Selasa, 23 Agustus 2016

KETIKA TUHAN AKHIRNYA TERBANGUN








Tuhan menguap. pada akhirnya ia pun terbangun.
kepalanya terasa berat. pusing. kilasan mimpi terngiang di kepalanya.
ia pun memanggil Gabriel.

hai Gabriel, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu. 
aku berubah pikiran. aku ingin kau memindahkan semua penghuni surga ke neraka paling dalam tanpa harus bertanya mengapa. pindahkan mereka semua tanpa pilih-pilih.

apa maksud Engkau, wahai yang menciptakan segalanya? 
bahkan para nabi dan orang bijak yang telah kau sayangi dan janjikan? 
sekarang? 

iya. mereka semua. 
masukkan mereka semua ke nerakaku. 
sekarang! 

tapi, tidakkah itu melanggar janji yang telah Engkau buat? kepala Gabriel menunduk sebagai tanda bahwa ia lebih rendah dari diriNya dan sedang menunggu penjelasan. 

mereka semua hanya mencintai surgaku. hanya itu yang mereka inginkan. merendahkan diri. bergerombol seperti domba yang memuakkan. tidakkah selama ini aku telah menciptakan apa yang telah menyakiti diriku sendiri? dan aku ingin tahu, apakah ketika surga tidak ada lagi setelah mereka mati dan merasa berbuat baik di dunia, masihkah mereka mencintaiku? memujaku atau sedikit mencoba mengerti diriku ini?

akan aku hapus surga mulai sekarang. biarlah hanya neraka yang masih ada untuk mereka semua. dan jangan bantah aku lagi seperti saat aku menciptakan Adam beberapa waktu yang lalu. tidakkah kau mengerti Gabriel? aku menciptakan dirimu, manusia, iblis, dan semua makhluk di dunia ini, apakah kau tahu alasannya? 

Gabriel menggeleng. tidak Tuhanku. tidak. 

ah, kau tak perlu mengetahuinya saat ini. tugasmu hanyalah mematuhi apa yang aku perintahkan padamu. dan lihatlah, surga hanya membuat diriku semakin ditinggalkan dan tak dimengerti bukan? 

Gabriel diam mematung. di dalam hatinya, ada gejolak hebat yang tidak ia mengerti.

apakah kau tidak setuju denganku wahai malaikatku yang paling setia dan aku cintai?

tidak Tuhanku. tidak. tapi, di mana aku akan tinggal jika nanti Engkau hapus surga yang jadi tempatku bernaung?

itu mudah Gabriel, itu mudah. jangan cemaskan hal semacam itu. 
baiklah, sudah cukup percakapan kita hari ini. masukkan semua makhluk yang kini berada di dalam surga ke dalam nerakaku sekarang juga. dan jangan terlalu banyak bertanya dan berpikir. oh ya, jika mereka nanti bertanya kepadamu mengenai alasan kenapa aku memindahkan mereka ke nerakaku. jawablah, aku tak tahu. aku hanya diperintahkan untuk hal ini. hanya Dialah yang tahu semua yang ada di alam semesta ini. pergilah.

tapi.. tapi Tuhanku ..

apa lagi yang ingin kau tegaskan? 

Muhamad. apakah Muhamad kekasihmu akan juga Engkau masukkan ke dalam nerakaMu? beserta para nabi lainnya?

ya, masukkan Muhamad dan seluruh pengikutnya ke dalam nerakaku yang paling dalam dari yang terdalam beserta Yesus dan seluruh pengikutnya. begitu juga Moses, Solomon, Abraham, dan seluruh nabi dan umat yang mengikuti mereka. jangan sisakan satu pun makhluk hidup di dalam surgaku. ingat itu Gabriel. jangan sisakan satu pun. camkan itu. kau tahu apa akibatnya jika kau melawan dan tak menaati apa yang kali ini aku perintahkan kepadamu bukan?

Gabriel mengangguk. 

sebelum kau pergi, kabarkan kepada seluruh penghuni surga dan semua yang ada di duniaku. bahwa aku telah mengubah apa yang selama ini aku janjikan dan jadikan hukum. sekarang, ingatlah ini Gaberiel, semua orang yang berbuat baik dan semua makhluk yang berbelas kasihan, mereka semua akan menghuni nerakaku yang paling dalam. dan berikanlah kabar pada mereka, semua makhluk, bahwa aku akan mengirimkan seorang nabi baru untuk memutuskan apa yang telah lama aku tangguhkan mengenai nabi terakhir dan datangnya hari akhir. 

Gabriel melangkah pergi. dan sebelum sempat melangkah jauh, ia kembali dipanggil. 

panggilkan Michael untukKu. 

baik Tuhanku. 

pergilah. 

Rabu, 27 Juli 2016

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: SEORANG ANAK KECIL









Kematianlah yang membuat dunia ini stabil, pikirnya.
Memberikan pupuk bagi tetumbuhan. Memberikan ruang dan makanan bagi yang lainnya.
Kematianlah yang menyeimbangkan segalanya. Para tiran yang dianggap kejam entah menagapa lebih tahu akan hal ini. Mereka nabi-nabi yang dikutuk dan tak diakui. Jika seluruh kehidupan hidup dan terus hidup lebih lama lagi. Tak akan ada yang mampu menyeleseikan masalah mengenai beban kehidupan yang disakralkan itu.

