang tetap. Dunia yang tetap. Dan keinginan untuk membuat tunggal semua hal dan mudah untuk dikategorikan akan menjadi pengalaman paling gila dalam sejarah manusia.  Sebuah kategori yang mengandaikan bahwa dunia teori yang dipakai oleh para kritikus adalah benar tanpa ada kesalahan dan kemungkinan lain di sana. Seolah-olah tak ada andaian atau imajinasi dan hal yang subyektif dalam teori-teori yang digunakan sebagai alat kritik. Dan apa yang disuarakan oleh Kajitow Elkayeni atas Narudin adalah mengurai apa yang dikejar oleh para kritikus kita sebagai sebentuk kepastian. Dan dia mendedahkan pada kita bahwa yang pasti telah dilalui oleh ketidakpastian dan hal yang cair. Penafsiran yang beragam. Ah, entah kita sedang berada dalam wilayah teori yang ingin ilmiah atau pasca-modern, kita berada dalam jalan keterpecahan.

Narudin dan juga Kajitow sama-sama bermasalah. Begitu juga diriku sendiri. Terlebih sebagai awan dan hampir tak tahu apa-apa seperti diriku ini. Dan dari situlah kritik sastra semakin bermasalah dan membingungkan. Atau pada dasarnya kita semua adalah bagian dari dunia yang membingungkan?

Kita semua seolah berada dalam ketegangan antara kepastian dan ketidakpastian atau keserbamungkinan. Dan kita mungkin akan remuk di dalam tegangan itu. Atau pada akhirnya, berdiri bimbang sebagai penerus Goenawan Mohamad yang tak tahu lagi harus berjalan ke arah mana. Segala macamnya buntu atau serba mungkin.

Semua kritik sastra yang kita percayai bermula dari hal yang meragukan dan belumlah final. Bahkan banyak kesalahan dan ketidakjelasan di sana-sini. Jadi, para kritikus dan kita sebagai awam, menggunakan dengan keyakinan aneh, bahwa teori sastra yang kita gunakan untuk menelaah dan mengurai, adalah hasil dari sebentuk kejelasan final dan tetap.

Semua kritik sastra adalah subyektif. Sebaik apapun dan sedekat apapun kritik itu mencoba menggali dan terus menggali. Pada dasarnya, kita semua berpegang pada pedoman yang rapuh atau bahkan seringkali salah.

Sejak kapan psikologi benar-benar menjadi ilmiah? Bahwa pakar dan ahli psikolog serta para psikolog sendiri berada dalam jalan yang saling bertentangan mengenai status keilmuan dan pedekatan mereka dan apa yang mereka percayai. Tak ada yang final dalam psikologi. Bahkan semakin terpecah dan membingungkan. Terlalu banyak aliran. Terlalu banyak keterpecahan. Terlalu banyak politik kekuasaan untuk mengklaim lebih benar antara aliran satu dan lainnya. Ketidaksepakatan terhadap teori dan gagasan yang lainnya. Bahkan para psikolog saling bermusuhan dan tak mau mendengarkan dan menerima logika, temuan dan sudut pandang yang lainnya. Psikitari, saudara dekat Psikologi, mengalami hal yang sama. Bahkan gerakan Anti Psikiatri dan kasus terkenal Sybil dan Billy Miligan sudah menjadi umum mengenai krisis kesepakatan bersama di kalangan psikolog dan psikitari mengenai apa yang harus mereka terima, sepakati, dan percayai. Lalu, ketika para psikolog dan psikitari sendiri pun bermasalah dengan tradisi mereka sendiri, apa para kritikus sastra masih yakin dan percaya diri menggunakan teori berbasis psikologi. Tidakkah para kritikus sastra adalah mereka yang bukan ilmuwan dan kebanyakan hanya sekedar meminjam hasil dari orang lain, dan anehnya dengan kepercayaan diri yang membuta?

Masihkah para mahasiswa, dosen, hingga kritikus sastra menyandarkan diri pada psikonalisis yang banyak bermasalah dan mengandung banyak hal yang sangat subyektif dan kepura-puraan di sana-sini. Sejarah psikologi dan juga psikiatri adalah sejarah yang tak lengkap dan banyak hal yang ditutupi dan disimpangkan. Sehingga, psikologi sendiri susah untuk dijadikan tempat bersandar. Terlebih psikoanalisis. Dan yang membuat heran, kemana aliran psikologi yang lainnya? Kenapa nyaris tak dimasukkan dalam tradisi besar kritik sastra?

Dan sejak kapan feminisme berlandaskan hal yang sangat ilmiah dan mudah untuk dipertanggung jawabkan secara keilmuan? Tidakkah feminisme lebih bertumpu pada sisi subyektif seorang perempuan yang merasa, mendengar, mengamati, dan mengalami? Feminisme berdiri  diantara jalinan emosional dan fakta atau kenyataan. Bahkan feminisme adalah keberadaan yang lebih sangat rapuh dari pada psikologi yang didasari atas tradisi besar sains positivis. Tidakkah banyak tulisan feminis sangat emosional dan bertumpu pada pengalaman kehidupan mereka sendiri atau apa yang mereka amati di sekitar mereka? Hingga pada akhirnya, muncullah banyak aliran dan saling ketidaksepakatan di kalangan mereka sendiri. Dan tidakkah itu menandakan ada celah di situ. Bahwa feminisme, terlebih tulisan para feminis, terjatuh pada kesalahan sudut pandang dan kesadaran yang mungkin bukan asli atau ilusi. Sehinggga seorang feminis dari aliran tertentu menganggap feminis dari aliran lain salah, memiliki kesadaran palsu dan buruk, atau tak memahami dan menutup mata dari kenyataan yang sebenarnya.

Apa jadinya, jika kritikus sastra yang sejatinya lebih banyak sebagai pengumpul rempah-rempah hasil kerja orang lain, menganggap bahwa teori sastra adalah final, benar, tetap, tak berubah dan bahkan harus mutlak dipercayai? Dan memakainya untuk memaksa orang lain mengikuti kehendaknya yang berasal dari sumber yang sudah cacat dan susah untuk diyakini bersama.

Mari kita akui bersama, sejak kapan Marxisme adalah kebenaran mutlak? Lalu kenapa ada begitu banyak sempalan dari Marxisme dengan masing-masing sudut pandang kepercayaan mereka sendiri? Kenapa dalam tradisi kritik kita menganggap penting Marxisme bukannya Kapitalisme atau Liberalisme yang telah membangun peradaban dunia modern dengan Komputer, Internet, Handphone, Listrik, hingga makanan dan celana dalam kita? Kenapa kita begitu tergila-gila dengan logika Marxisme dalam kritik sastra kita dan tak mau mengakui bahwa Kapitalisme telah menjadi bagian hidup diri diri kita dan membentangkan banyak sekali penemu dan ilmuwan penting yang hasilnya kita nikmati bersama; paling mudah Facebook? Itu pertanyaan tersendiri. Yang jelas, Marxisme lebih sangat rapuh lagi dari yang lainnya. Kenapa harus Ekonomi bukannya agama atau yang bersifat psikologis? Kenapa harus kelas bukannya identitas yang menjadi dasar saling berseteru? Apakah pada dasarnya dunia kita sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan atau bersifat cukup bebas layaknya seorang eksistensialis atau malah ditentukan oleh Tuhan yang jauh? Mana yang lebih benar, Marx, Engels, Stalin, Lenin, Rosa, Lucas, Gramschi, Althusser dan banyak lainnya? Tidakkah itu berarti sangat subyektif karena masing-masing penganut Marx tidak sepakat secara penuh? Lalu kenapa para kritikus kita dengan sangat yakin dengan teori dan hasil telaahnya? Yah, entahlah, silahkan kalian berpikir sendiri-sendiri mengenai hal ini.

Bahkan landasan Marx yang sangat materialis itu mungkin akan banyak disangkal oleh orang lainnya. Dan siapa yang masih bisa berkicau tentang kebenaran dalam sejarah yang utuh? Sedangkan fondasi bangunan dia yang bernada Darwinisme, akan susah dikatakan ilmiah ketika Richard Dawkins pun kesusahan untuk meyakinkan semua orang bahwa Darwin benar dan sudah tak perlu diragukan lagi. Bahkan para pengikut Darwin pun berbeda pendapat dan terbuka untuk berubah jika pengetahuan dan fakta baru muncul di lapangan. Apakah ada kritikus sastra di Indonesia yang rela mengakui kesalahannya dan berani melangkah layaknya para ilmuwan lainnya, di depan publik, meminta maaf atau mengubah sudut pandangnya terhadap dunia dan dengan bijaksana mengakui keunggulan dan kebenaran lawannya? Aku bukan pengamat sastra yang serius. Aku tak begitu tahu. Aku hanya sekedar jarang melihatnya. Jika kalian lebih tahu, tolong direnungkan dan dipikirkan sendiri. Kalau bisa dituliskan agar aku sendiri tahu dan mendapatkan wawasan akan hal itu.

Lalu bagaimana dengan New Historicism, Materialisme Kultural, Dekonstruksi, Posmodern, Strukturalisme, Poskolonial hingga kritik Gay dan Lesbian atau Kritik Baru dan kritik sastra yang bersandarkan pada keklasikan dan kekunoan yang akhir-akhir ini mencuat?

Tak ada di antara sekian banyak tradisi kritik itu yang benar-benar ilmiah. Mantab. Bisa dipertanggung jawabkan secara menyeluruh. Memiliki kebenaran yang utuh. Dan tak terhindar dari subyektifitas. Lalu, masihkkah kita memuja tinggi teori sastra yang selama ini sebagai suatu pendekatan yang absah dan layak dipertanggung jawabkan? Atau anehnya, diyakini kebenarannya? Itulah masalah utama di jantung humaniora.

Aku tak bisa membahas semua teori itu di sini. Aku sedang lapar. Jadi saat aku menulis ini, aku benar-benar sedang ingin makan dan belum mandi. Karena aku bukan penulis yang baik, tak begitu tahu banyak sastra dan kritik sastra, aku serahkan saja pengandainya ini terhadap masing-masing dari kalian.

Dan tidakkah sudah saatnya kita menamai ulang tradisi kritik sastra kita sebagai kritik sastra subyektif? Dan lebih baik secara serius mengakui bahwa kita melandaskan tradisi kritik selama ini kepada pengalaman kita, pengetahuan kita, wawasan kita, apa yang kita baca, sudut pandang kita terhadap dunia, kepercayaan moral kita, agama atau keyakinan kita, sikap politik kita, apa yang kita inginkan dan banyak lainnya.  Bahkan ketika kita sedang menggunakan teori sastra sekalipun. Teori sastra yang pada dasarnya sangat membingungkan, berada di antara fakta dan pengalaman, tengangan antara obyektif dan subyektif, yang nilai kebenaran sangat tak final dan bahkan banyak kesalahan di sana-sini yang anehnya tak kita koreksi dengan baik dan membuangnya dari tradisi kritik kita. Mana yang sudah tak berlaku dan mana yang masih mungkin. Dan perdebatan sastra terus berlanjut di tengah kerapuhan dan keterpecahan kita. Yang mana, sayangnya, kritik sastra bukan teks suci hasil dari yang jauh. Tapi manusia yang bisa saja salah dan memang sering salah. tidakkah teks suci pun sering dipermasalahkan? Apakah kita ingin menganggap teori sastra layaknya kitab suci agama-agama?

Para kritikus sastra kita, jika benar-benar ingin menjadi kritikus berdasarkan teori, harus berani dulu memandang ke belakang. Menguji seluruh landasan dasar teori mereka sendiri. Apa yang salah di sana. Dan apa yang layak dibuang dan sudah tak lagi diyakini dan kemungkinan salahnya besar dan sudah tak mampu lagi menjawab ini dan itu. Atau mungkin kita tak terbiasa dengan gagasan semacam ini. Dan menganggap apa yang sudah ada, sebagai benar tanpa harus dipikrikan ulang. Jika para kritikus sastra sudah seperti itu, lalu apa jadinya dengan dosen sastra, guru sastra, dan mahasiswa sastra yang ketika skripsi dianjurkan jangan yang susah-susah dan kalau bisa jangan aneh-aneh. Ikuti saja teori dan tradisi kritik yang sudah ada. Yang kemungkinan salah itu, dan selesai.

Dan apa yang selama ini diandaikan oleh Saut Situmorang, mengalami dua bentuk kegagalan. Kritik sastra dilandasi oleh pengalaman dan pengetahuan subyektif masing-masing para teoritikusnya yang belum selesai dan kebenarannya susah untuk diakui bersama. Jika Saut menginginkan sebuah kritik sastra yang ilmiah, sejak awal hal semacam itu nyaris tak mungkin. Landasan kritik sastra bukanlah seperti apa yang dipegang oleh para geolog, ahli biologi, fisika, kimia, matematika atau para astronom. Landasan kritik sastra lebih bersifat humaniora dan jauh lebih rapuh dari pada sains yang banyak dianggap rapuh jika menyangkut beberapa hal penting dalam kehidupan kita. Lalu, apakah teori penting? Penting, asal tidak kita anggap benar secara keseluruhan. Dan jika kita sedikit cerdas, kita bisa memilahnya. Mana yang sudah kadaluarsa dan mana yang masih layak dan mungkin. Dan Saut tak bisa memaksa lagi kepada kita bahwa teori Barat itu sudah utuh dan layak. Kecuali sebagai kemungkinan untuk telaah dan bagaimana kita memandang dunia ini. Dan pada akhirnya, Saut pun terlalu emosional dalam setiap debatnya. Yah, keinginan untuk benar-benar obyektif dan profesional layaknya pekerja kantoran yang kaku itu pun susah untuk dia sendiri jalankan. Bahkan tidakkah Saut sendiri seringkali mengumpat? Apakah mengumpat adalah salah satu dari sekian banyak pendekatan ilmiah dan laku obyektif?

Tapi, Saut Situmorang adalah sedikit kewarasan yang susah ditemukan. Menjadi sedikit melenceng dari garis umum sastra Indonesia berarti jalan menuju sakit jiwa, keterasingan, dan mungkin bunuh diri sosial atau bahkan bunuh diri fisik. Apa yang dilakukan dirinya dalam sastra Indonesia, layak aku beri tepuk tangan. Walau kita juga harus mau mengakui banyaknya ketidaksinambungan dari apa yang Saut koarkan dan kenyataan dirinya sendiri. semisal, adakah pendukung Saut berani melakukan kritik nyata dan obyektif terhadap karya dan diri Saut sendiri? ataukah berlindung di bawah kebesaran Saut dan takut jika nanti akan menyinggung dirinya?

Pada akhirnya, sastra kita selalu mandul jika berkaitan dengan orang yang kita kenal dan anggap sebagai teman, guru, dosen, dan yang kita kagumi. Dalam tahap ini, mendadak otak kita beku. Kita tiba-tiba menjadi penakut. Menjadi penipu. Berpura-pura. Dan jadilah apa yag hari ini kita sebut sastra Indonesia.

Aku selalu memberi tepuk tangan bagi mereka yang mau menulis. Entah sebagai sastrawan, penyair, esais atau penulis naskah dan lainnya. Karena tulisan adalah sebagian dari jejak mental, psikologis, agama, keyakinan, sudut pandang akan dunia, identitas dan rekam sebagian dari diri seseorang. Maka, kegiatan menulis adalah semacam kegiatan menelanjangi diri sendiri di muka umum. Sepandai apa pun seorang penulis itu ingin menyamarkan dirinya dan mengelak dari bahasa. Dan  berpolemik panjang serta melakukan laku kritik adalah kegiatan yang benar-benar sangat beresiko. Sehingga sedikit orang yang mau melakukannya.

Sehingga, seketerlaluannya Saut Situmorang, aku akan tetap memberikan tepuk tangan dan hormat kepada dia dari pada mereka yang selalu bersembunyi dan menghakimi seenaknya tanpa mau untuk menulis dan membuka pikirannya terhadap orang lain secara luas. Aku akan tetap memberikan salut kepada Narudin Putin karena keberaniannya mendedahkan dirinya sendiri. Walau kadang ia sangat tak menyenangkan bagi sebagian orang dan susah untuk dikritik. Setidaknya Narudin Pituin, telah menuliskan pikirannya yang akan mudah untuk dinilai, dihakimi, dan ditelaah orang lain. Suatu bentuk penelanjangan diri yang tak berani dilakukan orang lain. Hal semacam ini berlaku dengan Goenawan Mohamad, Binhad Nurrohmat, Maman S Mahayana, Katrin Bandel dan lain sebagainya. Entah mereka adalah esais atau mengaku dirinya kritikus sastra. Dalam tulisan mereka, entah yang tak mau mengakui atau menghindar, atau hal-hal lainnya. Setidaknya mereka menuliskan pikirannya dan aku, juga kalian, bisa menelaahnya dan mungkin menemukan sesuatu yang lain. Entah kedangkalan, sikap hati-hati, kesalahan dasar ilmu, atau sudut pandang yang tak sesuai.

Dengan gairah membaca hanya 0,01 persen, menurut UNESCO, bagi masyarakat yang memiliki penduduk yang sangat besar ini, adanya mereka yang memelencengkan diri untuk menulis karya sastra, patut kita beri penghargaan dan kita akan tetap menilai sejauh mana karya itu, dan tak serta merta membiarkannya begitu saja seperti karya populer yang dipuja-puja tanpa sikap kritis yang berarti. Di masyarakat yang sedikit sekali membaca dengan rata-rata pertahun hanya satu buku bagi masyoritas penduduk. Melihat seorang kritikus, seolah-olah sedang melihat orang gila yang sedang menjerumuskan diri dalam kegilaan total. Siapa yang tak gila jika ia bersedia mati secara sosial, keuangan, dan banyak hal lainnya? Para sastrawan lebih mudah menyembunyikan kebusukan dan wajah pura-puranya terhadap dunia dan hanya sekedar fokus menghasilkan karya. Dan mereka juga akan lebih mudah diterima orang secara sosial; baik penggemar maupun teman sesama sastrawan. Dan uang masih akan mudah mengalir dalan kantong mereka. Bagaimana dengan Kritikus? Keberadaan yang nyaris tak menyenangkan, mudah dibenci, dimusuhi, dan penghasilan yang mungkin lebih susah dari pada seorang sastrawan yang menghindari diri dari polemik. Itulah sebabnya, ada seorang yang mau bersusah payak di lajur kritik sastra adalah bagaikan melihat orang yang sedang ingin bunuh diri.

Sastra kita adalah sastra pertemanan. Sastra berkubu. Sastra saling pura-pura. Sastra kebohongan. Sastra kedamaian dan memilih ikatan sosial dari pada kebenaran. Sastra yang menghamba. Berpatron. Sastra yang memilih ketenaran dan uang dari pada sastra yang berani mengakui kekurangan diri sendiri. Entah dalam puisi sang penyair. Novel sang novelis. Esai sang esais atau kritik dari sang kritikus. Dan sastra yang hampir segala sesuatunya kita pinjam dari Barat dan orang lain. Dari mulai sejarah negara kita yang ditulis oleh orang lain. Hingga teori dan para sastrawan kita yang mengarakan dirinya pada Barat dan peradaban lainnya. Apakah meminjam dan menggunakan apa yang dicptakan dan ditemukan oleh Barat tidak diperbolehkan? Sangat diperbolehkan. Asalkan kita sadar dan tahu diri. Dan mau mengakui apa yang kurang dan cacat dari kita.

Lalu apakah tak ada sastrawan, penyair, kritikus dan lain sebagainya yang tak terlalu berpura-pura, terlalu menjadi penakut dan hidupnya hanya sekedar untuk berkubu dan berbohong. Yang jelas, masih ada. Tapi kecenderungan hari ini adalah sastra yang penakut dan berkubu. Sastrawan dan kritikus yang tak berani mengakui kesalahan dan kekurangan dalam diri sendiri. Mungkin aku menyimpulkan hal yang terlalu gegabah. Karena pada dasarnya aku bukan penulis yang baik. Aku serahkan hal ini kepada mereka yang berada dalam jalan menjadi seorang peneliti.

Dan mari kita juga akui, tidakkah lebih banyak orang yang sangat tak terhormat ada di luar sana? Yang kadang keberadaannya sangat menyebalkan. Mereka ini, yang sama sekali tidak menulis, lebih tepatnya konsumen yang kerjanya hanya sekedar berkomentar seadanya di jejaring maya, mengutuk sumpahi sastrawan, kritikus dan lainnya sebagainya tapi tanpa mampu menampakkan diri dengan sikap yang layak dipuji, yang memenuhi hampir semua ruang sosial yang ada, masihkah kita menghargai orang-orang ini? Orang-orang yang bersembunyi tapi melemparkan suara yang keras dan kadang sangat mengerikan. Suruhlah orang ini menulis sebuah esai, sedikit kritik atau karya. Maka kebanyakan dari mereka akan mundur, berpikir panjang atau bahkan menghilang dan mengindari tantangan. Karena menulis sama dengan menelanjangi diri sendiri. Menyodorkan batasan apa yang ia ketahui, miliki, dan sejauh mana bacaan yang ia resapi. Maka, polemik secara sadar dan akan dilihat banyak orang, hanya akan dilakukan oleh mereka yang bermental kuat, berani mengakui kesalahan, atau yang cukup bijaksana dan kurang ajar. Tidakkah sedikit orang yang berani berpolemik atau mengakui kekurangan dan kesalahannya di depan umum?

Jumlah kritikus itu sedikit dan hampir punah. Dan apa yang ada di dalam kritik sastra pun semakin membingungkan. Lalu, di dalam sana, di jantung sastra kita, ada keterpecahan, saling memaki, menghina, ketidakbersamaan, tak berani bersikap jujur dan adil, sikap berkubu dan mengamba, lalu sikap pragmatisme yang sudah berurat akar di sebagian kalangan sastrawan dan kritikus. Laluapa jadinya, jika tiba-tiba kita di invasi oleh negara asing kembali di saat kita sendiri sedang bermasalah? Di saat banyak dari kita adalah oportunis dan mereka yang pengecut? Bagaimana nasib kita kelak jika perang besar tiba-tiba mampir di rumah kita yang hari ini?

Jika dalam tubuh kesusatraan kita saja seperti itu. Bagaimana dengan mereka yang hanya sekedar mengacu pada ekonomi, status sosial, identitas agama, suku, bahasa, bahkan sikap politik dan keyakinan terhadap idelogi tertentu? Mari kita berpikir ualng terhadap dunia yang hari ini kita tinggali. Dan sastra, hanyalah cermin kecil dari apa yang terjadi di gedung DPR hingga apa yang ada di pasar tradisonal setiap hari.

Sabtu, 16 April 2016

GOENAWAN MOHAMAD, CATATAN PINGGIR DAN SEORANG TUA YANG GELISAH













baru beberapa tahun inilah aku mencoba menilai ulang lagi sosok Goenawan Mohamad yang kerap membingungkanku. aku tak terlalu kenal dengan sosok itu. tak juga terlalu paham dengan dunia yang ia alami dan rasakan. hanya saja, perjalananku dalam membaca karya-karyanya beserta pengalaman hidupku sendiri, membuat sudut pandangku terhadap apa yang ada di dalam kepala orang itu berubah.

aku mengenal Goenawan Mohamad lewat sastra. lebih tepatnya esai dan puisi. lalu perdebatan yang keras ketika masalah politik sastra, yang menyeret Utan Kayu dan dirinya dalam perdebatan dan kisruh yang aneh. Boemiputra. Utan Kayu. Goenawan Mohamad. aku tak tahu mana yang lebih benar. mana yang lebih salah. masing-masing memiliki kebenaran beserta faktanya sendiri. dan dari situlah, kebingunganku dalam sastra membuat diriku pada akhirnya memilih surut. dan aku juga bukan siapa-siapa.

sastra adalah perjalanan yang aneh yang membuat orang mudah tersesat dan bingung. itulah yang terjadi di negara ini. 

pada titik tertentu mungkin Goenawan salah bagi mereka yang tak menyukai cara, dunia berpikir, dan apa yang ia lakukan. aku juga tak menyukai beberapa dalam diri GM. tapi aku benar-benar menyukai gaya menulis dan perenungan dia dari setiap bukunya yang ada. walau kadang, aku seringkali kehilangan semangat dalam membaca apa yang ia tulis di saat tertentu. 

di lain sisi, para pengkritiknya pun salah karena memaksakan banyak hal di dunia yang masing-masing dari kita ini adalah individu bebas dalam negara plural. dan para pengkritik GM pun seringkali hanya beberapa orang yang serius membaca seluruh karyanya. sementara yang lainnya sekedar ikut dan marah. sementara kritik terhadap dunia yang lebih nyata dalam tingkat geraknya dalam sastra indonesia, terlebih politik sastra; aku tak tahu lagi harus berkata apa. ada kebenaran di dalam kritik mereka. juga ada kenyataan yang ingin ditampik oleh pengkritik GM. kenyataan yang sudah terlanjur hari ini menjadi diri dan bagian penting dari masyarakat Indonesia. entah sebagian atau orang-orang tertentu.

perubahan diri seseorang, diriku sendiri, mengubah sudut pandangku akan orang dan karya yang sedang aku baca dan renungi. dan itu terus-menerus. ketika aku membaca entah karya siapapun yang pernah aku baca. 

pada akhirnya, aku membaca karya GM dari sudut pandang seorang eksistensialis yang terus-menerus berproses. menjadi. mencari. dan berubah terus-menerus. 

pada mulanya ambivalen. menyukai sekaligus membenci. lalu skeptis. dan sedikit mundur dan menjauhi karya-karyanya. lalu, ketika pengalaman hidup dan sudut pandangku akan dunia berubah. aku pun mendekati karya GM dengan cara yang berbeda. kembali menyukainya. menikmatinya. dan kini, tibalah pada rasa sendu yang aneh.

kadang aku berpikir, seandainya aku adalah Pram, apakah aku tak akan menjadi sekaku, seteguh dan sekeras dia? begitu juga seandainya aku menjadi Goenawan Mohamad, apakah aku tak akan berjalan seperti yang kinI ia jalani?




Catatan Pinggir. di sanalah aku menemukan seorang tua yang gelisah. selalu gelisah. memikirkan banyak hal. terlalu banyak. hingga kadang aku berpikir, pernahkah para pengagum dan pengkritiknya mencoba berpikir seperti ia yang berpikir tentang dunia dan segala isinya? cara berpikir yang aku benar-benar tahu, sangat menyakitkan di tengah masyarakat dan komunitas yang cara berpikirnya satu arah, tak terlalu suka membaca, dan menuntut untuk berpikir tunggal dan berkubu. serta, ketika seorang terlalu mempermasahkan banyak hal, tahu banyak hal, dan gelisah akan banyak hal, adalah aib.

Goenawan Mohamad adalah seorang tua yang selalu berpikir dan gelisah di tengah masyarakat yang tak terlalu banyak gelisah. apa salahnya ketika ia berubah sudut pandang. bergerak ke sana lalu ke mari. menjadi seorang humanis, liberal, pemikir bebas, dan menyukai keterbukaan. atau di saat-saat tertentu mungkin ia akan salah langkah di tengah masyarakat yang seperti ini dan dianggap sebagai seorang musuh. berbahaya. menjual negara dan rakyat. apakah Goenawan Mohamad adalah sosok yang harus terus dituntut tanpa dimengerti dan dipahami? 

setiap orang bisa berubah. menjadi jahat dan baik setiap waktu. mengagumi pemikiran, keyakinan dan mengubah sudut pandang akan dunia, negara dan lain sebagainya dalam waktu yang bisa saja singkat. dan Goenawan Mohamad adalah sosok yang terus berubah. mengalir. bergerak. dan itulah yang membuatku sering bingung dan kadang heran. 

dia adalah salah satu sosok yang kontradiktif dalam dunia yang aku tak mengerti. dan Catatan Pinggir yang ia tulis, semacam sisi lain dari jati diri dalam dirinya yang terlalu luas aku masuki. terlalu membingungkan. terlalu banyak hal. terlalu banyak yang dipikirkan. coba diselami. direnungi. dimasuki. kadang aku berpikir, orang macam apa dia yang mau merenungi dan memikirkan terlalu banyak hal di tengah masyarakat dan bahkan komunitas sastra yang tak terlalu banyak memikirkan segala macam hal? 

akhirnya, dia hanya bisa keluar sebagai manusia yang terus disalahpahami dan membingungkan. karena sedikit orang yang berpikir dengan cara ia berpikir.

Catatan Pinggir, bagiku sendiri, adalah semacam ensiklopedia terhadap banyak hal atau jalan singkat untuk memasuki dunia yang mungkin aku abaikan tapi Goenawan Mohamad mencoba menangkapnya walau tak utuh.  dan di dalamnya ada kebimbangan, keresahan, perasaan sedih, dan keinginan untuk menyuarakan apa yang hilang dari dunia ini. dan di dalamnyalah, di tengah lautan dunia yang membingunkan dan terlalu banyak hal yang tak mudah dimengerti, Goenawan Mohamad menempuh jalan buntu. tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. ketika segala hal adalah mungkin. ketika salah dan benar bisa berada di masing-masing kubu, suku, dunia, negara, dan agama. ketika kebenaran pun terus berubah dan tak mudah digenggam. dan saat kekejaman, keburukan, dan tindakan terkeji pun bisa dilakukan siapa saja dari mereka yang mengaku dirinya baik dan mereka yang dituduh jahat. orang ini terlalu memikirkan banyak hal yang melelahkan. hingga akhirnya ia tak tahu lagi harus memihak yang mana. ia tak tahu lagi harus berdiri di sisi yang mana. dan dia pun mengambang dalam samudra luas dunia yang membingungkan ini. berada di sana. terus berada di sana. memikirkan banyak hal yang terus berubah. dan tak siap untuk mengambil kesimpulan akan dunia ini dan apa yang harus dilakukan dengan pasti. di dalam samudra itulah, dia mengambang sendirian, dan orang-orang tak perduli apa yang ia lalui.

pengalaman semacam itu, pengalaman yang paling menyakitkan, sunyi dan melelahkan, tak akan mudah untuk dimengerti oleh orang-orang yang tak terbiasa berada di dalamnya, masuk di dalamnya dan mengalaminya sendiri. dan pada akhirnya, Goenawan Mohamad akan terus menjadi mitos aneh antara dipuja dan dibenci tapi tak benar-benar dipahami dengan sedikit pasti.

sosok ini, dalam sekali waktu dianggap busuk tapi dalam sekali waktu yang lain, memberikan hampir semua dirinya untuk orang-orang yang membutuhkan bantuannya yang sedang berada dalam jurang. mungkin, hanya sosok istrinyalah, yang selama berpuluh-puluh tahun menemainya yang tahu. atau juga tak terlalu tahu? sedang aku, dan mungkin kita, hanya sekedar mencoba mengambil sedikit segala yang saling bertabrakan. pada akhirnya, terlalu sedikit. dan akan terus terlalu sedikit. manusia, atau individu, tak mudah untuk diuraikan dan dimasuki secara tuntas. selalu ada celah di sana. celah yang akan selalu gagal kita tangkap dan renungi.

akhir-akhir ini, aku mencoba untuk mengumpulkan berbagai macam buku Goenawan Mohamad. dan yang paling penting di antara semuanya adalah Catatan Pinggir. dan saat aku membuka halaman demi halaman, ada hal yang membuat aku sedih dan sendu. pada akhirnya, aku berkata pada diriku sendiri; orang ini terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tak dipikirkan orang lain. dan apa yang dibahas dari buku pertama hingga terakhirnya terlalu luas. dengan sedih aku pun berkata pada diriku sendiri; perlu waktu yang sangat lama untuk bisa memahami semua yang ia renungkan dan tuliskan. dan pengetahuanku akan dunia ini, wacana, berbagai aspek, politik, budaya, seni dan manusia terlalu sedikit. dan akhirnya, menjadi kritikus yang mencoba untuk menguraikan Goenawan Mohamad akhirnya terbelenggu pada beberapa hal; dia harus dikarunia tingkat intelektual dan wawasan yang cukup dan luas. dan kedua, dia harus sosok yang sabar dan mungkin juga obsesif dan perfeksionis, yang rela berlama-lama untuk membaca dan menakar banyak hal yang Goenawan Mohamad tulis dan pikirkan. jika tidak, pada akhirnya hanyalah mengambil apa yang sedikit tampak dan memasukkan dia dalam wadah dan steorotif yang gampangan untuk alasan-asalan tertentu.

jarang orang mengatakan dia adalah salah satu sosok pemikir dan intelektual. dia adalah intelektual. dan kita mengakui hal itu. tapi, hal itu tenggelam, karena orang terlalu sering mengatakan bahwa dia adalah penyair, esais, sastrawan, budayawan dan semacamnya. sebuah keberadaan, yang mana, di negeri ini, akhir-akhir ini, selalu diidentikan oleh sosok yang sekedar menghasilkan karya dan karya. atau terlalu sibuk memikirkan sebuah karya dari pada dunia ini beserta isinya. atau paling tidak, memikirkan dunia ini secara terbatas sebagai jalan atau proses untuk menghasilkan karya serta menyuarakan sekedar hal tertentu. berpikir terlalu kompleks dalam sastra seolah-olah dilarang. terlebih ketika menjadi intelektual atau orang yang terlalu banyak berpikir seperti Goenawan Mohamad.

pada dasarnya, aku masih tak mengerti sosok ini. tapi dari apa yang ia tulis dan renungkan, dan aku membacanya; dia adalah sosok tua yang gelisah dan selalu gelisah. melihat dunia yang terus berubah dan susah untuk ditangkap dan dimengerti ini. dari situlah, kadang aku ingin menangis ketika merenungkan orang tua ini. dan dia, adalah Goenawan Mohamad.

TIA SETIADI: ESAI-ESAI YANG SANGAT PEMALU DAN TERLALU SOPAN







tiap-tiap kali kali membaca karya sastra,
entah kenapa saya selalu merasa diri saya 
berada di pusat, dan saya bisa melihat segalanya-
bahkan seluruh kerikil yang terkandung di seluruh
bentangan sungai atau seluruh semut yang 
merangkak tekun di hutan-hutan nenek moyang.
saya curiga, selain dalam karya sastra, saya
agaknya tidak akan pernah lagi bisa melihat
pemandangan dan pertunjukkan yang abadi dan
sekejapan semacam itu.
- Tia Setiadi
  Petualangan yang Mustahil




aku tak tahu, kenapa isi dalam esai-esai Tia Setiadi, Petualangan yang Mustahil, terlalu sopan, malu-malu, dan membosankan. yang mengherankan, seluruh esai yang terkandung di dalamnya tak melangkah, sekedar duduk, seperti sosok idiot yang menggaruk-garuk kuburan orang lain ditemani burung bangkai yang menjelma jadi tukang sapu pribadi. sebagai esais atau kadang bahkan dikatakan kritikus, buku itu terlalu mirip anak kecil yang sedang mengigau tentang permen sebesar gajah. atau mungkin, penulisnya sedang berada di alam mimpi dan enggan berendam di rawa-rawa. 

esais, yang memenangkan berbagai macam penghargaan itu, pada akhirnya hanya sosok anak kecil yang tak pernah dewasa. esai-esainya pun terlalu menjengkelkan. karena sangat menjengkelkan, esai-esai di dalam buku itu mirip resensi buku atau katalog hiburan menuju taman sastra yang sudah sekarat. baiklah, kadang, aku tak mengerti, kenapa buku itu, atau esai-esai itu memenangkan berbagai penghargaan? mungkin, orang-orang yang menyeleksinya sudah terlanjur terserang kantuk atau terlanjur berubah menjadi kuda nil yang sibuk berkubang di kedalaman air. 

jika esais atau kritikus sudah sangat malu-malu, hati-hati dalam menulis esai, dan jika gaya menulisnya cenderung terkesan sopan, mungkin, kelak, burung pelatuk pun terjatuh dari ketinggian pohon. semut-semut gulung tikar. para lebah frustasi dan orang utan akhirnya bunuh diri. atau, sastra menjadi semacam toko obat dengan diskon kata-kata yang meriah. hingga membuat mabuk siapapun yang membacanya.

dan buku itu pun, nyaris berisikan sampah yang layak dibuang ke kandang babi atau sebagai pakan kuda dan ayam. seorang esais, hanya sampai sejauh itu? sebagai epigon? mirip dan sangat mirip dengan penceramah sastra yang lainnya? sungguh, dunia akan kiamat dan kakiku mulai kesemutan dibuatnya.

jika karya sastra adalah hal yang agung bagi Tia Setiadi dan membuat dunia berada di sekitarnya semakin jelas. tidakkah ia harus tahu, karya sastralah yang membuat berbagai macam perang, pembunuhan, dan tidakkah karya sastra yang membuat hutan hujan indonesia musnah? bahkan mungkin dunia. mungkin, ketika sedang menulis kata pengantar bagi dirinya sendiri, Tia Setiadi lupa menjadi beruang kutub atau sekedar onggokan bangkai katak yang tersangkut di toilet. sampai-sampai, seluruh esainya, nyaris tak ada sesuatu yang baru. penglihatan macam apa yang ia peroleh dari membaca sastra? penglihatan yang datang dari kebun binatangkah atau dari sebuah kurungan anjing dan kucing persia?

jika seluruh esais menjadi sangat pemalu dan seperti laki-laki pesolek macam itu. ah, sastra sepertinya akan sekedar menjadi kubangan pura-pura. persahabatan lebih penting dari pada ide. teman lebih berharga dari pada karya yang bebas dan baru. dan omong kosong dunia sastra terus berlanjut.

dan yang paling mengesalkan dari karya itu, nyaris tak ada sedikit pun gagasan yang muncul kecuali sekedar menerjemahkan milik orang lain. selalu memilih surut dan jika memang seperti itu, mungkin para orang gila lebih baik dari pada para sastrawan kita.

kapan ada esais yang mengagumkan muncul? apakah semua esais pada akhirnya cocok menjadi pelawak dan penghibur berita? kapan, ada esais yang tidak hanya membawa polusi bagi kata-kata dan seluruh makna dunia ini?

ah, aku tahu, mungkin hanya sampai sejauh itulah sastra kita. hanya sampai sejauh itulah esai-esai yang terkandung dalam, Petualangan yang Mustahil. dan entah kenapa, mungkin hanya sampai segitulah yang bisa dilakukan penulisnya. apakah itu juga akan jadi wabah bagi sastra Indonesia?

EKA KURNIAWAN: SEKS. HANTU. TAK JELAS DAN MEMBOSANKAN







Pujian untuk Eka Kurniawan selain yang ada disampul buku dan di dalamnya:


Eka Kurniawan, Karya yang mempesona. Sangat dianjurkan bagi mereka yang kekurangan kayu bakar untuk memasak.
-Merah naga

Lelaki Harimau. Cocok untuk menumbuhkan gairah seks anda! Bacaan wajib bagi orang bodoh. Dan bacaan untuk membuat anda terkenang lagi dengan Tusuk Jelangkung, Mak Lampir dan juga Suzanna. Tapi sangat disayangkan, tokoh-tokoh Eka tak mampu menyaingi mereka.
-Arah Lalu

Dalam karyanya, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka mampu mewujudkan ketidakmampuannya keluar dari khayalan seks dan alur cerita dipaksakan. Karya luar biasa yang menyadarkan kita bahwa Eka Kurniawan hanya bisa gitu-gitu aja.
-Lembayung Senja

Pramoedya mungkin akan menangis di dalam kubur sambil berjongkok ketika melihat Eka Kurniawan membawa karya sastra kembali ke era hantu-hantu. Karya-karya yang layak dibaca oleh bintang porno Jepang.
-Kanta Kastiri

Kehebatan Eka Kurniawan sebagai sastrawan adalah sangat mirip dengan hampir semua sastrawan modern Indonesia. Eka bahkan tak mampu menyaingi ide-ide segar para komikus/mangaka Jepang, Korea dan sebagainya. Kekagumanku pada Eka, terletak pada kenyataan bahwa Sastra kita mengalami perkembangan yang mencengangkan; jalan di tempat.
-Naga Sukma

Kelebihan Corat-coret di Toilet adalah sampulnya. Hanya itu.
-Kritikus Anonim

Aku kagum dengan para pengagum Eka Kurniawan. Terlebih para penulis dan sastrawan yang berkomentar positif dan memuji-muji karyan-karyanya. Entah di mana para kritikus kita. Karya sejelek itu dipuji oleh banyak orang. Ah, ternyata otak orang Indonesia masih nyaris belum berkembang. Mengagumkan.
-Shuu


 

Susah untuk memuji karya Eka Kurniawan kecuali orang-orang asing yang tergila-gila dengan setan dan bosan dengan rasionalisme positif. Atau makhluk bodoh yang kurang suka membaca dan menggunakan otaknya hanya kadang-kadang. Sejujurnya aku lebih suka membaca manga/komik akhir-akhir ini. Lebih banyak gagasan baru, keberanian menentang arus, dan riset yang tak kalah peliknya. Kegigihan dan suka duka para komikus/mangaka, mengingatkan aku pada kemalasan para sastrawan Indonesia modern. Terlebih Eka, hanya lima karya di usianya yang sudah tua seperti itu. Itu pun karya yang biasa-biasanya saja. Menjadi gelembung sebentar. Setelah itu menghilang.

Dalam bukunya Corat-coret di Toilet, hanya cerpen yang menjadi judul sampul itulah yang bisa dikatakan bagus. Sisanya boleh digunakan untuk bungkus nasi kucing.

Lelaki Harimau, yang banyak dipuji itu, menampilkan sosok harimau hanya di awal dan akhir cerita. Sejujurnya harimau itu gunanya untuk apa? Sekedar bonus cerita, sisipan iklan, atau sekedar untuk dimakan oleh pembaca yang gobloknya tak tertolong lagi hingga mudah untuk dibodohi.

Jujur, kalau tak terpaksa, aku malas membaca Eka. Terlalu membosankan. Alur dipaksakan dengan seenaknya. Sosok yang dipuji-puji internasional tapi sangat tak menghargai hasil pujian itu dan menganggap enteng setiap karya yang dituliskannya. Yang masih lumayan sepertinya hanya Cantik Itu Luka. Sisanya sangat tak bertanggung Jawab. Seolah-olah kita ini orang bodoh yang bisa dicekoki dengan mudahnya karena nama pengarangnya sudah besar. Dan dia, Eka, bisa menulis seenaknya sendiri dengan hasil yang sungguh, sangat mengecewakan. Sangat sekedarnya. Jalinan tokoh, psikologis, alur, dan apapun itu, terlihat sangat semrawut. Cerpen-cerpennya pun sangat biasa-biasa saja.

Dan akhirnya, sangat jelas, bahwa pembaca Indonesia kebanyakan adalah pembaca yang otaknya jalan di tempat. Minimnya kritikus sastra membuktikan itu.

Hal yang sangat jelas dari Eka Kurniawan adalah teks yang sarat seks. Apakah Eka sangat senang jika , anaknya nanti diam-diam belajar bersetubuh dari karya dirinya sendiri? dan yang perlu diketahui, Eka menempatkan sosok perempuan yang seolah mirip pelacur dihampir setiap karyanya; novel.

Sosok perempuan di karya-karya Eka bisa disetubuhi dengan mudahnya. Digilir. Digonta-ganti. Dan selalu dalam keadaan kalah atau bahkan dijadikan pemuas nafsu dalam jalan cerita yang tak jelas. Apakah Eka Kurniawan adalah sosok misoginis, dalam sebagian dirinya? Begitu mudahnya sosok perempuan dalam Eka dijamah, diperkosa, dan dijadikan bahan untuk bersenang-senang seolah-olah itu hal yang wajar dan perlu dalam karya-karyanya. Dan anehnya, perempuan dalam karya Eka pun seringkali puas disetubuhi oleh macam-macam orang!

Perempuan-perempuan dalam karya Eka mirip seperti manga/komik hentai Jepang dan film porno dari negeri sakura itu. Perempuan yang boleh disetubuhi dan menyetubuhi siapa pun asalkan dia suka dan terangsang senang. Cobalah baca karya Eka dengan sungguh-sungguh. Plot dan psikologis tokohnya tak dibangun dengan baik guna menguatkan alasan kenapa pihak perempuan sampai menjadi sangat keterlaluan mirip pelacur. Seolah-olah tokoh-tokoh perempuannya digunakan dalam karyanya untuk sekedar membuat pembaca membayangkan, atau bumbu dari karya yang sejatinya gagal. Hanya orang yang keterlaluan bodoh yang memuji berbagai karya Eka tanpa sikap kritis dan meminta penjelasan.

Di bukunya yang berjudul, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, tak ada yang menarik. Sejujurnya yang menjadi inti buku itu adalah beberapa kisah yang mirip dongeng dan berbagai macam cerita imajinasi berbagai macam hewan. Kekuatannya terletak disitu. Sedangkan, cerpen yang menjadi judul itu sangat biasa saja. Benar-benar biasa dan membuat kita ngantuk karena sangat tak jelas dan mirip cerpen yang dibuat anak sekolah dan seorang remaja.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, sangat berbau pornografis. Buku yang isinya sejujurnya bisa ditulis dalam 10-20 halaman saja. Sisanya hanya membuang-buang tempat. Penguatan latarnya juga biasa saja. Tokoh-tokohnya seperti di film silat atau laga, yang sayangnya dikerjakan secara terpaksa dan terburu-buru. Dan perempuan yang bisa dijadikan mainan oleh siapa pun. Seolah-olah novel itu bercerita; jika kamu ingin membuat seorang anak perempuan tunduk, buatlah ia merasakan nikmatnya seks sedari muda. Jadi, buku-buku Eka Kurniawan bisa dijadikan panduan bagi para pecandu seks dan anak-anak sekolahan yang sedang sibuk pacaran agar berimajinasi dengan bebas dan mungkin kelak akan melakukannya.

Eka terbukti tak mampu menulis novel dengan tokoh-tokoh yang banyak dan kompleks. Pada akhirnya dia kesusahan membangun alur, psikologis dan karakter tokoh, latar cerita, dan karya yang utuh dan tak seenaknya sendiri ditulis dengan seasal-asalnya. Itulah yang membuat karya Eka membosankan. Hanya terlihat sangat pornografi dibagian adegan mesumnya. Sangat tidak jelas. Hantu bertebaran hanya untuk sekedar sebagai sisipan antah berantah atau penutup cerita dengan cara tak bertanggung jawab dan seenaknya. Seolah-olah dengan hantu, Eka bisa dengan mudahnya menutup cerita yang berantakan. Itulah yang aku sebut tak bertanggung jawab.

Dengan kualitas asal-asalan semacam itu, hanya orang bodoh yang menganggap Eka adalah penerusnya Pram. Sejujurnya, jika Eka sangat mengagumi Pram dan tahu diri, dia akan lebih baik mengaku dan menarik semua hal hampir menyetarakan Pram dan Eka. Terlebih sebagai penulis penerus Pram. Eka, kalau dia penulis yang sadar diri, dia tak akan pernah mau untuk dijadikan sebagai penerus Pram. Karya-karyanya sangat biasa dan tak layak untuk dianggap sebagai penerus Pramoedya Ananta Toer. Soal Murakami Indonesia, entah orang bodoh mana lagi yang menuliskannya.


Catatan: aku belum membaca Cantik itu Luka. Biasa, lagi males. Takut membosankan lagi. tapi karena sudah terlanjur melakukan kritik terhadap EkA, nanti aku beli dan baca. Akhir-akhir ini aku lebih suka mengkritik ke intinya tanpa harus berbelit-belit menuliskan ulang isi cerita lagi kaya orang sinting. Aku menulis ini untuk mereka yang sudah membaca karya Eka dan bagi mereka yang mau berpikir. Yang tak suka berpikir, perduli amat. Nulis panjang-panjang intinya juga sama, ngapain? Pembaca Indonesia itu sudah sangat keterlaluan di dalam kritik sastra. Sukanya ingin didedahkan secara utuh karya orang lain. Lalu apagunanya otak kalian itu? sejujurnya lebih enak baca Webtoon dari pada membaca karya Eka. Jujur. Banyak komik indonesia yang bagus dan segar daripada novel yang lebih banyak membosankan.

Jumat, 15 April 2016

SEPERTI KECIL KAU MEMUNGIL MERAH








Pintu air mengetuk dasar yang tinggi.
Tiga waktu bicara. Warna kabut membelah ceruk.

**

Mulut yang berkelindan di kedalaman sana,
Menumbuhkan musim bagi awan yang bergerak menjauh.

**

Tangan yang tergelincir pelan,
Adalah kau di sisa malam yang abu.

**

Jam berdetak,
Jantung menarik dirinya kedalam kepompong.

**

Hisaplah aku,
Maut yang lapar.
Sisa dataran yang menguning hilang.

**

Hujan datang dan berbisik sebagai,

**

Tanah dan setangkup kaki.
Sisa nyeri di kemudian hari.

**

Pohon itu mendongengiku tentang seekor burung.
Burung kecil yang sekarat di dalam telur dan piring
yang menjamur tanpa musim dan waktu.

**

Seperti doa,
Tangan membeku di celah udara.

**

Hanya ada aku, kau dan setan mungil yang lupa membeli sebotol anggur.

**


Suara merendah, gelap, laut yang tak bernafas sama.
Fajar yang merayap di unggun kulit yang memerah.

**

Keramaian melahirkan kesunyian, yang berlari sebagai sekawanan domba.
Biarkan ia diam sejenak sebagai garis. Tipis di sisa mata.

**

Puisi adalah tuhan yang bergerak di reruntuhan bukit.
Dan seekor rusa yang berlari dari bayangan pohon yang jauh.

**

Sisakah untukku langit yang biru.
Dan aliran air yang tak lagi mendaki bukit.

**

Darah menetes, pelan, dan hidup bergerak lambat.

**

Rasa sakit itu, adalah aku yang terhenti di cermin kau.
Ikatan yang putus sebelum membenihkan ranting.

**

Seperti jurang yang mengaum keras.
Gunung-gunung bergema di lorong-lorong telinga.
Tuhan yang patah di kesakitan pulang.

**

Rumah memutih.
Rambut pun mengering.

**

Dekat yang berjarak, jauh yang mengilu.
Kau.

**

Anak kecil berjalan pelan ditumpukan mayat.
Mengigau tentang surga yang semakin mendekat.

**


Seekor kucing, burung, dan katak yang tertidur di lapisan tanah. anak anjing bertengkar dengan bayi mungil yang sedang belajar menggerakan kata. sepasangcicak menarik diri dari lampu-lampu.

**

Lihatlah kedua mataku.
Seekor singa yang tersudut oleh sekawanan hyena.
Dan burung bangkai yang setia menunggu dalam tabah.

**

Sebuah kamar, dan sebaris panjang semut.
Dan laki-laki patah hati yang tertidur sepanjang hari.

**

Mencintaimu,
Luka yang tak kusadari tumbuh di selapis tidur.

**

Dan tuhan pun tersenyum,
Seekor anak manusia mengambang di lelaut sebagai bangkai.

**

Aku menantimu, dalam waktu yang tak terhitung oleh hati.
Dan kini, tubuhku tak lagi mampu dibangunkan oleh sepi.

**

Seatap liar kau cengkram bahuku lalu.
Sepasang paru yang tertimbun oleh seduka rasa.

Dasar kaki memuncak ke atas tuli.

**

Merapal tuhan. Menjelma iblis.

**

Seorang perempuan, danau, sebuah perahu dan langit yang berkilauan.
Seperti anak kecil ia menangkap semesta di kedalaman riang.

**

Tak ada yang salah dengan engkau.
Seekor tikus mengerat di kebisuan malam.
Manusia yang tertidur menebangi hutan.

**

Kau berdiri, terpaku, ombak menggulung amuk.
Rasa takjub yang lebih perkasa dari pada sang maut.

**

Di kedalaman hutan sejati;
Surga adalah jalan yang tak ingin lagi kau lalui.
Dan tempat yang tak ingin lagi kau masuki.

**

Mendaki dan terus mendaki.
Lalu kau temukan kekosongan.
Seorang kecil yang tersesat dalam kehamaluasan.

**

Ingin aku berikan kisah ini untukmu.
Bahwa dahulu kala..

**

Kau rapatkan tubuh hingga dinding bergemeretak takut.
Kau renggangkan tangan sampai angin menggigil sayu.
Dan mata yang mencari, menusuk sebongkah tanah yang menjauhi keramaian.

**

Seandainya semut sebesar gajah.

**

Dan siang pun kembali datang.
Jatuh di selasela mimpi yang terputus.

**

Kesepian seperti lautan asin yang terdampar
di depan seorang yang terdampar.

**

Dan kini, letupan nyeri bersenandung di sudut-sudut.
Debu yang terpantul angin di kebisingan gerimis.
Daun yang menatap tanah dengan lelah dan resah.

**


Wajah yang mencuat di sela-sela batu.
Adalah aku yang tercenung dikekedapan masa.

**

Mencintaimu, kadang aku harus diam dalam kebingunganku.
Saat lepas adalah kata yang masih tak kumengerti.

**

Seekor capung mengepak sayap di kekeringan kota.
Pohon-pohon yang membisu kaku. Tak berair. Tak mengalir.

**

Tahan, biarkan kata menekan hingga masuk keluar.
Kau, yang berseteru dengan rautku.
Menantang dendam di kesumat diam.
Sudihkan kau memecah lubangku?

**


Jendela menyayat kayu. Angin datang sebagai keluh.
Lilin mengecup mata. Seorang buta yang menapaki seluruh malam.

**

Aku kembali,
Dari perjalanan panjang yang tak kumengerti.
Dimana rumah untukku kembali?

Sedaun pintu.
Atap yang beku disiksa layu.

Wajahmu, dan kenangan yang berderit sepanjang kaku.

**

Keluarga, jauh dipandang hingga hilang dari mata.
Pulau yang membentang. Rasa menguliti setiap dari kenangan.

**

Bintang-bintang mengelopak sungai.
Berlayarkah kita pada keabadian?

**

Sekarat menanti yang tak pernah terjawab.

**

Seperti kecil kau memungil merah
mata membiru di rerusuk hijau

jemari yang bergerak melayang awan
kuasa yang halus mencengkram sendu


15 april 2016