Kematianlah yang membuat dunia
ini stabil, pikirnya.
Memberikan pupuk bagi tetumbuhan.
Memberikan ruang dan makanan bagi yang lainnya.
Kematianlah yang menyeimbangkan
segalanya. Para tiran yang dianggap kejam entah menagapa lebih tahu akan hal
ini. Mereka nabi-nabi yang dikutuk dan tak diakui. Jika seluruh kehidupan hidup
dan terus hidup lebih lama lagi. Tak akan ada yang mampu menyeleseikan masalah
mengenai beban kehidupan yang disakralkan itu.
Dia mendongok ke langit. Arah
angin berbelok. Menampar lembut kedua pipinya. Di kejauhan, di batas cakrawala,
beberapa ekor bangau mengepakkan sayapnya dalam warna hitam titik-titik. Anak
itu masih merenung. Sendirian. Seperti biasanya. Debur ombak dan gesekan
batu-batu sesekali beradu. Di tangannya terdapat sebuah buku. Terkadang ia
menundukkan kepalanya. Memasukkan isi buku itu ke dalam kepala dan
imajinasinya.
Dunia sudah semakin membosankan,
pikir anak itu. Bahkan alam pun tak lagi menarik di hadapannya.
Aku tak lagi peduli jika semua
orang mati di depanku. Teriaknya dalam hati.
Anak itu tahu. Dan sangat tahu. Bahwa
jika seluruh manusia mati, dia tak akan kehilangan apa-apa. Sama halnya saat
dirinya mati. Sejak awal dia sudah sendirian. Semua orang memandang dirinya
sebelah mata. Tak pernah menganggap keberadaannya. Tak pernah menolong
kehidupannya. Dan kali ini dirinya
berpikir, apa gunanya manusia bagiku?
Ah, desahnya. Mungkin manusia
diciptakan sebagai pupuk tetumbuhan liar dan alam.
Mungkin itu lebih baik. Dari pada
mereka tak berguna sama sekali, imbuhnya.
Dilemparkannya sorot matanya di
kejauhan langit. Hujan?
Langit bergumpal pertanda akan
segera turun hujan. Dan tetes demi tetes butiran air menghantam kulitnya.
Gerimis. Waktunya untuk pergi. Akan ada badai besar malam ini.

