Dalam Politik Sastra, Saut Situmorang agak
sedikit tertidur ketika ia membicarakan kritik sastra. Saut menginginkan sebuah
kritik sastra yang logis, ilmiah, dan jelas menurut standar Barat. Persis
seperti itulah yang ia utarakan dalam tulisannya “Dicari: Kritikus (us) Sastra Indonesia” dan tulisan yang lainnya, “Kritik Sastra Tanpa Teori” yang
menganggap keberadaan sebuah teori sebagai semacam pendekatan dalam menelaah
dan menilai sastra, sangatlah diperlukan dan sangat penting. Tapi tunggu dulu.
Sejak kapan teori sastra bisa kita sebut ilmiah?
Mungkin kita
harus berani jujur, bahwa kritik sastra kita sebenarnya adalah kritik sastra subyektif. Yang ilmiah dan
obyektif hanyalah sekedar keberadaan samar yang tak jelas. Dan sejak kapan,
teori sastra yang kita anut dan yakini benar-benar menjadi ilmiah dan
kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan? Selama ini, kita berjalan dalam
keadaan setengah sadar dan menganggap bahwa teori sastra yang kita gunakan
untuk menelaah berbagai macam jenis karya adalah dari sumber yang sudah selesai
dan tetap atau bisa dibilang ilmiah hingga mungkin kita mengatakannya sebagai
ilmu pasti.
Cobalah suruh
Narudin Pituin untuk menelaah seluruh tradisi kritik sastra. Maka dunia dan
keyakinan dirinya akan semakin kacau. Makna yang tetap. Dunia yang tetap. Dan
keinginan untuk membuat tunggal semua hal dan mudah untuk dikategorikan akan
menjadi pengalaman paling gila dalam sejarah manusia. Sebuah kategori yang mengandaikan bahwa dunia
teori yang dipakai oleh para kritikus adalah benar tanpa ada kesalahan dan kemungkinan
lain di sana. Seolah-olah tak ada andaian atau imajinasi dan hal yang subyektif
dalam teori-teori yang digunakan sebagai alat kritik. Dan apa yang disuarakan
oleh Kajitow Elkayeni atas Narudin adalah mengurai apa yang dikejar oleh para
kritikus kita sebagai sebentuk kepastian. Dan dia mendedahkan pada kita bahwa
yang pasti telah dilalui oleh ketidakpastian dan hal yang cair. Penafsiran yang
beragam. Ah, entah kita sedang berada dalam wilayah teori yang ingin ilmiah
atau pasca-modern, kita berada dalam jalan keterpecahan.
Narudin dan juga
Kajitow sama-sama bermasalah. Begitu juga diriku sendiri. Terlebih sebagai awan
dan hampir tak tahu apa-apa seperti diriku ini. Dan dari situlah kritik sastra
semakin bermasalah dan membingungkan. Atau pada dasarnya kita semua adalah
bagian dari dunia yang membingungkan?
Kita semua
seolah berada dalam ketegangan antara kepastian dan ketidakpastian atau
keserbamungkinan. Dan kita mungkin akan remuk di dalam tegangan itu. Atau pada
akhirnya, berdiri bimbang sebagai penerus Goenawan Mohamad yang tak tahu lagi
harus berjalan ke arah mana. Segala macamnya buntu atau serba mungkin.
Semua kritik
sastra yang kita percayai bermula dari hal yang meragukan dan belumlah final.
Bahkan banyak kesalahan dan ketidakjelasan di sana-sini. Jadi, para kritikus
dan kita sebagai awam, menggunakan dengan keyakinan aneh, bahwa teori sastra
yang kita gunakan untuk menelaah dan mengurai, adalah hasil dari sebentuk
kejelasan final dan tetap.
Semua kritik
sastra adalah subyektif. Sebaik apapun dan sedekat apapun kritik itu mencoba
menggali dan terus menggali. Pada dasarnya, kita semua berpegang pada pedoman
yang rapuh atau bahkan seringkali salah.
Sejak kapan
psikologi benar-benar menjadi ilmiah? Bahwa pakar dan ahli psikolog serta para
psikolog sendiri berada dalam jalan yang saling bertentangan mengenai status
keilmuan dan pedekatan mereka dan apa yang mereka percayai. Tak ada yang final
dalam psikologi. Bahkan semakin terpecah dan membingungkan. Terlalu banyak
aliran. Terlalu banyak keterpecahan. Terlalu banyak politik kekuasaan untuk
mengklaim lebih benar antara aliran satu dan lainnya. Ketidaksepakatan terhadap
teori dan gagasan yang lainnya. Bahkan para psikolog saling bermusuhan dan tak
mau mendengarkan dan menerima logika, temuan dan sudut pandang yang lainnya.
Psikitari, saudara dekat Psikologi, mengalami hal yang sama. Bahkan gerakan
Anti Psikiatri dan kasus terkenal Sybil dan Billy Miligan sudah menjadi umum
mengenai krisis kesepakatan bersama di kalangan psikolog dan psikitari mengenai
apa yang harus mereka terima, sepakati, dan percayai. Lalu, ketika para
psikolog dan psikitari sendiri pun bermasalah dengan tradisi mereka sendiri,
apa para kritikus sastra masih yakin dan percaya diri menggunakan teori
berbasis psikologi. Tidakkah para kritikus sastra adalah mereka yang bukan
ilmuwan dan kebanyakan hanya sekedar meminjam hasil dari orang lain, dan
anehnya dengan kepercayaan diri yang membuta?
Masihkah para
mahasiswa, dosen, hingga kritikus sastra menyandarkan diri pada psikonalisis
yang banyak bermasalah dan mengandung banyak hal yang sangat subyektif dan
kepura-puraan di sana-sini. Sejarah psikologi dan juga psikiatri adalah sejarah
yang tak lengkap dan banyak hal yang ditutupi dan disimpangkan. Sehingga,
psikologi sendiri susah untuk dijadikan tempat bersandar. Terlebih
psikoanalisis. Dan yang membuat heran, kemana aliran psikologi yang lainnya?
Kenapa nyaris tak dimasukkan dalam tradisi besar kritik sastra?
Dan sejak kapan
feminisme berlandaskan hal yang sangat ilmiah dan mudah untuk dipertanggung
jawabkan secara keilmuan? Tidakkah feminisme lebih bertumpu pada sisi subyektif
seorang perempuan yang merasa, mendengar, mengamati, dan mengalami? Feminisme
berdiri diantara jalinan emosional dan
fakta atau kenyataan. Bahkan feminisme adalah keberadaan yang lebih sangat rapuh
dari pada psikologi yang didasari atas tradisi besar sains positivis. Tidakkah
banyak tulisan feminis sangat emosional dan bertumpu pada pengalaman kehidupan
mereka sendiri atau apa yang mereka amati di sekitar mereka? Hingga pada
akhirnya, muncullah banyak aliran dan saling ketidaksepakatan di kalangan
mereka sendiri. Dan tidakkah itu menandakan ada celah di situ. Bahwa feminisme,
terlebih tulisan para feminis, terjatuh pada kesalahan sudut pandang dan
kesadaran yang mungkin bukan asli atau ilusi. Sehinggga seorang feminis dari
aliran tertentu menganggap feminis dari aliran lain salah, memiliki kesadaran
palsu dan buruk, atau tak memahami dan menutup mata dari kenyataan yang
sebenarnya.
Apa jadinya,
jika kritikus sastra yang sejatinya lebih banyak sebagai pengumpul rempah-rempah
hasil kerja orang lain, menganggap bahwa teori sastra adalah final, benar,
tetap, tak berubah dan bahkan harus mutlak dipercayai? Dan memakainya untuk
memaksa orang lain mengikuti kehendaknya yang berasal dari sumber yang sudah
cacat dan susah untuk diyakini bersama.
Mari kita akui
bersama, sejak kapan Marxisme adalah kebenaran mutlak? Lalu kenapa ada begitu
banyak sempalan dari Marxisme dengan masing-masing sudut pandang kepercayaan
mereka sendiri? Kenapa dalam tradisi kritik kita menganggap penting Marxisme
bukannya Kapitalisme atau Liberalisme yang telah membangun peradaban dunia
modern dengan Komputer, Internet, Handphone, Listrik, hingga makanan dan celana
dalam kita? Kenapa kita begitu tergila-gila dengan logika Marxisme dalam kritik
sastra kita dan tak mau mengakui bahwa Kapitalisme telah menjadi bagian hidup
diri diri kita dan membentangkan banyak sekali penemu dan ilmuwan penting yang
hasilnya kita nikmati bersama; paling mudah Facebook? Itu pertanyaan
tersendiri. Yang jelas, Marxisme lebih sangat rapuh lagi dari yang lainnya.
Kenapa harus Ekonomi bukannya agama atau yang bersifat psikologis? Kenapa harus
kelas bukannya identitas yang menjadi dasar saling berseteru? Apakah pada
dasarnya dunia kita sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan atau bersifat cukup
bebas layaknya seorang eksistensialis atau malah ditentukan oleh Tuhan yang
jauh? Mana yang lebih benar, Marx, Engels, Stalin, Lenin, Rosa, Lucas,
Gramschi, Althusser dan banyak lainnya? Tidakkah itu berarti sangat subyektif
karena masing-masing penganut Marx tidak sepakat secara penuh? Lalu kenapa para
kritikus kita dengan sangat yakin dengan teori dan hasil telaahnya? Yah,
entahlah, silahkan kalian berpikir sendiri-sendiri mengenai hal ini.
Bahkan landasan
Marx yang sangat materialis itu mungkin akan banyak disangkal oleh orang
lainnya. Dan siapa yang masih bisa berkicau tentang kebenaran dalam sejarah
yang utuh? Sedangkan fondasi bangunan dia yang bernada Darwinisme, akan susah
dikatakan ilmiah ketika Richard Dawkins pun kesusahan untuk meyakinkan semua
orang bahwa Darwin benar dan sudah tak perlu diragukan lagi. Bahkan para
pengikut Darwin pun berbeda pendapat dan terbuka untuk berubah jika pengetahuan
dan fakta baru muncul di lapangan. Apakah ada kritikus sastra di Indonesia yang
rela mengakui kesalahannya dan berani melangkah layaknya para ilmuwan lainnya,
di depan publik, meminta maaf atau mengubah sudut pandangnya terhadap dunia dan
dengan bijaksana mengakui keunggulan dan kebenaran lawannya? Aku bukan pengamat
sastra yang serius. Aku tak begitu tahu. Aku hanya sekedar jarang melihatnya.
Jika kalian lebih tahu, tolong direnungkan dan dipikirkan sendiri. Kalau bisa
dituliskan agar aku sendiri tahu dan mendapatkan wawasan akan hal itu.
Lalu bagaimana
dengan New Historicism, Materialisme Kultural, Dekonstruksi, Posmodern,
Strukturalisme, Poskolonial hingga kritik Gay dan Lesbian atau Kritik Baru dan
kritik sastra yang bersandarkan pada keklasikan dan kekunoan yang akhir-akhir
ini mencuat?
Tak ada di
antara sekian banyak tradisi kritik itu yang benar-benar ilmiah. Mantab. Bisa
dipertanggung jawabkan secara menyeluruh. Memiliki kebenaran yang utuh. Dan tak
terhindar dari subyektifitas. Lalu, masihkkah kita memuja tinggi teori sastra yang
selama ini sebagai suatu pendekatan yang absah dan layak dipertanggung
jawabkan? Atau anehnya, diyakini kebenarannya? Itulah masalah utama di jantung
humaniora.
Aku tak bisa
membahas semua teori itu di sini. Aku sedang lapar. Jadi saat aku menulis ini,
aku benar-benar sedang ingin makan dan belum mandi. Karena aku bukan penulis
yang baik, tak begitu tahu banyak sastra dan kritik sastra, aku serahkan saja
pengandainya ini terhadap masing-masing dari kalian.
Dan tidakkah
sudah saatnya kita menamai ulang tradisi kritik sastra kita sebagai kritik
sastra subyektif? Dan lebih baik secara serius mengakui bahwa kita melandaskan
tradisi kritik selama ini kepada pengalaman kita, pengetahuan kita, wawasan
kita, apa yang kita baca, sudut pandang kita terhadap dunia, kepercayaan moral
kita, agama atau keyakinan kita, sikap politik kita, apa yang kita inginkan dan
banyak lainnya. Bahkan ketika kita
sedang menggunakan teori sastra sekalipun. Teori sastra yang pada dasarnya
sangat membingungkan, berada di antara fakta dan pengalaman, tengangan antara
obyektif dan subyektif, yang nilai kebenaran sangat tak final dan bahkan banyak
kesalahan di sana-sini yang anehnya tak kita koreksi dengan baik dan
membuangnya dari tradisi kritik kita. Mana yang sudah tak berlaku dan mana yang
masih mungkin. Dan perdebatan sastra terus berlanjut di tengah kerapuhan dan
keterpecahan kita. Yang mana, sayangnya, kritik sastra bukan teks suci hasil
dari yang jauh. Tapi manusia yang bisa saja salah dan memang sering salah.
tidakkah teks suci pun sering dipermasalahkan? Apakah kita ingin menganggap teori
sastra layaknya kitab suci agama-agama?
Para kritikus
sastra kita, jika benar-benar ingin menjadi kritikus berdasarkan teori, harus
berani dulu memandang ke belakang. Menguji seluruh landasan dasar teori mereka
sendiri. Apa yang salah di sana. Dan apa yang layak dibuang dan sudah tak lagi
diyakini dan kemungkinan salahnya besar dan sudah tak mampu lagi menjawab ini
dan itu. Atau mungkin kita tak terbiasa dengan gagasan semacam ini. Dan
menganggap apa yang sudah ada, sebagai benar tanpa harus dipikrikan ulang. Jika
para kritikus sastra sudah seperti itu, lalu apa jadinya dengan dosen sastra,
guru sastra, dan mahasiswa sastra yang ketika skripsi dianjurkan jangan yang
susah-susah dan kalau bisa jangan aneh-aneh. Ikuti saja teori dan tradisi
kritik yang sudah ada. Yang kemungkinan salah itu, dan selesai.
Dan apa yang
selama ini diandaikan oleh Saut Situmorang, mengalami dua bentuk kegagalan.
Kritik sastra dilandasi oleh pengalaman dan pengetahuan subyektif masing-masing
para teoritikusnya yang belum selesai dan kebenarannya susah untuk diakui
bersama. Jika Saut menginginkan sebuah kritik sastra yang ilmiah, sejak awal
hal semacam itu nyaris tak mungkin. Landasan kritik sastra bukanlah seperti apa
yang dipegang oleh para geolog, ahli biologi, fisika, kimia, matematika atau
para astronom. Landasan kritik sastra lebih bersifat humaniora dan jauh lebih
rapuh dari pada sains yang banyak dianggap rapuh jika menyangkut beberapa hal
penting dalam kehidupan kita. Lalu, apakah teori penting? Penting, asal tidak
kita anggap benar secara keseluruhan. Dan jika kita sedikit cerdas, kita bisa
memilahnya. Mana yang sudah kadaluarsa dan mana yang masih layak dan mungkin.
Dan Saut tak bisa memaksa lagi kepada kita bahwa teori Barat itu sudah utuh dan
layak. Kecuali sebagai kemungkinan untuk telaah dan bagaimana kita memandang
dunia ini. Dan pada akhirnya, Saut pun terlalu emosional dalam setiap debatnya.
Yah, keinginan untuk benar-benar obyektif dan profesional layaknya pekerja
kantoran yang kaku itu pun susah untuk dia sendiri jalankan. Bahkan tidakkah
Saut sendiri seringkali mengumpat? Apakah mengumpat adalah salah satu dari
sekian banyak pendekatan ilmiah dan laku obyektif?
Tapi, Saut
Situmorang adalah sedikit kewarasan yang susah ditemukan. Menjadi sedikit
melenceng dari garis umum sastra Indonesia berarti jalan menuju sakit jiwa,
keterasingan, dan mungkin bunuh diri sosial atau bahkan bunuh diri fisik. Apa
yang dilakukan dirinya dalam sastra Indonesia, layak aku beri tepuk tangan.
Walau kita juga harus mau mengakui banyaknya ketidaksinambungan dari apa yang
Saut koarkan dan kenyataan dirinya sendiri. semisal, adakah pendukung Saut
berani melakukan kritik nyata dan obyektif terhadap karya dan diri Saut
sendiri? ataukah berlindung di bawah kebesaran Saut dan takut jika nanti akan
menyinggung dirinya?
Pada akhirnya,
sastra kita selalu mandul jika berkaitan dengan orang yang kita kenal dan
anggap sebagai teman, guru, dosen, dan yang kita kagumi. Dalam tahap ini,
mendadak otak kita beku. Kita tiba-tiba menjadi penakut. Menjadi penipu.
Berpura-pura. Dan jadilah apa yag hari ini kita sebut sastra Indonesia.
Aku selalu
memberi tepuk tangan bagi mereka yang mau menulis. Entah sebagai sastrawan,
penyair, esais atau penulis naskah dan lainnya. Karena tulisan adalah sebagian
dari jejak mental, psikologis, agama, keyakinan, sudut pandang akan dunia,
identitas dan rekam sebagian dari diri seseorang. Maka, kegiatan menulis adalah
semacam kegiatan menelanjangi diri sendiri di muka umum. Sepandai apa pun
seorang penulis itu ingin menyamarkan dirinya dan mengelak dari bahasa. Dan berpolemik panjang serta melakukan laku kritik
adalah kegiatan yang benar-benar sangat beresiko. Sehingga sedikit orang yang
mau melakukannya.
Sehingga,
seketerlaluannya Saut Situmorang, aku akan tetap memberikan tepuk tangan dan
hormat kepada dia dari pada mereka yang selalu bersembunyi dan menghakimi
seenaknya tanpa mau untuk menulis dan membuka pikirannya terhadap orang lain
secara luas. Aku akan tetap memberikan salut kepada Narudin Putin karena
keberaniannya mendedahkan dirinya sendiri. Walau kadang ia sangat tak
menyenangkan bagi sebagian orang dan susah untuk dikritik. Setidaknya Narudin
Pituin, telah menuliskan pikirannya yang akan mudah untuk dinilai, dihakimi,
dan ditelaah orang lain. Suatu bentuk penelanjangan diri yang tak berani
dilakukan orang lain. Hal semacam ini berlaku dengan Goenawan Mohamad, Binhad
Nurrohmat, Maman S Mahayana, Katrin Bandel dan lain sebagainya. Entah mereka
adalah esais atau mengaku dirinya kritikus sastra. Dalam tulisan mereka, entah
yang tak mau mengakui atau menghindar, atau hal-hal lainnya. Setidaknya mereka
menuliskan pikirannya dan aku, juga kalian, bisa menelaahnya dan mungkin
menemukan sesuatu yang lain. Entah kedangkalan, sikap hati-hati, kesalahan
dasar ilmu, atau sudut pandang yang tak sesuai.
Dengan gairah
membaca hanya 0,01 persen, menurut UNESCO, bagi masyarakat yang memiliki
penduduk yang sangat besar ini, adanya mereka yang memelencengkan diri untuk
menulis karya sastra, patut kita beri penghargaan dan kita akan tetap menilai
sejauh mana karya itu, dan tak serta merta membiarkannya begitu saja seperti
karya populer yang dipuja-puja tanpa sikap kritis yang berarti. Di masyarakat
yang sedikit sekali membaca dengan rata-rata pertahun hanya satu buku bagi
masyoritas penduduk. Melihat seorang kritikus, seolah-olah sedang melihat orang
gila yang sedang menjerumuskan diri dalam kegilaan total. Siapa yang tak gila
jika ia bersedia mati secara sosial, keuangan, dan banyak hal lainnya? Para
sastrawan lebih mudah menyembunyikan kebusukan dan wajah pura-puranya terhadap
dunia dan hanya sekedar fokus menghasilkan karya. Dan mereka juga akan lebih
mudah diterima orang secara sosial; baik penggemar maupun teman sesama
sastrawan. Dan uang masih akan mudah mengalir dalan kantong mereka. Bagaimana
dengan Kritikus? Keberadaan yang nyaris tak menyenangkan, mudah dibenci,
dimusuhi, dan penghasilan yang mungkin lebih susah dari pada seorang sastrawan
yang menghindari diri dari polemik. Itulah sebabnya, ada seorang yang mau
bersusah payak di lajur kritik sastra adalah bagaikan melihat orang yang sedang
ingin bunuh diri.
Sastra kita
adalah sastra pertemanan. Sastra berkubu. Sastra saling pura-pura. Sastra
kebohongan. Sastra kedamaian dan memilih ikatan sosial dari pada kebenaran.
Sastra yang menghamba. Berpatron. Sastra yang memilih ketenaran dan uang dari
pada sastra yang berani mengakui kekurangan diri sendiri. Entah dalam puisi
sang penyair. Novel sang novelis. Esai sang esais atau kritik dari sang
kritikus. Dan sastra yang hampir segala sesuatunya kita pinjam dari Barat dan
orang lain. Dari mulai sejarah negara kita yang ditulis oleh orang lain. Hingga
teori dan para sastrawan kita yang mengarakan dirinya pada Barat dan peradaban
lainnya. Apakah meminjam dan menggunakan apa yang dicptakan dan ditemukan oleh
Barat tidak diperbolehkan? Sangat diperbolehkan. Asalkan kita sadar dan tahu
diri. Dan mau mengakui apa yang kurang dan cacat dari kita.
Lalu apakah tak
ada sastrawan, penyair, kritikus dan lain sebagainya yang tak terlalu
berpura-pura, terlalu menjadi penakut dan hidupnya hanya sekedar untuk berkubu
dan berbohong. Yang jelas, masih ada. Tapi kecenderungan hari ini adalah sastra
yang penakut dan berkubu. Sastrawan dan kritikus yang tak berani mengakui
kesalahan dan kekurangan dalam diri sendiri. Mungkin aku menyimpulkan hal yang
terlalu gegabah. Karena pada dasarnya aku bukan penulis yang baik. Aku serahkan
hal ini kepada mereka yang berada dalam jalan menjadi seorang peneliti.
Dan mari kita
juga akui, tidakkah lebih banyak orang yang sangat tak terhormat ada di luar
sana? Yang kadang keberadaannya sangat menyebalkan. Mereka ini, yang sama
sekali tidak menulis, lebih tepatnya konsumen yang kerjanya hanya sekedar
berkomentar seadanya di jejaring maya, mengutuk sumpahi sastrawan, kritikus dan
lainnya sebagainya tapi tanpa mampu menampakkan diri dengan sikap yang layak
dipuji, yang memenuhi hampir semua ruang sosial yang ada, masihkah kita
menghargai orang-orang ini? Orang-orang yang bersembunyi tapi melemparkan suara
yang keras dan kadang sangat mengerikan. Suruhlah orang ini menulis sebuah
esai, sedikit kritik atau karya. Maka kebanyakan dari mereka akan mundur,
berpikir panjang atau bahkan menghilang dan mengindari tantangan. Karena
menulis sama dengan menelanjangi diri sendiri. Menyodorkan batasan apa yang ia
ketahui, miliki, dan sejauh mana bacaan yang ia resapi. Maka, polemik secara
sadar dan akan dilihat banyak orang, hanya akan dilakukan oleh mereka yang
bermental kuat, berani mengakui kesalahan, atau yang cukup bijaksana dan kurang
ajar. Tidakkah sedikit orang yang berani berpolemik atau mengakui kekurangan
dan kesalahannya di depan umum?
Jumlah kritikus
itu sedikit dan hampir punah. Dan apa yang ada di dalam kritik sastra pun
semakin membingungkan. Lalu, di dalam sana, di jantung sastra kita, ada
keterpecahan, saling memaki, menghina, ketidakbersamaan, tak berani bersikap
jujur dan adil, sikap berkubu dan mengamba, lalu sikap pragmatisme yang sudah
berurat akar di sebagian kalangan sastrawan dan kritikus. Laluapa jadinya, jika
tiba-tiba kita di invasi oleh negara asing kembali di saat kita sendiri sedang
bermasalah? Di saat banyak dari kita adalah oportunis dan mereka yang pengecut?
Bagaimana nasib kita kelak jika perang besar tiba-tiba mampir di rumah kita
yang hari ini?
Jika dalam tubuh
kesusatraan kita saja seperti itu. Bagaimana dengan mereka yang hanya sekedar
mengacu pada ekonomi, status sosial, identitas agama, suku, bahasa, bahkan
sikap politik dan keyakinan terhadap idelogi tertentu? Mari kita berpikir ualng
terhadap dunia yang hari ini kita tinggali. Dan sastra, hanyalah cermin kecil
dari apa yang terjadi di gedung DPR hingga apa yang ada di pasar tradisonal
setiap hari.