Dia mendongok ke langit. Arah angin berbelok. Menampar lembut kedua pipinya. Di kejauhan, di batas cakrawala, beberapa ekor bangau mengepakkan sayapnya dalam warna hitam titik-titik. Anak itu masih merenung. Sendirian. Seperti biasanya. Debur ombak dan gesekan batu-batu sesekali beradu. Di tangannya terdapat sebuah buku. Terkadang ia menundukkan kepalanya. Memasukkan isi buku itu ke dalam kepala dan imajinasinya.

Dunia sudah semakin membosankan, pikir anak itu. Bahkan alam pun tak lagi menarik di hadapannya.


Aku tak lagi peduli jika semua orang mati di depanku. Teriaknya dalam hati.
Anak itu tahu. Dan sangat tahu. Bahwa jika seluruh manusia mati, dia tak akan kehilangan apa-apa. Sama halnya saat dirinya mati. Sejak awal dia sudah sendirian. Semua orang memandang dirinya sebelah mata. Tak pernah menganggap keberadaannya. Tak pernah menolong kehidupannya.  Dan kali ini dirinya berpikir, apa gunanya manusia bagiku?

Ah, desahnya. Mungkin manusia diciptakan sebagai pupuk tetumbuhan liar dan alam.
Mungkin itu lebih baik. Dari pada mereka tak berguna sama sekali, imbuhnya.

Dilemparkannya sorot matanya di kejauhan langit. Hujan?
Langit bergumpal pertanda akan segera turun hujan. Dan tetes demi tetes butiran air menghantam kulitnya. Gerimis. Waktunya untuk pergi. Akan ada badai besar malam ini.

Rabu, 20 Juli 2016

DUNIA KITA KEDAP SUARA, YA?












yang lebih jauh dari kita adalah dekat.
kedekatan yang asing.
kejauhan yang bising.

dan ujung langit menyentuh mata kita yang sendu.
tak ada teman di sana.
tak ada siapasiapa.

omong kosong merambat sebagai malam.
menidurkan hati yang sekarat.
membawa mimpi masuk ke luka yang berkarat.

dan saat mata memandang kanan dan kiri.
keliling dunia adalah kehampaan.

kita berdiri.
mematung.
tak kuasa menahan tangis.

untuk apa segala sakit ini dipertahankan demi
hidup yang kedap suara?

kita menyeka air mata.
berjalan lagi.
mengisi jantung dengan tanah yang berminyak.
dan berdoa untuk sedetik masa depan.

dan apa yang tak terlihat,
keputusasaan yang tak lagi tahu di mana akhirnya.

**

apakau kau temanku?
apakah kau adikku?
apakah kau orang tuaku?
ataukah kekasihku dan
mungkin khayalanku?

ah, kalian tak pernah ada di
saat aku terjatuh dan sakit.

kalian hanya bayang-bayang
yang menyengat di tembok lalu
lenyap saat cahaya meredup
dan semua tinggal kotoran yang
membeku dingin
berdebu.

**

hai, aku di sini.
kau, kemarilah. datanglah.
ada apa?
kenapa diam saja?
bicaralah.
aku di sini.
apa kau masih tak melihatku?
hai, halo.
aku di sini. di sini.
kenapa matamu jatuh ke sana?
aku di depanmu.
tidakkah kau melihatnya?
dan bibirmu bergerak-gerak
semakin jauh.
menjauhiku.
suaramu tak terdengar lagi.
aku di depanmu.
tepat.
tak jauh.
hai. aku di sini.
apa aku tak terlihat bagimu?
hai. halo. hai. hai.
kau malah pergi.
meninggalkanku begitu saja.
terus seperti itu.
selalu.
tak berubah.

**

berteriaklah minta tolong,
yang datang hanya gema kesunyian.
dan ketika matamu akhirnya sedikit berembun.
tertawalah. selalu.
kutuki dirimu sendiri dengan sedikit kegilaan.

**

dunia kita kedap suara, ya?
benarkah?
iya.
kemarin aku menjerit dan bunuh diri.
tak ada yang mendengarku.
hebat bukan?
iya. memang hebat!
dan seandainya kamu berteriak-teriak
pun tak akan ada yang menggubrismu.
semua orang sudah tak lagi bertelinga.
hati mereka sudah dimakamkan beramai-ramai.
yakinlah, jikalau kau meloncat dari atas gedung
lantai 79 yang di bawahnya ramai dengan
orang dan orang, mereka tak akan melihatmu.
kau bisa mengeraskan suaramu dengan pengeras
suara hingga mencapai jarak 500 mil.
dan kau pun tergeletak sendirian.
orang-orang mungkin sedikit menoleh kepadamu.
lalu berjalan lagi.
dan benarkan,
dunia kita kedap suara, ya?

Rabu, 22 Juni 2016

APAKAH SEORANG AUTIS DAN DISLEKSIA DILARANG MENULIS SASTRA INDONESIA?












ada hal yang aneh dalam sastra Indonesia, yang mungkin selama ini nyaris tak diperhatikan dan seolah dianggap di luar dari kaidah umum dan logika berpikir dan berperasaan di kalangan sastra modern kita. dan akhirnya, aku tergelitik ketika membaca pertanggungjawaban juri Dewan Kesenian Jakarta mengenai Sayembara Manuskrip Buku Puisi;
Seorang penulis puisi tentu saja mesti membereskan dirinya dalam hal kemampuan berbahasa tulis dengan baik. Berbagai error berbahasa, termasuk kerancuan logika, dalam banyak manuskrip jelas tidak berkaitan dengan licentia poetica. Error yang kami jumpai bahkan menyangkut perkara teknis yang sangat elementer, misalnya ejaan dan tata tulis. Sekadar contoh, masih banyak yang tidak dapat membedakan awalan di- dengan kata depan di.
dan sebagai anak psikologi, yang sangat tertarik dengan kajian klinis atau psikologi klinis, hal semacam ini, yang sejujurnya telah menjadi sangat umum di kalangan sastrawan, penyair, kritikus dan pembaca atau akademikus sastra Indonesia, benar-benar membuat aku tertawa terbahak-bahak. bagaimana tidak? sastra Indonesia seolah-olah hanya dipersembahkan untuk orang-orang normal dalam artian psikologi atau psikiatri.  di dalam sastra Indonesia dewasa ini seolah-olah terpampang dengan jelas semacam tulisan layaknya akademi Plato zaman dulu; HANYA ORANG NORMAL DAN SADAR DENGAN TATA BAHASA DAN EJAAN YANG DISEMUPURNAKANLAH YANG BOLEH MEMASUKI RUANGAN INI, BELAJAR DAN MENULIS SASTRA INDONESIA.

dalam perdebatan, dalam polemik dan sebagainya, seringkali orang-orang, pembaca umum, terlebih mereka yang terlalu gila dengan teori sastra, gila dengan filsafat bahasa dan segala hal yang berkaitan dengannya, sangat keterlaluan anehnya dengan menganggap tata bahasa dan ejaan yang benar adalah semacam cawan suci yang layak diagungkan, disembah, dan dijaga sedemikian kuatnya. sampai-sampai banyak orang lebih suka mengurusi kekurangan tanda baca, dari mulai koma hingga kata sambung. bahkan kesalahan dalam menggunakan awalan, akhiran, dan sebagainya. seolah-olah hal ini lebih sangat penting dari yang lain-lain, semisal gagasan baru di dalamnya, narasi baru yang digunakan, atau sudut pandang yang berbeda, menarik dan tak lumrah atau hal-hal lainnya. inilah kegilaan yang selama ini nyaris jarang dibicarakan di kalangan sastrawan dan penyair kita. bahkan mungkin para kritikus itu sendiri. sedangkan sangat jelas, kebanyakan para mahasiswa sastra hanya orang-orang yang lebih suka mengekor tanpa berpikir lebih jauh sehingga akan sering terjatuh pada penghambaan yang semacam itu juga. jika terus seperti ini, sastra Indonesia akan kehilangan orang-orang hebat yang memiliki gagasan, ide, tema, bentuk atau apapun itu yang belum pernah atau mungkin layak untuk dilihat dan tindaklanjuti karena di kalangan sastrawan sendiri sangat keranjingan dengan penggunaan tata bahasa dan ejaan hanya untuk orang normal saja.

kadang aku berpikir, lah, kalau anak autis, disleksia, atau bahkan para pengidap cedera otak parah, dari mulai Amnesia, Demensia, Alzheimer dll itu, sangat tidak dianjurkan menulis sastra Indonesia karena tak becus mengurusi kata-kata dengan benar? ini berarti orang Bipolar, Skizofrenia, Borderline dan lain sebagainya yang tercakup dalam DSM 5, yang banyak di antaranya memiliki kekurangan dalam penggunaan bahasa atau penurunan kemampuan berbahasa, akan sangat disingkirkan dengan begitu mudahnya, sejenius atau secerdas apapun orang itu. tidakkah ini yang selama ini ditutup-tutupi? tidakkah ini sama dengan diskriminasi?

ketika aku melihat banyak sastrawan dunia yang sakit gila atau para ilmuwan yang mengidap segala jenis gangguan kejiwaan dan masih bisa melahirkan sesuatu yang luar biasa, melihat kecenderungan sastra Indonesia, benar-benar membuat kegilaan itu bertambah gila lagi. 

kadang aku pernah mengkhayal dan tertawa sendiri, terbahak-bahak tentunya. apajadinya jika Indonesia dipimpin dan dikuasai oleh orang buta yang menggunakan huruf braille? itu membuatku hampir sakit perut. bisa-bisa yang boleh menulis sastra Indonesia hanya mereka yang bisa menggunakan huruf braille saja. apajadinya jika anak disleksia kelak menuntut balas? bisa juga kelak dia akan membakar seluruh buku sastra bahasa Indonesia dengan ejaan dan tata letak serta huruf seperti sekarang ini dan menggantikannya dengan buku-buku yang hanya bisa dibaca dan ditulis oleh anak-anak disleksia yang bagai terbalik-balik itu. sial, sumpah, aku ingin tertawa lagi.

sastra Indonesia benar-benar konyol dan diskriminatif. sumpah, aku tak tahu lagi harus bagaimana merenungkannya. kekolotan dan penghambaan akan penggunaan tata bahasa, ejaan yang disempurnakan, dan tetek bengek bahasa orang normal, benar-benar membuat sastra Indonesia kian hari semakin menakutkan dan terlihat sangat tidak peka dan konyol.

jika kita terbiasa mengamati sebuah buku, ada buku yang terbit tahun 2014 menggunakan kata mempesona, sedangkan buku terbitan tahun 2008 atau 2001, menggunakan kata memesona. bahkan Pram di dalam Horison Esai Indonesia Kitab 1 menggunakan kata merubah dari pada mengubah. sejujurnya, banyak editor kita pun dibuat gila oleh ejaan bahasa Indonesia yang terasa mengerikan itu. dan sangat keterlaluan, jika kita terlalu sibuk mengurusi hal semacam ini dari pada beberapa hal lainnya yang ditawarkan oleh orang baru atau orang lama yang coba menawarkan gagasan baru, kecenderungan baru atau mungkin intertekstualitas yang berbeda dan menyegarkan. kesalahan tata bahasa dan ejaan masih bisa ditangani oleh segudang editor kita. sedangkan kesalahan pola pikir, seperti kecenderungan sastra Indonesia yang seolah bagaikan hanya untuk orang NORMAL itu, adalah kesalahan pikir yang sangat mengerikan yang selama ini seolah didiamkan saja.

yah, setidaknya, banyak sastrawan dan penyair kita diisi oleh orang-orang normal. dan karena keterlaluan normalnya, diikuti oleh banyak orang normal lainnya.

Jumat, 27 Mei 2016

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: AKHIR MASA DAMAI












kesalahan terbesar manusia adalah keinginannya yang paling sombong untuk menolak kenyataan dengan cara mengabaikannya berulang-ulang. menganggap dunia di sekelilingnya akan selalu sama, dalam damai, hingga lupa untuk sekedar merenung. ilusi kedamaian terbukti adalah pencapaian yang paling buruk dari sebuah masyarakat yang sejahtera atau sedang menuju dalam proses kesejahteraan. seringkali, masyarakat di dalamnya, terlebih mereka yang hidup sebagai kelas menengah-atas, meninggalkan kepala mereka untuk berpikir tentang sedikit saja masa depan. bahwa, tak pernah ada masa depan yang terus-menerus damai. dalam keadaan semacam itulah, Tiongkok mulai memainkan peran besarnya. ada satu negara di Asia Tenggara yang harus ditundukkan atau dihancurkan untuk mencapai sebuah rencana besar yang sudah digariskan. Indonesia adalah salah satu negara yang harus dipecah, diinvasi, atau dijadikan bawahan dengan cara apapun untuk mempermudah agenda yang sedang dibangun Tiongkok. negara ini adalah batu halangan terakhir untuk memantabkan diri di kawasan Asia Tenggara. dan, para petinggi dan politbiro pun tahu, Indonesia adalah negara terbodoh yang pernah mereka lihat di era  modern. tak terlalu sulit untuk mengurusi negara itu.

belum selesai






Kamis, 26 Mei 2016

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGEN: BOSHIN











dunia tak lagi berarti saat tak ada lagi orang yang penting bagimu. 

dia berjalan. tertatih. dengan sebilah pedang yang menetes, merah, buas. dia hujamkannya mata pedang itu ke tengkorak salah seorang pesakitan yang merangkak ketakutan di atas tumpukan mayat yang memutih pucat. lalu dihujamkannya tanto ke leher salah seorang lainnya hingga tak menyisakan nafas di ujung hidungnya.

salju berjatuhan dari sela-sela pepohonan. sedikit demi sedikit menutupi darah yang memerah beku dari ribuan mayat yang tergeletak di hutan Aokigahara. suasana begitu muram dan dingin. tapi dirinya tak ingin berhenti di sini.

dia kembali berjalan. terus berjalan. mencari sisa-sisa terakhir dari nafas manusia. matanya begitu liar dan kosong. wajahnya tertutupi bercak darah yang membeku. dia belum puas. sangat belum terpuaskan.

dia tak perduli dengan maksud perang ini. dia tak perduli dengan Satsuma ataupun Tokugawa. baginya, perang ini hanya berarti untuk meluapkan kemarahan dan rasa sakit yang selama ini deritanya. di dalam peranglah, semua orang layak untuk dibunuh. dan ia ingin membunuh sebanyak mungkin orang yang ia temui. ia ingin membunuh lagi dan lagi. walau itu berarti, semuanya hanyalah kekosongan dan tak lagi menghibur.

apa yang masih layak dari kehidupan seperti ini? apa yang masih layak dari kehidupanku?

dia masih berjalan. melewati mayat dan mayat. melewati berbagai baju perang yang berlumur darah. melewati berbagai jenis senjata yang tak mampu melindungi tuannya sendiri. melewati bayang-bayang pohon dan kuda-kuda yang meringkik kesakitan. matanya terus menyisir. telinganya mencari-cari suara yang paling lemah sekalipun. dia ingin mengakhiri segala kehidupan yang tak lagi berarti baginya. dia ingin membunuh semua orang tak tak lagi penting untuknya. 

katana yang ia pegang tak lagi meneteskan darah. dia ingin darah yang baru.

nafasnya tersengal-sengal. jejak kakinya pun tak lagi tegap dan seimbang. sayatan pedang melukai pahanya dan menyobek kimono yang ia pakai. tak ada rintih kesakitan. tak ada alasan untuk merasa lelah. dia terus melangkah. lagi dan lagi. mencari dan terus mencari. 




hai Shaigo, lagi apa kau ini? tanya Okubo heran.

aku hanya sedang berpikir. jawab Saiogi pelan. apa menurutmu, hidup ini layak kita jalan ini, Oku? 

heh, bicara apa kau ini! tiba-tiba Kido muncul dan menempeleng kepala Shaigo dengan sangat kerasnya. Shaigo berteriak aduh sambil mengelus-elus kepalanya, kesakitan. Kido tak mengira, ternyata ia lupa untuk meredam kepalan tangan yang ia luncurkan ke kepala kawannya itu.

sakit tahu! gerutu Shaigo marah. 

ah, sakit? Kido menyeringai senang. kau ini sih, berpikir yang tidak-tidak! apa kau mau, aku rendam otak kecilmu itu ke dalam teko milik ibuku, heh? huhu Kido bersiul pelan sehingga membuat Okubo terkekeh.

Shaigo diam membisu. kepalanya masih berdenyut-denyut nyeri. 

aku tak tahu, untuk alasan apa aku hidup di dunia ini. suara Shaigo terdengar lirih bagai tak bertenaga. 

Kido dan Okubo saling memandang. mereka semua terdiam. mereka berdua tahu, Shaigo adalah anak yatim piatu. kedua orang tuanya terbunuh dalam keributan yang terjadi beberapa tahun yang lalu oleh seorang Ronin yang tak bernama. Dan perjuangan hidup Shaigo memang sangatlah keras. Adakalanya ia menderita kesepian yang sangat ketika mengingat kedua orang tuanya. Ia ingin membunuh orang yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Ia ingin sekali membalas dendam. Mungkin setelah itu, semua akan reda. mungkin akan ada kelegaan dalam dirinya.

Shaigo bangkit berdiri. Ia pandangkan matanya ke seluruh lembah yang ada di bawahnya. Beberapa burung walet terlihat bebas di ketinggian. Dan seekor elang berputar-putar mengawasi. Wajahnya keras. Tatapan matanya begitu tajam tapi letih. Usianya masih sepuluh tahun. Dan ia sudah mulai tahu apa yang dirinya inginkan dalam hidup yang nyaris tak berarti.

Hai Kido, Oku. Apa kalian mau membantuku menemukan pembunuh kedua orang tuaku?

Kido dan Okubo mengangguk. Lalu mereka tersenyum lebar. Siaaap! Jawab mereka berdua serentak. Usia mereka tak jauh beda. Dan mereka telah menjadi teman yang tak terpisahkan sejak kecil. Shaigo tersenyum puas melihat kedua temannya itu. Ia kembali memandang lembah. Ia kembali menemukan jalan hidupnya.

Di bawah pepohonan yang tak jauh dari mereka, Tuhan mengamati, dan menyamar sebagai Amaterasu. Dan tak sabar menyaksikan masa depan mereka yang penuh darah.


Selasa, 24 Mei 2016

DI SEBUAH KOTA, KITA SEMUA MATI















Di sebuah kota, hati pun mati.
Begitu juga burung-burung.
Begitu juga tuhan kau dan aku.

Kaki yang melangkah rapuh.
Perasaan yang hilang dan rusak.
Kesedihan yang tak berujung, lagi dan lagi.

Di sebuah kota, cicak pun berhenti hidup.
Amarah yang meletup-letup.
Ketidakberartian yang begitu dingin.

Pohon-pohon yang tak lagi didatangi kupu-kupu.
Panas yang tak lagi mampu menentramkan waktu.
Kebosanan yang tak pernah mau mengaku kalah.
Dan perang yang selalu kita ciptakan bersama dalam gumam
dan kesakitan diri.

Saat kaki melangkah, seorang anak manusia harusnya mengerti.
Tak ada lagi tempat untuk berteduh.
Tak ada lagi tempat untuk berpulang.

Di dalam sebuah kota, kita semua sendirian.
Terus sendiri. Sampai entah. Sampai kapan.

Dan akhirnya, kita berpura-pura hidup.
Sejenak melupakan diri kita sendiri. Melupakan sekitar kita. Dan melupakan semuanya.
Hingga kita pun kecanduan akannya.

Di dalam sebuah kota, semua manusia adalah pembohong.
Semua orang yang kau lihat, dirimu yang ada di kaca, atau kekasih yang kau cintai sekalipun.
Dan negara yang kita tinggali, telah lama membohongi pikiran kita yang lemah.
Yang sakit. Yang takut. Yang tak mampu lagi tahu apa gunanya hidup dan bernafas.

Di dalam sebuah kota, kita semua kesepian.
Seolah semua orang telah mati. Seakan segala yang hidup tak ada lagi.

Ada yang asing di sekitarmu.
Keterputusan yang begitu mengerikan.
Kesedihan yang tak bisa lagi untuk sekedar diceritakan.
Hingga yang berarti pun tak lagi menarik.

Karena di sebuah kota, segala yang mati tak akan pernah hidup lagi.
Entah itu burung, capung, atau tuhan dan hatimu.

**


Untuk apa hidup ini dijalani?
Kita sebentar ada lalu mati tak terkira banyaknya.

Mungkin akan menyenangkan jika kita leleh diterpa matahari.
Atau menjadi batu yang lahir dari atas bukit-bukit purba.

Tak menyenangkan benar segala yang kita temui.
Kau dikutuk hidup untuk merasa tak hidup.

Sebagai titik kecil yang sekedar lalu.
Lenyap ditelan kehampaan yang tak kau mengerti mengapa.

Dan segala yang kau perbuat dan pertahankan,
Tak kan mampu menyelamatkanmu dari dinginnya warna ketiadaan.

Untuk apa waktu yang pendek ini terlalu dibanggakan,
Jika sebentar lagi kita pun mati pada akhirnya.

Terlupakan.
Tak pernah dianggap ada.
Tak berarti untuk selamanya.


**


Di sebuah dunia, kau membuka jendela atau pintu kamarmu.
Kau membuka diri. Tapi tak ada lagi yang mau membuka diri untukmu.
Semua orang tak ingin disentuh. Semua orang semakin sulit diajak bicara.

Di sebuah waktu, kau membuka dunia mayamu.
Kau pun menyapa, berkali-kali, hanya ingin mendapatkan teman dan sekedar bicara.
Tapi semua orang memilih diam. Semua orang tak ingin berteman denganmu.

Dan kau pun tak tahu, semua orang sama seperti dirimu.

Kau hanya bisa tersenyum kecut. Memandang langit atau gerak sungai yang tak lagi berisi ikan-ikan. Kau tahu, keberadaan dirimu sangat kosong dan tak berguna sedikitpun. Kau tahu. Dan orang-orang juga tahu, hidup mereka sama tak berati dan hampanya dengan dirimu. Tapi kau tak tahu.

Dan di sebuah hari yang cerah, kau memutuskan untuk berhenti di sebuah jalan.
Kau memutuskan berhenti untuk selamanya.

Dan, tak seorang pun menangisimu. Tak seorang pun merasa kehilangan.

Di sebuah dunia semacam itu, kehidupan dan kematian pun tak lagi berarti.
Orang-orang tak lagi berarti. Mayat-mayat juga tak lagi berarti.

**


Kota yang aku tinggali, membuat aku sakit.
Tahukah kau bahwa kota bisa sangat membuatmu sakit?

Kehidupan yang berhenti sebagai kehidupan.
Itulah kota yang hari ini aku kenal.

Sebenarnya tak perlu juga aku mengajarimu.
Tapi adakalanya kau tak mau tahu.
Kau tak mau untuk memikirkannya.
Kau memilih berhenti berpikir.

Tahukah kau, bahwa kota juga bisa membunuhmu?

Asap di mana-mana. Panas yang mirip seperti neraka.
Sungai yang berisikan sampah. Jalan-jalan yang sibuk dan macet.
Hewan-hewan liar yang tak lagi bisa ditemui. Trotoar yang diblokir
Pedagang kaki lima. Gedung-gedung yang kusam dan menyedihkan.
Walikota yang keburu mati sebelum sempat memenuhi janji.
Tukang parkir di sana tukang parkir di sini. Jalanan rusak bergelombang.
Sepeda motor melompat ke pedestrian dan ingin menjadi pejalan kaki juga.
Dan saat kau sedang ingin berjalan kaki, cobalah memakai helm dan juga rompi anti peluru.
Banyak teroris di sini. Juga banyak anak kecil yang bisa setiap waktu mematahkan hati.
Jika kau masih memiliki hati untuk itu. Rumah ibadah penuh dengan mobil dan mobil.
Lalu banjir, rob, gunung berapi, badai, dan pemerintah yang bisa menangkapmu tanpa
perlu minta ijin lebih dulu. Di sebuah kota, sebenarnya kau sudah gila semenjak kau baru dilahirkan.
Dan mungkin, kau sudah mati sebelum sempat kau diinginkan.

Dan kota yang aku tinggali, benar-benar membuatku merasa sakit.
Sangat sakit. Dan kau pasti juga merasakannya bukan?

Tapi kau tak mau tahu.
Kau tak mau perduli. Begitu juga dengan anak-anakmu. Cucu-cucumu.
Padahal mereka semua sakit. Sama seperti dirimu.

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: SEBELUM KEJATUHAN
















Gabriel datang di saat dirinya sedang sibuk merenung. Tentang pohon pengetahuan. Tentang makhluk baru yang bernama manusia. Tentang dirinya sendiri yang sudah bosan berada di surga. Tak ada yang menarik lagi di surga, pikirnya.

Apa maksud kedatanganmu, hai si pembawa pesan? Tanya Lucifer tanpa menoleh dan menatap Gabriel yang kikuk dan terasa aneh.

Tuhanku dan Tuhanmu, menyuruh Engkau datang di hadapanNya, wahai sang kekasih Tuhan. Jawab Gabriel lembut. Suaranya bergetar bercampur kagum. Gabriel tahu, ia kagum dengan sosok yang kini ada di hadapannya. Makhluk yang paling dekat dan paling disayangiNya. Makhluk yang paling rupawan dan cerdas dari semua penghuni surga lainnya.

Lucifer tak menjawab. Pikirannya masih mengembara dan mengandaikan banyak hal. Suara gemiricik sungai dan sepoi angin seolah membelai parasnya yang anggun dan bersinar. Burung-burung terbang rendah, menukik, lalu hinggap di puncak-puncak pohon.  Gabriel menunggu.

Untuk alasan apa Dia memanggilku?

Segala pengetahuan hanya ada padaNya.

Baiklah, beberapa saat lagi aku akan menemuiNya. Sekarang pergilah.

Gabriel mengangguk. Senang berjumpa denganmu wahai Putra Sang Fajar. Gabriel pun pergi.

Lucifer masih merenung. Kali ini tentang kenapa ia diciptakan. Kenapa ia harus terus mematuhiNya. Kenapa muncul perasaan aneh dalam dirinya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kenapa pikiran-pikirannya seolah berkembang dan menggerakkan dirinya tanpa ia bisa mencegahnya. Kenapa, inilah yang paling membuat dia merasa heran. Kenapa ia merasa tak rela makhluk baru itu diciptakan lebih baik darinya? Kenapa ada sesuatu di dalam dirinya yang merasakan sakit? Kenapa? Mengapa semua ini tiba-tiba harus ada?

Lucifer belum pernah merasakan ini sebelumnya. Ia berpikir keras mengenai dirinya sendiri berulang kali. Apakah Dia yang membuatku menjadi seperti sekarang ini? Untuk alasan apa Dia memberiku perasaan dan pikiran seperti ini? Ia gelisah sepanjang waktu. Kegelisahan yang masih belum ia mengerti dengan baik. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk bangkit dari sebongkah batu yang ia duduki. Rumput-rumput di sekitar kakinya bergoyang-goyang di terpa angin. Langit berwarna emas keperakan. Dan ranting yang jatuh di permukaan sungai, memantulkan gema yang dingin dan asing.

Baru kali ini ia merasakan kesepian dan keterasingan yang begitu menakutkan. Bahkan kicauan merdu burung-burung pun tak mampu lagi menghilangan perasaan yang asing dan semengerikan itu. Ia melangkah gontai. Ia sudah tak tahu lagi harus melakukan apa. Ia telah berada di jalan buntu. Perasaan dan pikirannya berkecamuk hebat. Dirinya tak tahu untuk alasan apa ia dipanggil kehadapanNya. Ia pun melangkah, dan berpikir, TuhanNya akan mampu menjawab hal aneh yang kini menimpa dirinya ini.  Ia masih sangat gelisah. Dan sesampainya di hadapanNya, ia ingin mendapatkan semua jawaban itu.

Apa yang telah Dia rencanakan kepadaku? Tanyanya dalam hati. Ia pun kembali melangkah.

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: ADAM PUN JATUH















Kau juga jatuh, heh? Tanya Lucifer dengan nada mengejek.

Apa maumu? Adam balik bertanya.

Yah, aku tak tahu, Tuhan macam apa yang menurunkan penderitaan bagi ciptaannya yang paling sempurna; menjatuhkanmu semengerikan ini, wahai Adam yang serupa Dia. Apa kau tak heran, heh? Lucifer berlagak bersimpati sambil mengangkat bahu dengan wajah ditekukkan ke depan.

Kaulah yang membuat kami terjatuh dalam lumpur ini, hai ular yang terkutuk!

Heh, kami? Lucifer mendadak bingung. Kami? Oh, ternyata kau juga, Eva!

Jangan berlagak bodoh kau di depan kami!  Tukas Eva dengan nada ketus dan marah.

Tolong, pergilah. Jangan ganggu kami lagi. Biarkan kami menjalani hidup kami yang baru. Pinta Adam dengan melirik Eva yang terlihat lesu dan dingin.

Baiklah, baiklah. Aku akan segera pergi, aku akan segera pergi. Tenanglah sedikit. Apa kalian tak merindukan keberadanku ini, heh? Lucifer mencoba tersenyum lebar tapi gagal. Dan itu seringkali membuatnya jengkel. Dia tidak diciptakan dengan mulut yang cukup lebar sehingga hanya senyum kecil dan keraslah yang bisa ia hasilkan selama ini. Tak terlalu buruk, pikirnya. Oh iya, aku juga sama dengankalian berdua. Aku juga salah satu yang terusir. Yah, seperti itulah Tuhanmu dan Tuhanku. Setidaknya, berbahagialah kalian tak sendirian di tanah asing ini. Apa kau masih ingin bermaksud kembali padaNya? Fufufu Lucifer memonyongkan bibirnya seperti anak kecil. Dan kau masih merindukan surga itu, heh? Dan kalian mau bersusah payah menebusnya? Apakah kalian konyol? Melihat mereka berdua semakin murung dan tak sepatah kata pun muncul dari mulut mereka, Lucifer memutuskan pergi. Ah, baiklah, aku akan pergi. Dan jika kalian nanti pada akhirnya merindukanku, panggillah aku kapan pun kalian mau. Nikmati hidup kalian! Dan lucifer pun menghilang.



Di tanah yang baru ini, segala sesuatunya serba sulit dan melelahkan. Waktu berlalu dengan segala penderitaan yang bagai tak berujung. Dunia yang mereka tinggali begitu kejam dan dingin. Sesekali mereka berpikir, apa yang salah dari kami? Apakah hanya untuk sekedar buah dari sebuah pohon, kami berdua layak mendapatkan ini? Tidakkah itu sangat kejam?

Hai Tuhanku yang Agung, seperti inikah alasan Engkau menciptakanku! Teriak Adam menatap langit.

Langit pun bergetar. Cahaya berpendar dan bergemuruh. Awan hitam menggulung disertai angin yang sangat kencang dan berderak melewati pepohonan. Adam masih di situ. Menatap jauh ke kedalaman langit. Mencoba berbicara padaNya. Mencoba menatap langsung mataNya. Tak sedikit pun ia bergerak. Tak sekejap pun ia alihkan pandangan matanya.

Dan hujan pun jatuh. Sangat deras. Membasahi semua tempat. Membasahi wajah Adam yang masih terpaku menatap langit. Membasahi seluruh tubuhnya. Membasahi lembah yang ada di bawah dirinya. Membasahi bebatuan yang ia pijak. Membasahi semak dan pepohonan. Membasahi bukit tempat ia berada.

Apakah ini alasan Engkau menciptakan aku?



Waktu pun terus berlalu. Bersama Eva, Adam menjalani kehidupannya dengan tetap berharap kelak ia akan kembali lagi ke surgaNya. Tapi entah kapan, ia pun tak tahu. Hidup tak semudah dulu. Mereka berdua harus bertahan hidup melewati segala macam kengerian dan sesuatu yang belum pernah mereka lihat dan alami. Inilah penderitaan pertama yang pernah mereka tahu dan rasakan. 

Apakah Engkau tak lagi menginginkanku? Gumam Adam di dalam hati.

Eva mengamati Adam yang terlihat sedih dan merasa hancur. Ia dekatkan dirinya ke tubuh pasangannya itu.  Api menyala terang dari retakan kayu yang berwarna merah kekuningan. Cahaya api menyinari tubuh dan wajah mereka. Dinding gua memantulkan bayangan mereka dan bergerak-gerak ketika angin mengembuskan nyala api. Langit-langit gua pun nampak runcing dan temaram. Udara malam masih begitu dingin. Sedangkan wajah Adam sama sekali tak beranjak dari kesedihannya.

Apa yang kau pikirkan, Adam? Tanya Eva pelan seraya menggenggam tangan Adam yang terasa rapuh dan tak bertenaga.

Adam diam tak menjawab. Matanya menerawang di kejauhan. Seolah-olah ia sedang berada di tempat lain. Bukan tempat di mana sekarang ia berada.

Hmm.. cobalah ceritakan padaku apa yang kau sedihkan selama ini. Tidakkah aku yang selama ini selalu bersamamu? Eva menggenggam tangan Adam semakin erat. Ia letakkan kepalanya di pundak Adam yang kokoh. Eva merasakan jari-jemari Adam tak selembut dulu. Ia tahu apa yang Adam selama ini lakukan. untuk dirinya. Untuk Adam sendiri. Untuk mereka berdua. Berburu. Mengumpulkan makanan. Membuat benda-benda dan berbagai peralatan untuk memudahkan hidup mereka. Dan mencari tempat baru dan berpindah.

Apa kau masih memikirkan perkataan si ular itu? Tanya eva sekali lagi. Dan kali ini mata Adam bergerak-gerak. Ia telah datang kembali ke dunia nyata. Adam pun memalingkan wajahnya ke Eva, mencium kening perempuan itu. Lalu ia lingkarkan tangan kirinya ke tubuh Eva. Cahaya api menyinari tubuh mereka berdua. Sesekali kelelawar terbang berputar-putar lalu bergelantungan kembali di langit-langit.

Aku tak bisa berhenti memikirkannya Eva. Aku tak bisa. Apakah inialasan Tuhan menciptakan aku? Apakah ini alasan Tuhan mengajari segala sesuatunya padaku? Suara Adam terdengar parau dan murung.

Jika dirimu berpikir seperti itu Adam, lalu, apa alasan Tuhanmu menciptakan aku? tanya Eva tajam namun tetap lembut.

Mereka berdua pun terdiam. Sangat lama. Selama waktu yang tak menentu di depan mata mereka yang memantulkan cahaya api yang semakin bergejolak. Gemeretak kayu bergema ke sudut-sudut terdalam gua. Mereka berdua pun terlelap. Sedangkan waktu terus mengalir. Bersama apa yang telah hilang. Bersama apa yang susah untuk dilupakan. Dan malam pun berganti pagi. Berputar tiada henti. Terus berputar. Dan kesedihan yang paling dalam pun bertahan, terus bertahan, di dasar hati yang tak lagi mampu menampung segala macam duka dan keterasingan.