apa itu sastra?
kotoran diri yang dilempar ke muka orang tidur lalu berhenti sebagai omong kosong pengantar mati. atau, hanya sekedar pengisi waktu luang di kala bosan, patah hati dan sedikit depresi. yah, mungkin sastra hanyalah candu untuk kesenangan sesaat sehabis itu tak terlalu penting untuk dibuka kembali.
dan, banyak buku sastra yang bermunculan, keberadaannya sangat membosankan dan tak perlu ditangisi jika seluruh buku itu pun terbakar atau mungkin digunakan sebagai lap pantat dan pembungkus nasi.
dan akhir-akhir ini, di negara ini, aku menyaksikan banyaknya kemunculan jenis sastra semacam itu. dari mulai puisi, cerpen, novel dan sedikit esai. ya sedikit esai. sangat sedikit esai atau sebentuk pemikiran yang tak habis sekali baca.
mungkin, sastra Indonesia adalah sastra anak remaja, atau sastra sekedar lewat atau sastra yang orangnya seandainya mati pun, pasti akan ada yang menggantikannya dengan mudah. terlebih jika penulis dan sastrawan hampir sama gaya menulis dan apa yang ingin ditulis. mati seribu, tumbuh dua ribu yang sama jenisnya. jadi mati satu pun, tak akan ada yang merasa kehilangan. duplikatnya masih banyak.
ah, akhir-akhir ini aku kesusahan mencari buku sastra yang cukup mempesona dan tak mudah habis oleh waktu usia individu manusia. dalam artian banyak, sebuah buku sastra yang bisa dibuka-buka terus-menerus kapan pun aku mau, selalu penting untuk berpikir atau merenung, sebagai sumber refrensi, dan mungkin, sebuah karya yang tak sekedar enak dibaca lalu dimasukkan rak untuk jangka waktu selamanya.
dan inilah karya-karya yang membosankan dan tak penting untuk dibaca;
1) Tak Ada New York Hari ini dan Melihat Api dan Melihat Api Bekerja
jujur saja, buku A Aan Mansyur hanya enak dilihat. dan akhir-akhir ini kebanyakan buku sastra sekedar enak dilihat. sampai kadang aku bingung, kenapa membuat buku sastra, puisi, tidak sekalian saja membuat katalog seni atau menjadi seorang seniman?
ah, dan puisi-puisi Aan Mansyur pun akan kehilangan bobotnya, sangat kehilangan bobotnya dan nyaris tak berguna jikalau dicetak seperti kebanyakan puisi lainnya dalam bentuk polos dan biasa. aku tak tahu, apakah era puisi bergambar sekarang ini adalah semacam penipuan agar isi sebuah karya tak habis dan terasa kering semenjak halaman pertama.
mari kita bertaruh, suruh A Aan Mansyur membuat puisi yang polos dengan cover yang biasa-biasa saja. mungkin tak akan ada yang terlalu perduli dengan puisinya.
jadi, puisi pun penuh dengan tipuan, ah penipuan visual.
mengenai isi, sangat biasa saja. seperti orang berceloteh ringan tentang dunia yang ia lihat atau renungkan. semacam catatan diari atau hal-hal yang populer dan gaya bahasa berbelit-belit.
uh, apakah A Aan Mansyur tak mau sedikit ambisius? ataukah memang dia adalah jenis penyair yang biasa-biasa saja seperti penyair lainnya. kalau seperti itu, lebih baik aku membaca Faust dari Goethe atau puisi-puisi dan aforismenya Nietzsche, sedikit Tennyson dan lainnya. atau, aku lebih baik membaca buku Jerusalem-nya Simon Sebag Montefiore. aku rasa buku itu lebih penting sampai aku tua nanti dari pada bukunya A Aan Mansyur itu.
oh iya, jika A Aan Mansyur mati hari ini pun, dunia tak akan kehilangan dirinya. banyak duplikat dia yang berkeliaran di negara ini yang dengan cepat akan menggantikannya. tidakkah terlalu banyak penyair nyaris kehilangan keunikannya hari ini dan mukanya hampir sama saja?
dan yah, jika kamu juga seorang penulis, mungkin sedikit berdarah penyair, apa yang ditulis A Aan Mansyur bisa kamu tulis sendiri. jadi kenapa buku A Aan Mansyur tak penting? karena tanpa dia pun, aku dan kau bisa menulis semacam itu, ribuan puisi semacam itu. puisi yang terlalu gampang dibuat bahkan seandainya kita sedang opname di rumah sakit sekalipun.
anggap saja yang membaca A Aan Mansyur dan tergila-gila padanya adalah orang yang tak mampu membuat puisi dan orang yang tak biasa berpikir. buku itu akan cocok untuk otak semacam itu.
Untuk Aan Mansyur
Pagi ini aku
terbangun seperti ikan liar di matamu.
Jalanan
berlalu lalang di depan mataku dan langit yang pucat.
Tuhan sedang
mandi pagi ini, lalu kau cemburu di kisah kuno yang lapuk.
Mungkin kita
perlu rehat sejenak dari omong kosong puisi di siang hari.
Dan warna
kepalaku tak sempat memulangkan waktu yang terakhir aku temui.
Dan hujan batu
pun tak ada di New York sayang. Apalagi hujan gorilla dan orang utan.
Tubuhmu
menggigil lemas. Hujan masuk saat puisi lelap menatap jalang pelangi yang sibuk
menakar jauh. Ah, segala yang tak mungkin adalah mungkin.
Puisi hanyalah
omong kosong di kala orang bodoh terlalu banyak dan mudah didapat. Mengertikah
kau? mari sini, aku ajari selagi lepas belum sempat meranggas.
Setiap puisi
yang lahir adalah obat bergembira bagi orang-orang tolol di sisi seberang buku-buku
bukan? Dan lelaki yang lewat semalam, menyisakan aroma celana dalam di
pantatnya. Malaikat hanya menggeleng, hujan jatuh seperti cemas yang tak malu
mengais lupa. Ada cinta di ujung kelaminmu. Seekor cicak bergerak di rerimbun
potongan lampu.
Melihat api
berkerja, seperti melihat anak kecil yang sibuk berak di kedalaman anus dan
sebutir mata. Iblis akan memaafkanmu. Tuhan hanya tersenyum liar. Seliar puisi
yang tak berucap apa-apa. Kau mau membaca puisiku? Puisi yang terbakar oleh
segumpal debu di absurdnya kebohongan yang terlalu beku untuk dijual di
pasar-pasar? Baiklah, aku ambilkan kau selembar, asal sehabis kau baca, buang
saja ke mulut ketidakjelasan. Dunia hanya kosong bagi sepi yang seperempat
beradab dan sedikit liar.
Aku pernah
teringat, di masa silam yang jauh, seekor lelaki tua merangkak di atas sudut-sudut.
Menyanyikan
matahari. Bermain-main dengan waktu yang suntuk, mengeja gerimis di pepohonan
yang hampir padam. Suara bising keramaian bisa membuatku gila. Bahkan juga kau. dan mungkin seorang penyair
yang tak kasat mata di luar galaksi sana.
Segumpal awan
berjejalan di rahim yang bisu. Sementara malam sudah hampir jatuh. Aku berjalan
pelan menyusuri punggung kata-kata. Besok, maukah kau mampir di atas pecahan
hatiku? Sebab musim terus berganti. Aku tak bisa sendirian di alam yang sibuk
berperang. Dan keheningan yang dalam hanyalah warna suram dari apa yang tak
mampu aku ucapkan.
Di untaian
lembut langit yang pualam, ia bentangkan bayangan dirinya sendiri. seperti
jatuh. Dan hampir jatuh. Sayang, terlampau sulit dituliskan dan sedikit
melelahkan jika dibayangkan. Hanya pendosa yang terbang menuju tuhan dan
sekelumit doa. Dan jika api mulai bekerja, tak akan ada lagi yang bekerja pada
akhirnya. Dan masihkah ada New York hari ini tatkala sabat adalah wajah sang
penyair?
New York yang
terlalu banyak foto yang bergentayangan dan puisi yang hanya sekelumit,
sekedarnya saja, sebagai penghibur anak kecil yang mendadak autis.
Penyair yang
sibuk menjejakkan kaki di negeri seberang, lupa menaruh celana dalamnya di
dalam botol bir dan sedikit cuka. Seperti senyummu yang meruntuhkanku.
Pulanglah. Tak ada penyair hari ini jika api masih terus bekerja seperti neraka
yang menyalanyala setelah mati yang singkat. Terlalu singkat. Masihkah kau mau
menuliskan, membacakannya, puisi yang bodoh di wajahku ini, hari ini? maukah
kau?
catatan; maaf aku menulis puisi ini dalam waktu lima menit. lima menit. dan seandainya dalam setahun, atau dua tahun hidupku, entah berapa ratus atau ribu puisi semacam ini yang bisa aku buat? heh? itulah kenapa, aku bahkan tak terlalu menganggap penting puisi-puisiku dan tak perduli dibukukan. yah, sedikit ambisiuslah membuat puisi? atau hanya sejauh itulah generasi kita, heh? menjijikkan bukan? buatlah puisi yang membuat aku bisa sampai ingin gantung diri atau meledakkan tuhan!
2) Lelaki Bukan Malaikat
jika kau ingin membaca Lelaki Bukan Malaikat, aku sarankan lebih baik baca saja Bibel atau Alkitab secara langsung. hanya itu. tak lebih. tak ada buku ini pun, Alkitab pun tak merasa kehilangan. dan seandainya buku ini tak terbit pun, seekor kucing pun masih bisa bermalas-malasan dengan tenang di atas sofa.
buku ini aku baca. yah aku baca. gaya bahasanya enak dan renyah. tapi sayangnya, lebih enak saat aku membaca Paris; Sejarah yang Tersembunyi karya Andrew Hussey yang bisa aku bolak-balikkan sepanjang waktu. aku coret. garis bawahi. aku bayangkan. renungkan.
apa buku ini penting? sangat tak penting. duplikat dia pun masih banyak di luar sana. sekali baca, habis. ditaruh rak atau dibuat pupuk. mungkin bisa dijadikan bahan petasan atau dijadikan rumah laba-laba.
untuk Mario F. Lawi
Disalibkan
kau, Bapa yang malang. Cahaya redup di sisi yang jauh. Jerusalem yang dingin.
Bizantium yang pudar. Mayat-mayat yang bergerak di antara perang dan sedikit
remah rotimu. Jamuan agung yang bising dan bisu. Tak senangkah kau pada kutukan
kitab-kitab? Sudahkah Maria telanjang di surgaMu? Masihkah ia perawan di sana?
Semenjak Titus
lahir dari kemungkinan abu-abu. Dan seekor Nazaret yang membisikan telinga akan
mukjizat kerajaan yang jauh. Judas menemui Bapa yang agung. Dan melepuhlah ia
sebagai yang terberkati. Judas adalah takdir Bapa untuk anak yang nakal.
**
KapankahTuhan
menjelma Yesus, wahai kau Anthanasius? Tanya Arius jalang dari sisi timur.
Semenjak Ia
lupa telah tersalib telanjang bagi para wanita di ribuan gereja. Jawab
Athanasius dari Aleksandria.
Tata ulanglah
salib itu, biarkan Yesus membawa dasi dan kemejanya hai Anthanasius? Tuhan apa
yang telah menyebarkan pornografi liar di rumah ibadahnya? Arius meradang geli.
Tidak, tidak
Arius. Aku lebih menyukai Tuhan yang telanjang dan membuat berahi. Tidakkah
katolik adalah ketelanjangan di geraja-gereja? Itulah Katolikku! Itulah
gerejaku! Itulah tuhanku! Athanasius membela dengan lantang.
Di sebarang
sana, Konstantin Agung menari di atas singgahsananya. Dan Nicea, adalah kubur
bisu bagi yang lainnya.
**
Pagi yang
pertama, musim yang ketujuh.
Laut hitam
yang mengapung di kedalaman wajah yang terurapi.
Nebukadnezar
tersenyum riang di antara
reruntuhan kuil tuhan.
Bapa yang
iseng melahirkan Yesus dikemudian hari.
**
Engkau adalah
iblis yang bersemayam di genggam tangan sang Petrus.
Serupa Paulus,
tergantung rapi di jeruji besi yang mengangkat James ke surga yang indah; leher
yang tergantung di depan Annas yang terpuji.
Pilate ataukah
Nero, tanyamu pada Gabriel yang membisu lembut di seberang bukit bercadas.
Ah petrus yang
tersalib. Paul yang terpenggal. Dan putra tuhan yang lebih dulu tersalibkan. Bapa
yang duduk membisu di kejauhan. Sungguh indah laksana zambrud yang berpijar di
lelaut yang dingin.
Dan Baldwin
yang melangkah gontai, sang raja lepra yang agung. Memandang jerusalem yang
rapuh, seperti jerami yang letih memandang tembok-tembok. Adakah tuhan bagi
kota yang tersakiti?
Saladin pun
menatap ragu. Hanya ada perang bagimu, selain doa dan kebaikan Urbanus dan
hamba Frankmu. Tuhan Arab pun berwarna Yahudi dan juga Kristen. Langit-langit
pun berderak. Kuda-kuda berkeriap debu. Tembok-tembok runtuh seperti nyanyian
padang gurun yang tenang dan menyegarkan mata.
Di penghujung
yang jauh, Mehmet memandang tajam Konstantin yang menua di balik tembok Theodosius
yang letih. Gunung-gunung membelah. Perahu-perahu berkecamuk liar. dan
mayat-mayat yang menari di atas waktu yang terilhami.
Aku kisahkah
layaknya manusia yang memuji sejarahmu yang terbungkus beludru berdarah emas.
Akankah Engkau berkata? Tuhan adalah waktu yang asing bagi kau dan aku.
Tidak. Tiuplah
seruling lupa di mataku yang berkabut, wahai anak adam yang tercerabut mimpi.
Teruslah berdoa, andaikan menara yang roboh dilalap burung besi Osama adalah
Icarus yang jatuh di kala impian hanyalah domba yang mengembik dengan penuh
puji yang dungu.
Masihkah musim
menghadirkan paskah yang telanjang di himpitan kursi-kursi wanita yang tak lagi
perawan? Dan doa lelaki yang bukan malaikat, telah cemar oleh dosa seluas riak Nil
yang tak sempat untuk diakui bahkan disucikan oleh kitab orang yang telah mati.
Tulislah
alkitab di tanganmu yang penuh dosa. Juallah. Juallah. Hadirkan Judas dalam
kata-katamu. atau, maukah aku bawakan Titus yang Agung, Caligula, Nero atau
Simon ben Giora untukmu?
Kau adalah
judas bagi sepanjang tipu keindahanmu hai penyair yang rusak dan biasa saja.
Ah aku
teringat Gilgamesh, Darius, Xerxes, Leonidas, bahkan Timurleng, apakah besok
kau juga akan merampok kisah dan nama-nama mereka untuk puisi yang penuh tipu
itu, hai anak domba? Atau kambing?
catatan; ditulis dalam waktu lima sampai sepuluh menit sambil tiduran dan juga mendengarkan musik dan mengkhayal riang.
3) Sergius Mencari Bacchus
ah, buku pemenang sayembara DKJ ini membuat aku ingin tertawa keras seperti badut yang sedang sembelit di pojok langit-langit rumah. aku membacanya di toko buku, langsung aku lempar begitu saja karena sangat tak pentingnya. benar-benar aku lempar kembali ke tempatnya semula. walau jelas, pasti tak akan sama persis di tempatnya semula karena dilempar dari jarak cukup jauh. dari pada membaca buku ini, lebih enak aku membaca ulang karya Homer atau Dua Belas Kaisar milik Suetonius, dan sesekali Oidipus-nya Sophokles.
ah, aneh, apa para penyair kita tak memiliki ambisi besar atau sedikit besar untuk menulis melibihi Goethe, misalnya? atau beberpa penyair Arab-Palestina mungkin?
yang jelas, jika buku ini mendadak lenyap dari muka bumi beserta orangnya, yang tak sengaja tertimpa pohon kelapa atau dimakan buaya, sekali lagi, duplikatnya banyak. penggantinya mudah didapat. jadi tak perlu khawatir.
para penyair Indonesia bukanlah Mozart atau Beethoven yang seadainya mati, sebagian dari dunia akan langsung merasa lemas seketika. bahkan, siapa yang perduli dengan Mozart? ah, kedua orang tuaku saja masih tetap hidup walau tak pernah mengenal Mozart. jadi, seandainya mendadak Norman mati keracunan dan karyanya tiba-tiba dilarang terbit, tak akan ada yang berubah dari dunia ini. itu berarti, bukunya memang tak penting.
oh iya, jika seandainya ada yang merasa buku itu cukup penting, ah, tolonglah buat karya yang mampu melebihi The Origin of Species-nya Darwin. setelah itu aku akan sedikit menimbang dan berpikir.
untuk Norman
Pasaribu
Cobalah
melibihi Infernonya Dante. Kalau tak bisa, penggal saja lehermu.
Atau kirim
balik uang hasil DKJmu.
Terlalu mudah
membuat puisi hari ini. Bahkan terlalu mudah menjadi dewan juri.
Maaf, membuat
puisi semacam puisimu, aku bisa membuatnya setiap hari, dan setahun, mungkin
aku akan memiliki ribuan puisi omong kosong dan yah, apakah bisa aku lombakan
nanti ke DKJ berikutnya? Heh?
Karena puisi
di negara ini membosankan. Maaf, aku bukan penyair. Bahkan menatap Chairil saja
aku tak mampu. Aku malu.
Dan, bisakah
puisimu mengembalikan hutan-hutan, gajah yang mati, dan juga orang utan dan
burung-burung yang menghilang?
Dan dewan
jurimu, sungguh liar benar ia menganggap bakti sosial, isu lingkungan dan dunia
yang berisikan perang ternyata tak terlalu penting dari pada kelamin homomu, si
Bacchus yang lebih mirip cerita iseng anak kecil itu.
Aku tak tahu,
dewan juri macam apa yang lebih suka dengan puisimu dari pada orang mati yang
jumlahnya ribuan hampir setiap waktu. Atau sungai yang cemar dan bumi yang
hancur dan mulai berantakan. Dewan juri macam apakah itu? Keturunan setan atau
ibliskan ia?
Tolong
jawablah. Dewan juri macam apa yang menganggap isu lingkungan dan kematian
manusia adalah hal yang biasa sedangkan kelamin punyamu adalah hal yang luar
biasa?
Ah iya,
bolehkah aku minta usul. Coba sita rumah dewan jurimu itu. Atau tempatkan ia di
tengah-tengah padang gurun di sisi Lapindo atau jadikan ia mirip orang utan di
kepulan asap Riau, selama sepuluh tahun dan buatkan ia gubuk mungil beratap
jerami. Mungkin besok ia akan lebih sadar sebagai dewan juri.
Mungkin, kalau
dia masih manusia dan bukan hantu atau serupa tuyul yang berkeliaran semau yang
ia mau.
Dan semoga puisi menjadi kamus bahasa
indonesia!
Atau cerpen, atau esai, renungan singkat,
atau catatan
perjalanan, dan mungkin juga sekedar
igauan.
Maaf, aku bingung dengan puisi hari ini.
dan aku sangat kebingungan puisi-puisimu itu.
Dewan juri DKJ;
Walaupun
manuskrip ini menceritakan sebuah tragedi, kisah-kisahnya disampaikan dengan
nada ringan, nyaris komikal (bahkan ada beberapa pastiche ala puisi mbeling), yang justru membuat ceritanya makin
tragis. Pemakaian ironi yang mantap! Selain itu, penulis juga menunjukkan
kepiawaiannya mencampuradukkan berbagai macam refrensi, alusi, dan gaya. Dari
yang kuno sampai yang kekinian, dan high
culture sampai ke pop culture.
Sering refrensi-refrensi ini menunjukkan bukti telah dipertimbangkan dengan
matang untuk menjadi hyperlink yang
memberikan petunjuk sekaligus kedalaman lebih lanjut tentang tema kegaulauan
identitas homoseksual dan transgendernya. Manuskrip 78 ini, “Sergius Mencari
Bacchus” (sebagai salah satu bukti pemilihan refrensi yang matang tadi, Santo
Sergius dan Bacchus adalah martir dari abad ke-4 yang karena persahabatan
mereka yang erat sering diadopsi sebagai gay
icons) bisa jadi akan membuka jalan bagi puisi dan penyair serupa
setelahnya. Penulisnya telah menghadirkan satu problem dan situasi kontemporer
yang pelik dan jarang disentuh oleh penyair lain lewat kemasan yang juga sangat
kekinian dalam interekstualitasnya. “Sergius Mencari Bacchus” paling menjawab
keinginan kami menemukan naskah yang menawarkan tema kuat, kebaruan, dan teknik
penulisan segar dan mumpuni. Karena itulah kami memilih naskah karya Norman
Erikson Pasaribu ini sebagai yang terbaik.
Jawaban untuk Juri DKJ:
Setelah ini,
kita bisa mulai merenungkan mengenai puisi masa depan keinginan dewan juri;
besok kita bisa menulis tentang bersenggema dengan botol Aqua atau keledai dan
kucing. Banyak kelainan seksual semacam ini. Kita bisa menulis tentang
kanibalisme yang elegan yang jarang diekspos. Atau mungkin kita bisa juga
menulis puisi tentang kutu air, kutu debu, atau kepiting yang juga sangat
jarang ditulis di Indonesia. Kita juga bisa menulis berbagai macam jenis
gangguan jiwa yang jarang juga diekspos dan ditulis. Bisa juga kita besok
menulis Ahmadiyah, Syiah dan mungkin Lia Eden? Tidakkah jarang yang menulis
puisi menyoal itu di sini? Atau paling tidak, kita bisa menulis perihal kambing
dan ember minumnya. Atau seterika dengan celana dalam. Kursi dengan sperma. Ibu
hamil yang masih sibuk berhubungan badan. Laki-laki botak yang menggambar Ayu
Utami. Atau anak kecil yang memperkosa teman sekelasnya. Ah realita sosial
macam itu tak begitu penting di dalam puisi. Lebih baik, puisi masa depan
adalah sepatu hak tinggi yang terbang di atas surga. Mobil mewah yang
berkerumun di hotel remang-remang. Dan bisakah besok kita menulis puisi tentang
cinta terlarang anak dan ibu, bapak dan anak, atau guru sekolah menghamili
muridnya?
Ah, banyak betul
yang besok harus ditulis. Dan mengenai global warming, pembantaian di Suriah,
Kongo, Burundi, efek rumah kaca, kepunahan hewan, penggusuran, itu tak penting.
Habisnya ladang dan sawah juga tak penting. Lebih penting lebianisme atau
homoisme. dan juga hal remeh temeh keseharian yang cepat habis dan membosankan. dan malah seperti cerpen, catatan harian atau buku panduan dan brosur mengemis. Jadi, kenapa tak sekalian saja dewan juri berkata terus terang besok
tak ingin lagi makan nasi dari penduduk desa, atau segala macam hal yang
berasal dari pertanian? Dan kenapa masih ingin jadi konsumen yang berada di
perkotaan dan mulailah menamam makananmu dan buatlah gas kompormu sendiri, baru
setelah itu lantangkanlah mengenai transgender dan sebagainya. Aku tak membenci
transgender, lesbi atau homo. Tapi jika gajah punah di Indonesia. Homo tak akan
punah sampai kapanpun kok. Bahkan sejak masa Romawi hingga kini makin banyakkan?
Jika petani musnah di negara ini, apakah para homo perkotaan mau jadi petani,
dewan juri mau jadi petani, dan membuat padinya sendiri? Homo makan nasi,
meminum air, dan membuat rumah yang membuka hutan dan memusnah orang utan,
badak, dan burung-burung. Tapi apa burung-burung, badak dan orang utan memakan
homo dan dewan juri? Tidak. Jelas tidak. Jadi mana yang lebih penting untuk
diselamatkan dan direnungkan, bahkan dalam puisi? Apakah burung pipit yang
memakan gay atau si gay yang memakan burung pipit?
Ah penyair kita,
dan dewan juri kita, otaknya sudah terlanjur tertular virus perkotaan. Tolong
lebih cerdas sedikit dalam berpikir yak. Ataukah jangan-jangan dewan juri kita
tak terlalu cerdas dan cukup tahu tentang perkembangan perdebatan lingkungan
hidup, sains, astronomi dan mungkin, filsafat moral?
4) Saman dan buku Ayu Utami lainnya
aku hampir membaca semua buku Ayu Utami dan memilikinya. dan setelah aku baca, renungkan, aku timbang. ah, lebih baik aku membaca buku-buku Naomi Wolf, Naomi Klein atau mungkin Simon de Beavour.
apa buku Ayu Utami penting? yah enak dibaca. renyah. dan cukup bagus dan banyak hal di situ. tapi, yah harus kita akui, buku itu mungkin penting bagi banyak orang. tapi tetap saja, dalam kategori terluasnya, buku itu tak mampu menggeser bukunya Niezsche, Zarathusrta dan beberapa buku lainnya yang jelas-jelas anti wanita, eh perempuan.
untuk para feminis, buatlah karya yang mampu melampaui para pembenci perempuan, misoginis terbesar dalam sejarah yah.
5) Kambing dan Hujan
mari kita sedikit berpikir dan memilih, hayu lebih penting mana novel Kambing dan Hujan dari Mahfud Ikhwan dari pada Agama Jawa Clifford Geerzt dan Mengislamkan Jawa milik M. C. Ricklef?
kalau dalam seumur hidupmu atau berbagai generasi ternyata Agama Jawa dan Mengislamkan Jawa yang lebih berpengaruh, dibuka, dipelajari, dan dianggap bacaan wajib dan penting, maka, Kambing dan Hujan tak terlalu penting. tapi jika sebaliknya, jika Kambing dan Hujan dibaca berulang-ulang, dicorat-coret dan digaris bawahi, didiskusikan sepanjang waktu, dikutip di berbagai jurnal dan dan penelitian internasional, yah itu berarti novel itu penting.
jadi, mana menurutmu yang lebih penting dan harus kamu selamatkan lebih dulu jika rumah kamu terbakar?
6) Buku Pemenang DKJ hari ini
maaf, boleh aku bertanya, apakah buku-buku pemenang DKJ modern, dalam artian setelah 2000an sudah melampaui Dostoevsky atau Tolstoy?
ah, jika belum, lebih baik aku membaca milik Milan Kundera lebih dulu, Kitab Lupa dan Gelak Tawa, tapi sungguh membosankan dan biasa saja. itu Milan Kundera yang sudah bernama.
ah iya, apakah buku-buku baru pemenang DKJ sudah melampaui Pram, Hamka, Iwan Simatupang, Ahmad Tohari, dan Mangunwijaya? ah belum. belum. sungguh belum. berarti, tidakkah itu kemunduran? entahlah. yang jelas, jika buku-buku itu hilang pun, dimakan cacing laut atau dijadikan api unggun untuk membakar ikan di sungai, buku-buku itu tak sepenting penemuan Einstein, Heisenberg, Stephen Hawking atau Peter W. Higgs.
7) buku-buku Eka Kurnaiwan
jika kamu cukup waras, bandingkanlah buku Eka, Lelaki Harimau dengan Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta milik Luis Sepulveda. mana yang lebih menarik? kita baru sekedar memperbincangkan kata menarik. banyak buku menarik tapi tak penting dan bisa diacuhkan begitu saja bukan?
ah, bisakah Eka menulis layaknya Mangunwijaya dalam Roro Mendut? atau paling tidak, sebuah novel yang menampilkan cukup detail dan tidak hanya sekedar imajinasi yang bisa ditulis dengan mudahnya. sejujurnya, buku Eka Kurniawan kalau dibandingkan dengan buku Teenlit atau novel remaja, apa bedanya?
mungkin banyak orang menganggap buku Eka bagus dan sangat banyak yang tergila-gila dengannya. tapi, aku lebih suka membaca The History of Arabs Philip K. Hitti, Kepulauan Nusantara Alfred Russel Wallace, History of Java Thomas Raffles atau Tafsir Mimpi-nya Sigmund Freud. aku rasa lebih bermanfaat membaca buku itu dari pada milik Eka.
dan jika dibandingkan dengan Ismail Kadare, buku kecil yang berjudul Piramid itu, ah, cobalah bandingkan sendiri. jika lebih bagus milik Eka, kamu bisa datang ke tempatku berada, lalu gantunglah aku semaumu.
kalau boleh tanya, mana kedua buku ini yang lebih layak kamu miliki dan pertahankan di rak kamar milikmu?
Di Bawah Bendera Revolusi milik Soekarno atau buku-buku Eka? atau, jika disuruh memilih di rak buku secara gratis, mana yang akan kamu pilih, seluruh buku milik Pram terlebih tetraloginya atau buku milik Eka?
8) Pulang
awalnya lumayan. pada akhirnya membosankan. mirip kebanyakan buku lainya setelah Ayu Utami. terlalu tak jelas. banyak seks. dan yah, jika disejajarkan di samping bukunya Emile Zola, Germinal, perbedaannya sangat terlihat.
jika memandingkan sebuah buku, tak perlu tanggung-tanggung. masalahnya aku pembaca yang cukup waras dan punya sedikit kesadaran memilih sebuah buku dan menilai isinya. dan tidakkah banyak dari kita juga sedikit waras menilai dan mengagungkan sebuah buku?
jadi apa buku ini penting?
buku ini tak berpengaruh terhadap apapun. jika lenyap dari muka bumi pun, banyak buku Eropa dan Asia yang lebih baik dari buku ini. contohnya, Anak-Anak Langit karya Terrence Cheng.
dan oh iya, seluruh buku milik penulis Indonesia, untuk saat ini, aku yakin, tak akan mampu bisa sepenting buku Herman Melville, Chervantes, Kipling, atau paling tidak, karya Kant, Schopenhauer, atau juga Edward Said. oh ya, mungkin buku kecil mungil Lelaki Tua dan Laut.
9) Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, dan lainnya.

Gadis Kretek Ratih Kumala, dan buku-buku
Okky Madasari, buku-buku Dee, Andrea Hirata, Asma Nadia, Tere Liye, Tasaro GKdan terserahlah, ditambah saja yang lainya hingga bosan; dari
mulai Benny Arnas, Bernard Batubara, sampai pada berbagai macam karya sastra
yang jumlahnya banyak itu. Bisakah sastra menyelesaikan apa yang tak mampu
diselesaikan Kant dan akhirnya Alan Weisman? Apakah sastra, hanya sekedar
pemanja hidup, membuat orang sedikit hilang dari stressnya, ataukah ia hanya
sekedar permasalah sehari-hari yang tak akan pernah selesai? Sementara sastra
yang berpihak, ya berpihak pada yang
tertindas, terbuang, dan tergusur, apakah yang tergusur itu sadar dengan dunia
yang hampa ini? atau, kau membantu orang yang tergusur itu, terlebih yang
beragama, besok dia mati, langsung masuk neraka. Jadi bantuanmu di dalam sastra
sama saja tak berguna. Buatlah sastra setelah tuhan benar-benar mati dan
mungkin ingin bunuh diri. Atau seandainya ia ateis, ditembak polisi pun
harusnya kita senang. Dia akan bebas dari rasa sakit dan hanya sekedar menjadi
siklus energi alam. Jadi, apa yang yang penting dari sastra di sebuah dunia semacam ini?
Kalau begitu, dari pada membelikan uang ke
sastra yang tak jelas dan membosankan itu. Akan jauh lebih penting membeli
majalah National Geographic, berdonasi ke WWF, atau membeli buku-buku Richard
Dawkins dan berpikir tentang alam semesta yang mungkin hampa ini.
Dan yah, sejujurnya masih banyak yang ingin masukkan. tapi juga tak terlalu penting amat untuk ditulis semua bukan?