Kamis, 26 Mei 2016

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGEN: BOSHIN











dunia tak lagi berarti saat tak ada lagi orang yang penting bagimu. 

dia berjalan. tertatih. dengan sebilah pedang yang menetes, merah, buas. dia hujamkannya mata pedang itu ke tengkorak salah seorang pesakitan yang merangkak ketakutan di atas tumpukan mayat yang memutih pucat. lalu dihujamkannya tanto ke leher salah seorang lainnya hingga tak menyisakan nafas di ujung hidungnya.

salju berjatuhan dari sela-sela pepohonan. sedikit demi sedikit menutupi darah yang memerah beku dari ribuan mayat yang tergeletak di hutan Aokigahara. suasana begitu muram dan dingin. tapi dirinya tak ingin berhenti di sini.

dia kembali berjalan. terus berjalan. mencari sisa-sisa terakhir dari nafas manusia. matanya begitu liar dan kosong. wajahnya tertutupi bercak darah yang membeku. dia belum puas. sangat belum terpuaskan.

dia tak perduli dengan maksud perang ini. dia tak perduli dengan Satsuma ataupun Tokugawa. baginya, perang ini hanya berarti untuk meluapkan kemarahan dan rasa sakit yang selama ini deritanya. di dalam peranglah, semua orang layak untuk dibunuh. dan ia ingin membunuh sebanyak mungkin orang yang ia temui. ia ingin membunuh lagi dan lagi. walau itu berarti, semuanya hanyalah kekosongan dan tak lagi menghibur.

apa yang masih layak dari kehidupan seperti ini? apa yang masih layak dari kehidupanku?

dia masih berjalan. melewati mayat dan mayat. melewati berbagai baju perang yang berlumur darah. melewati berbagai jenis senjata yang tak mampu melindungi tuannya sendiri. melewati bayang-bayang pohon dan kuda-kuda yang meringkik kesakitan. matanya terus menyisir. telinganya mencari-cari suara yang paling lemah sekalipun. dia ingin mengakhiri segala kehidupan yang tak lagi berarti baginya. dia ingin membunuh semua orang tak tak lagi penting untuknya. 

katana yang ia pegang tak lagi meneteskan darah. dia ingin darah yang baru.

nafasnya tersengal-sengal. jejak kakinya pun tak lagi tegap dan seimbang. sayatan pedang melukai pahanya dan menyobek kimono yang ia pakai. tak ada rintih kesakitan. tak ada alasan untuk merasa lelah. dia terus melangkah. lagi dan lagi. mencari dan terus mencari. 




hai Shaigo, lagi apa kau ini? tanya Okubo heran.

aku hanya sedang berpikir. jawab Saiogi pelan. apa menurutmu, hidup ini layak kita jalan ini, Oku? 

heh, bicara apa kau ini! tiba-tiba Kido muncul dan menempeleng kepala Shaigo dengan sangat kerasnya. Shaigo berteriak aduh sambil mengelus-elus kepalanya, kesakitan. Kido tak mengira, ternyata ia lupa untuk meredam kepalan tangan yang ia luncurkan ke kepala kawannya itu.

sakit tahu! gerutu Shaigo marah. 

ah, sakit? Kido menyeringai senang. kau ini sih, berpikir yang tidak-tidak! apa kau mau, aku rendam otak kecilmu itu ke dalam teko milik ibuku, heh? huhu Kido bersiul pelan sehingga membuat Okubo terkekeh.

Shaigo diam membisu. kepalanya masih berdenyut-denyut nyeri. 

aku tak tahu, untuk alasan apa aku hidup di dunia ini. suara Shaigo terdengar lirih bagai tak bertenaga. 

Kido dan Okubo saling memandang. mereka semua terdiam. mereka berdua tahu, Shaigo adalah anak yatim piatu. kedua orang tuanya terbunuh dalam keributan yang terjadi beberapa tahun yang lalu oleh seorang Ronin yang tak bernama. Dan perjuangan hidup Shaigo memang sangatlah keras. Adakalanya ia menderita kesepian yang sangat ketika mengingat kedua orang tuanya. Ia ingin membunuh orang yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Ia ingin sekali membalas dendam. Mungkin setelah itu, semua akan reda. mungkin akan ada kelegaan dalam dirinya.

Shaigo bangkit berdiri. Ia pandangkan matanya ke seluruh lembah yang ada di bawahnya. Beberapa burung walet terlihat bebas di ketinggian. Dan seekor elang berputar-putar mengawasi. Wajahnya keras. Tatapan matanya begitu tajam tapi letih. Usianya masih sepuluh tahun. Dan ia sudah mulai tahu apa yang dirinya inginkan dalam hidup yang nyaris tak berarti.

Hai Kido, Oku. Apa kalian mau membantuku menemukan pembunuh kedua orang tuaku?

Kido dan Okubo mengangguk. Lalu mereka tersenyum lebar. Siaaap! Jawab mereka berdua serentak. Usia mereka tak jauh beda. Dan mereka telah menjadi teman yang tak terpisahkan sejak kecil. Shaigo tersenyum puas melihat kedua temannya itu. Ia kembali memandang lembah. Ia kembali menemukan jalan hidupnya.

Di bawah pepohonan yang tak jauh dari mereka, Tuhan mengamati, dan menyamar sebagai Amaterasu. Dan tak sabar menyaksikan masa depan mereka yang penuh darah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar