Kau juga jatuh, heh? Tanya
Lucifer dengan nada mengejek.
Apa maumu? Adam balik
bertanya.
Yah, aku tak tahu, Tuhan
macam apa yang menurunkan penderitaan bagi ciptaannya yang paling sempurna;
menjatuhkanmu semengerikan ini, wahai Adam yang serupa Dia. Apa kau tak heran,
heh? Lucifer berlagak bersimpati sambil mengangkat bahu dengan wajah ditekukkan
ke depan.
Kaulah yang membuat kami
terjatuh dalam lumpur ini, hai ular yang terkutuk!
Heh, kami? Lucifer
mendadak bingung. Kami? Oh, ternyata kau juga, Eva!
Jangan berlagak bodoh kau
di depan kami! Tukas Eva dengan nada
ketus dan marah.
Tolong, pergilah. Jangan
ganggu kami lagi. Biarkan kami menjalani hidup kami yang baru. Pinta Adam
dengan melirik Eva yang terlihat lesu dan dingin.
Baiklah, baiklah. Aku
akan segera pergi, aku akan segera pergi. Tenanglah sedikit. Apa kalian tak
merindukan keberadanku ini, heh? Lucifer mencoba tersenyum lebar tapi gagal.
Dan itu seringkali membuatnya jengkel. Dia tidak diciptakan dengan mulut yang
cukup lebar sehingga hanya senyum kecil dan keraslah yang bisa ia hasilkan
selama ini. Tak terlalu buruk, pikirnya. Oh iya, aku juga sama dengankalian
berdua. Aku juga salah satu yang terusir. Yah, seperti itulah Tuhanmu dan
Tuhanku. Setidaknya, berbahagialah kalian tak sendirian di tanah asing ini. Apa
kau masih ingin bermaksud kembali padaNya? Fufufu Lucifer memonyongkan bibirnya
seperti anak kecil. Dan kau masih merindukan surga itu, heh? Dan kalian mau
bersusah payah menebusnya? Apakah kalian konyol? Melihat mereka berdua semakin
murung dan tak sepatah kata pun muncul dari mulut mereka, Lucifer memutuskan
pergi. Ah, baiklah, aku akan pergi. Dan jika kalian nanti pada akhirnya
merindukanku, panggillah aku kapan pun kalian mau. Nikmati hidup kalian! Dan
lucifer pun menghilang.
Di tanah yang baru ini,
segala sesuatunya serba sulit dan melelahkan. Waktu berlalu dengan segala penderitaan
yang bagai tak berujung. Dunia yang mereka tinggali begitu kejam dan dingin.
Sesekali mereka berpikir, apa yang salah dari kami? Apakah hanya untuk sekedar
buah dari sebuah pohon, kami berdua layak mendapatkan ini? Tidakkah itu sangat
kejam?
Hai Tuhanku yang Agung,
seperti inikah alasan Engkau menciptakanku! Teriak Adam menatap langit.
Langit pun bergetar.
Cahaya berpendar dan bergemuruh. Awan hitam menggulung disertai angin yang
sangat kencang dan berderak melewati pepohonan. Adam masih di situ. Menatap
jauh ke kedalaman langit. Mencoba berbicara padaNya. Mencoba menatap langsung
mataNya. Tak sedikit pun ia bergerak. Tak sekejap pun ia alihkan pandangan
matanya.
Dan hujan pun jatuh.
Sangat deras. Membasahi semua tempat. Membasahi wajah Adam yang masih terpaku menatap
langit. Membasahi seluruh tubuhnya. Membasahi lembah yang ada di bawah dirinya.
Membasahi bebatuan yang ia pijak. Membasahi semak dan pepohonan. Membasahi
bukit tempat ia berada.
Apakah ini alasan Engkau
menciptakan aku?
Waktu pun terus berlalu. Bersama
Eva, Adam menjalani kehidupannya dengan tetap berharap kelak ia akan kembali
lagi ke surgaNya. Tapi entah kapan, ia pun tak tahu. Hidup tak semudah dulu.
Mereka berdua harus bertahan hidup melewati segala macam kengerian dan sesuatu
yang belum pernah mereka lihat dan alami. Inilah penderitaan pertama yang
pernah mereka tahu dan rasakan.
Apakah Engkau tak lagi
menginginkanku? Gumam Adam di dalam hati.
Eva mengamati Adam yang
terlihat sedih dan merasa hancur. Ia dekatkan dirinya ke tubuh pasangannya
itu. Api menyala terang dari retakan
kayu yang berwarna merah kekuningan. Cahaya api menyinari tubuh dan wajah
mereka. Dinding gua memantulkan bayangan mereka dan bergerak-gerak ketika angin
mengembuskan nyala api. Langit-langit gua pun nampak runcing dan temaram. Udara
malam masih begitu dingin. Sedangkan wajah Adam sama sekali tak beranjak dari
kesedihannya.
Apa yang kau pikirkan,
Adam? Tanya Eva pelan seraya menggenggam tangan Adam yang terasa rapuh dan tak
bertenaga.
Adam diam tak menjawab.
Matanya menerawang di kejauhan. Seolah-olah ia sedang berada di tempat lain.
Bukan tempat di mana sekarang ia berada.
Hmm.. cobalah ceritakan
padaku apa yang kau sedihkan selama ini. Tidakkah aku yang selama ini selalu
bersamamu? Eva menggenggam tangan Adam semakin erat. Ia letakkan kepalanya di
pundak Adam yang kokoh. Eva merasakan jari-jemari Adam tak selembut dulu. Ia
tahu apa yang Adam selama ini lakukan. untuk dirinya. Untuk Adam sendiri. Untuk
mereka berdua. Berburu. Mengumpulkan makanan. Membuat benda-benda dan berbagai
peralatan untuk memudahkan hidup mereka. Dan mencari tempat baru dan berpindah.
Apa kau masih memikirkan
perkataan si ular itu? Tanya eva sekali lagi. Dan kali ini mata Adam
bergerak-gerak. Ia telah datang kembali ke dunia nyata. Adam pun memalingkan
wajahnya ke Eva, mencium kening perempuan itu. Lalu ia lingkarkan tangan
kirinya ke tubuh Eva. Cahaya api menyinari tubuh mereka berdua. Sesekali
kelelawar terbang berputar-putar lalu bergelantungan kembali di langit-langit.
Aku tak bisa berhenti
memikirkannya Eva. Aku tak bisa. Apakah inialasan Tuhan menciptakan aku? Apakah
ini alasan Tuhan mengajari segala sesuatunya padaku? Suara Adam terdengar parau
dan murung.
Jika dirimu berpikir
seperti itu Adam, lalu, apa alasan Tuhanmu menciptakan aku? tanya Eva tajam
namun tetap lembut.
Mereka berdua pun
terdiam. Sangat lama. Selama waktu yang tak menentu di depan mata mereka yang
memantulkan cahaya api yang semakin bergejolak. Gemeretak kayu bergema ke
sudut-sudut terdalam gua. Mereka berdua pun terlelap. Sedangkan waktu terus
mengalir. Bersama apa yang telah hilang. Bersama apa yang susah untuk
dilupakan. Dan malam pun berganti pagi. Berputar tiada henti. Terus berputar.
Dan kesedihan yang paling dalam pun bertahan, terus bertahan, di dasar hati
yang tak lagi mampu menampung segala macam duka dan keterasingan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar