Selasa, 24 Mei 2016

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: ADAM PUN JATUH















Kau juga jatuh, heh? Tanya Lucifer dengan nada mengejek.

Apa maumu? Adam balik bertanya.

Yah, aku tak tahu, Tuhan macam apa yang menurunkan penderitaan bagi ciptaannya yang paling sempurna; menjatuhkanmu semengerikan ini, wahai Adam yang serupa Dia. Apa kau tak heran, heh? Lucifer berlagak bersimpati sambil mengangkat bahu dengan wajah ditekukkan ke depan.

Kaulah yang membuat kami terjatuh dalam lumpur ini, hai ular yang terkutuk!

Heh, kami? Lucifer mendadak bingung. Kami? Oh, ternyata kau juga, Eva!

Jangan berlagak bodoh kau di depan kami!  Tukas Eva dengan nada ketus dan marah.

Tolong, pergilah. Jangan ganggu kami lagi. Biarkan kami menjalani hidup kami yang baru. Pinta Adam dengan melirik Eva yang terlihat lesu dan dingin.

Baiklah, baiklah. Aku akan segera pergi, aku akan segera pergi. Tenanglah sedikit. Apa kalian tak merindukan keberadanku ini, heh? Lucifer mencoba tersenyum lebar tapi gagal. Dan itu seringkali membuatnya jengkel. Dia tidak diciptakan dengan mulut yang cukup lebar sehingga hanya senyum kecil dan keraslah yang bisa ia hasilkan selama ini. Tak terlalu buruk, pikirnya. Oh iya, aku juga sama dengankalian berdua. Aku juga salah satu yang terusir. Yah, seperti itulah Tuhanmu dan Tuhanku. Setidaknya, berbahagialah kalian tak sendirian di tanah asing ini. Apa kau masih ingin bermaksud kembali padaNya? Fufufu Lucifer memonyongkan bibirnya seperti anak kecil. Dan kau masih merindukan surga itu, heh? Dan kalian mau bersusah payah menebusnya? Apakah kalian konyol? Melihat mereka berdua semakin murung dan tak sepatah kata pun muncul dari mulut mereka, Lucifer memutuskan pergi. Ah, baiklah, aku akan pergi. Dan jika kalian nanti pada akhirnya merindukanku, panggillah aku kapan pun kalian mau. Nikmati hidup kalian! Dan lucifer pun menghilang.



Di tanah yang baru ini, segala sesuatunya serba sulit dan melelahkan. Waktu berlalu dengan segala penderitaan yang bagai tak berujung. Dunia yang mereka tinggali begitu kejam dan dingin. Sesekali mereka berpikir, apa yang salah dari kami? Apakah hanya untuk sekedar buah dari sebuah pohon, kami berdua layak mendapatkan ini? Tidakkah itu sangat kejam?

Hai Tuhanku yang Agung, seperti inikah alasan Engkau menciptakanku! Teriak Adam menatap langit.

Langit pun bergetar. Cahaya berpendar dan bergemuruh. Awan hitam menggulung disertai angin yang sangat kencang dan berderak melewati pepohonan. Adam masih di situ. Menatap jauh ke kedalaman langit. Mencoba berbicara padaNya. Mencoba menatap langsung mataNya. Tak sedikit pun ia bergerak. Tak sekejap pun ia alihkan pandangan matanya.

Dan hujan pun jatuh. Sangat deras. Membasahi semua tempat. Membasahi wajah Adam yang masih terpaku menatap langit. Membasahi seluruh tubuhnya. Membasahi lembah yang ada di bawah dirinya. Membasahi bebatuan yang ia pijak. Membasahi semak dan pepohonan. Membasahi bukit tempat ia berada.

Apakah ini alasan Engkau menciptakan aku?



Waktu pun terus berlalu. Bersama Eva, Adam menjalani kehidupannya dengan tetap berharap kelak ia akan kembali lagi ke surgaNya. Tapi entah kapan, ia pun tak tahu. Hidup tak semudah dulu. Mereka berdua harus bertahan hidup melewati segala macam kengerian dan sesuatu yang belum pernah mereka lihat dan alami. Inilah penderitaan pertama yang pernah mereka tahu dan rasakan. 

Apakah Engkau tak lagi menginginkanku? Gumam Adam di dalam hati.

Eva mengamati Adam yang terlihat sedih dan merasa hancur. Ia dekatkan dirinya ke tubuh pasangannya itu.  Api menyala terang dari retakan kayu yang berwarna merah kekuningan. Cahaya api menyinari tubuh dan wajah mereka. Dinding gua memantulkan bayangan mereka dan bergerak-gerak ketika angin mengembuskan nyala api. Langit-langit gua pun nampak runcing dan temaram. Udara malam masih begitu dingin. Sedangkan wajah Adam sama sekali tak beranjak dari kesedihannya.

Apa yang kau pikirkan, Adam? Tanya Eva pelan seraya menggenggam tangan Adam yang terasa rapuh dan tak bertenaga.

Adam diam tak menjawab. Matanya menerawang di kejauhan. Seolah-olah ia sedang berada di tempat lain. Bukan tempat di mana sekarang ia berada.

Hmm.. cobalah ceritakan padaku apa yang kau sedihkan selama ini. Tidakkah aku yang selama ini selalu bersamamu? Eva menggenggam tangan Adam semakin erat. Ia letakkan kepalanya di pundak Adam yang kokoh. Eva merasakan jari-jemari Adam tak selembut dulu. Ia tahu apa yang Adam selama ini lakukan. untuk dirinya. Untuk Adam sendiri. Untuk mereka berdua. Berburu. Mengumpulkan makanan. Membuat benda-benda dan berbagai peralatan untuk memudahkan hidup mereka. Dan mencari tempat baru dan berpindah.

Apa kau masih memikirkan perkataan si ular itu? Tanya eva sekali lagi. Dan kali ini mata Adam bergerak-gerak. Ia telah datang kembali ke dunia nyata. Adam pun memalingkan wajahnya ke Eva, mencium kening perempuan itu. Lalu ia lingkarkan tangan kirinya ke tubuh Eva. Cahaya api menyinari tubuh mereka berdua. Sesekali kelelawar terbang berputar-putar lalu bergelantungan kembali di langit-langit.

Aku tak bisa berhenti memikirkannya Eva. Aku tak bisa. Apakah inialasan Tuhan menciptakan aku? Apakah ini alasan Tuhan mengajari segala sesuatunya padaku? Suara Adam terdengar parau dan murung.

Jika dirimu berpikir seperti itu Adam, lalu, apa alasan Tuhanmu menciptakan aku? tanya Eva tajam namun tetap lembut.

Mereka berdua pun terdiam. Sangat lama. Selama waktu yang tak menentu di depan mata mereka yang memantulkan cahaya api yang semakin bergejolak. Gemeretak kayu bergema ke sudut-sudut terdalam gua. Mereka berdua pun terlelap. Sedangkan waktu terus mengalir. Bersama apa yang telah hilang. Bersama apa yang susah untuk dilupakan. Dan malam pun berganti pagi. Berputar tiada henti. Terus berputar. Dan kesedihan yang paling dalam pun bertahan, terus bertahan, di dasar hati yang tak lagi mampu menampung segala macam duka dan keterasingan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar