Jumat, 27 Mei 2016

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: AKHIR MASA DAMAI












kesalahan terbesar manusia adalah keinginannya yang paling sombong untuk menolak kenyataan dengan cara mengabaikannya berulang-ulang. menganggap dunia di sekelilingnya akan selalu sama, dalam damai, hingga lupa untuk sekedar merenung. ilusi kedamaian terbukti adalah pencapaian yang paling buruk dari sebuah masyarakat yang sejahtera atau sedang menuju dalam proses kesejahteraan. seringkali, masyarakat di dalamnya, terlebih mereka yang hidup sebagai kelas menengah-atas, meninggalkan kepala mereka untuk berpikir tentang sedikit saja masa depan. bahwa, tak pernah ada masa depan yang terus-menerus damai. dalam keadaan semacam itulah, Tiongkok mulai memainkan peran besarnya. ada satu negara di Asia Tenggara yang harus ditundukkan atau dihancurkan untuk mencapai sebuah rencana besar yang sudah digariskan. Indonesia adalah salah satu negara yang harus dipecah, diinvasi, atau dijadikan bawahan dengan cara apapun untuk mempermudah agenda yang sedang dibangun Tiongkok. negara ini adalah batu halangan terakhir untuk memantabkan diri di kawasan Asia Tenggara. dan, para petinggi dan politbiro pun tahu, Indonesia adalah negara terbodoh yang pernah mereka lihat di era  modern. tak terlalu sulit untuk mengurusi negara itu.

belum selesai






Kamis, 26 Mei 2016

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGEN: BOSHIN











dunia tak lagi berarti saat tak ada lagi orang yang penting bagimu. 

dia berjalan. tertatih. dengan sebilah pedang yang menetes, merah, buas. dia hujamkannya mata pedang itu ke tengkorak salah seorang pesakitan yang merangkak ketakutan di atas tumpukan mayat yang memutih pucat. lalu dihujamkannya tanto ke leher salah seorang lainnya hingga tak menyisakan nafas di ujung hidungnya.

salju berjatuhan dari sela-sela pepohonan. sedikit demi sedikit menutupi darah yang memerah beku dari ribuan mayat yang tergeletak di hutan Aokigahara. suasana begitu muram dan dingin. tapi dirinya tak ingin berhenti di sini.

dia kembali berjalan. terus berjalan. mencari sisa-sisa terakhir dari nafas manusia. matanya begitu liar dan kosong. wajahnya tertutupi bercak darah yang membeku. dia belum puas. sangat belum terpuaskan.

dia tak perduli dengan maksud perang ini. dia tak perduli dengan Satsuma ataupun Tokugawa. baginya, perang ini hanya berarti untuk meluapkan kemarahan dan rasa sakit yang selama ini deritanya. di dalam peranglah, semua orang layak untuk dibunuh. dan ia ingin membunuh sebanyak mungkin orang yang ia temui. ia ingin membunuh lagi dan lagi. walau itu berarti, semuanya hanyalah kekosongan dan tak lagi menghibur.

apa yang masih layak dari kehidupan seperti ini? apa yang masih layak dari kehidupanku?

dia masih berjalan. melewati mayat dan mayat. melewati berbagai baju perang yang berlumur darah. melewati berbagai jenis senjata yang tak mampu melindungi tuannya sendiri. melewati bayang-bayang pohon dan kuda-kuda yang meringkik kesakitan. matanya terus menyisir. telinganya mencari-cari suara yang paling lemah sekalipun. dia ingin mengakhiri segala kehidupan yang tak lagi berarti baginya. dia ingin membunuh semua orang tak tak lagi penting untuknya. 

katana yang ia pegang tak lagi meneteskan darah. dia ingin darah yang baru.

nafasnya tersengal-sengal. jejak kakinya pun tak lagi tegap dan seimbang. sayatan pedang melukai pahanya dan menyobek kimono yang ia pakai. tak ada rintih kesakitan. tak ada alasan untuk merasa lelah. dia terus melangkah. lagi dan lagi. mencari dan terus mencari. 




hai Shaigo, lagi apa kau ini? tanya Okubo heran.

aku hanya sedang berpikir. jawab Saiogi pelan. apa menurutmu, hidup ini layak kita jalan ini, Oku? 

heh, bicara apa kau ini! tiba-tiba Kido muncul dan menempeleng kepala Shaigo dengan sangat kerasnya. Shaigo berteriak aduh sambil mengelus-elus kepalanya, kesakitan. Kido tak mengira, ternyata ia lupa untuk meredam kepalan tangan yang ia luncurkan ke kepala kawannya itu.

sakit tahu! gerutu Shaigo marah. 

ah, sakit? Kido menyeringai senang. kau ini sih, berpikir yang tidak-tidak! apa kau mau, aku rendam otak kecilmu itu ke dalam teko milik ibuku, heh? huhu Kido bersiul pelan sehingga membuat Okubo terkekeh.

Shaigo diam membisu. kepalanya masih berdenyut-denyut nyeri. 

aku tak tahu, untuk alasan apa aku hidup di dunia ini. suara Shaigo terdengar lirih bagai tak bertenaga. 

Kido dan Okubo saling memandang. mereka semua terdiam. mereka berdua tahu, Shaigo adalah anak yatim piatu. kedua orang tuanya terbunuh dalam keributan yang terjadi beberapa tahun yang lalu oleh seorang Ronin yang tak bernama. Dan perjuangan hidup Shaigo memang sangatlah keras. Adakalanya ia menderita kesepian yang sangat ketika mengingat kedua orang tuanya. Ia ingin membunuh orang yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Ia ingin sekali membalas dendam. Mungkin setelah itu, semua akan reda. mungkin akan ada kelegaan dalam dirinya.

Shaigo bangkit berdiri. Ia pandangkan matanya ke seluruh lembah yang ada di bawahnya. Beberapa burung walet terlihat bebas di ketinggian. Dan seekor elang berputar-putar mengawasi. Wajahnya keras. Tatapan matanya begitu tajam tapi letih. Usianya masih sepuluh tahun. Dan ia sudah mulai tahu apa yang dirinya inginkan dalam hidup yang nyaris tak berarti.

Hai Kido, Oku. Apa kalian mau membantuku menemukan pembunuh kedua orang tuaku?

Kido dan Okubo mengangguk. Lalu mereka tersenyum lebar. Siaaap! Jawab mereka berdua serentak. Usia mereka tak jauh beda. Dan mereka telah menjadi teman yang tak terpisahkan sejak kecil. Shaigo tersenyum puas melihat kedua temannya itu. Ia kembali memandang lembah. Ia kembali menemukan jalan hidupnya.

Di bawah pepohonan yang tak jauh dari mereka, Tuhan mengamati, dan menyamar sebagai Amaterasu. Dan tak sabar menyaksikan masa depan mereka yang penuh darah.


Selasa, 24 Mei 2016

DI SEBUAH KOTA, KITA SEMUA MATI















Di sebuah kota, hati pun mati.
Begitu juga burung-burung.
Begitu juga tuhan kau dan aku.

Kaki yang melangkah rapuh.
Perasaan yang hilang dan rusak.
Kesedihan yang tak berujung, lagi dan lagi.

Di sebuah kota, cicak pun berhenti hidup.
Amarah yang meletup-letup.
Ketidakberartian yang begitu dingin.

Pohon-pohon yang tak lagi didatangi kupu-kupu.
Panas yang tak lagi mampu menentramkan waktu.
Kebosanan yang tak pernah mau mengaku kalah.
Dan perang yang selalu kita ciptakan bersama dalam gumam
dan kesakitan diri.

Saat kaki melangkah, seorang anak manusia harusnya mengerti.
Tak ada lagi tempat untuk berteduh.
Tak ada lagi tempat untuk berpulang.

Di dalam sebuah kota, kita semua sendirian.
Terus sendiri. Sampai entah. Sampai kapan.

Dan akhirnya, kita berpura-pura hidup.
Sejenak melupakan diri kita sendiri. Melupakan sekitar kita. Dan melupakan semuanya.
Hingga kita pun kecanduan akannya.

Di dalam sebuah kota, semua manusia adalah pembohong.
Semua orang yang kau lihat, dirimu yang ada di kaca, atau kekasih yang kau cintai sekalipun.
Dan negara yang kita tinggali, telah lama membohongi pikiran kita yang lemah.
Yang sakit. Yang takut. Yang tak mampu lagi tahu apa gunanya hidup dan bernafas.

Di dalam sebuah kota, kita semua kesepian.
Seolah semua orang telah mati. Seakan segala yang hidup tak ada lagi.

Ada yang asing di sekitarmu.
Keterputusan yang begitu mengerikan.
Kesedihan yang tak bisa lagi untuk sekedar diceritakan.
Hingga yang berarti pun tak lagi menarik.

Karena di sebuah kota, segala yang mati tak akan pernah hidup lagi.
Entah itu burung, capung, atau tuhan dan hatimu.

**


Untuk apa hidup ini dijalani?
Kita sebentar ada lalu mati tak terkira banyaknya.

Mungkin akan menyenangkan jika kita leleh diterpa matahari.
Atau menjadi batu yang lahir dari atas bukit-bukit purba.

Tak menyenangkan benar segala yang kita temui.
Kau dikutuk hidup untuk merasa tak hidup.

Sebagai titik kecil yang sekedar lalu.
Lenyap ditelan kehampaan yang tak kau mengerti mengapa.

Dan segala yang kau perbuat dan pertahankan,
Tak kan mampu menyelamatkanmu dari dinginnya warna ketiadaan.

Untuk apa waktu yang pendek ini terlalu dibanggakan,
Jika sebentar lagi kita pun mati pada akhirnya.

Terlupakan.
Tak pernah dianggap ada.
Tak berarti untuk selamanya.


**


Di sebuah dunia, kau membuka jendela atau pintu kamarmu.
Kau membuka diri. Tapi tak ada lagi yang mau membuka diri untukmu.
Semua orang tak ingin disentuh. Semua orang semakin sulit diajak bicara.

Di sebuah waktu, kau membuka dunia mayamu.
Kau pun menyapa, berkali-kali, hanya ingin mendapatkan teman dan sekedar bicara.
Tapi semua orang memilih diam. Semua orang tak ingin berteman denganmu.

Dan kau pun tak tahu, semua orang sama seperti dirimu.

Kau hanya bisa tersenyum kecut. Memandang langit atau gerak sungai yang tak lagi berisi ikan-ikan. Kau tahu, keberadaan dirimu sangat kosong dan tak berguna sedikitpun. Kau tahu. Dan orang-orang juga tahu, hidup mereka sama tak berati dan hampanya dengan dirimu. Tapi kau tak tahu.

Dan di sebuah hari yang cerah, kau memutuskan untuk berhenti di sebuah jalan.
Kau memutuskan berhenti untuk selamanya.

Dan, tak seorang pun menangisimu. Tak seorang pun merasa kehilangan.

Di sebuah dunia semacam itu, kehidupan dan kematian pun tak lagi berarti.
Orang-orang tak lagi berarti. Mayat-mayat juga tak lagi berarti.

**


Kota yang aku tinggali, membuat aku sakit.
Tahukah kau bahwa kota bisa sangat membuatmu sakit?

Kehidupan yang berhenti sebagai kehidupan.
Itulah kota yang hari ini aku kenal.

Sebenarnya tak perlu juga aku mengajarimu.
Tapi adakalanya kau tak mau tahu.
Kau tak mau untuk memikirkannya.
Kau memilih berhenti berpikir.

Tahukah kau, bahwa kota juga bisa membunuhmu?

Asap di mana-mana. Panas yang mirip seperti neraka.
Sungai yang berisikan sampah. Jalan-jalan yang sibuk dan macet.
Hewan-hewan liar yang tak lagi bisa ditemui. Trotoar yang diblokir
Pedagang kaki lima. Gedung-gedung yang kusam dan menyedihkan.
Walikota yang keburu mati sebelum sempat memenuhi janji.
Tukang parkir di sana tukang parkir di sini. Jalanan rusak bergelombang.
Sepeda motor melompat ke pedestrian dan ingin menjadi pejalan kaki juga.
Dan saat kau sedang ingin berjalan kaki, cobalah memakai helm dan juga rompi anti peluru.
Banyak teroris di sini. Juga banyak anak kecil yang bisa setiap waktu mematahkan hati.
Jika kau masih memiliki hati untuk itu. Rumah ibadah penuh dengan mobil dan mobil.
Lalu banjir, rob, gunung berapi, badai, dan pemerintah yang bisa menangkapmu tanpa
perlu minta ijin lebih dulu. Di sebuah kota, sebenarnya kau sudah gila semenjak kau baru dilahirkan.
Dan mungkin, kau sudah mati sebelum sempat kau diinginkan.

Dan kota yang aku tinggali, benar-benar membuatku merasa sakit.
Sangat sakit. Dan kau pasti juga merasakannya bukan?

Tapi kau tak mau tahu.
Kau tak mau perduli. Begitu juga dengan anak-anakmu. Cucu-cucumu.
Padahal mereka semua sakit. Sama seperti dirimu.

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: SEBELUM KEJATUHAN
















Gabriel datang di saat dirinya sedang sibuk merenung. Tentang pohon pengetahuan. Tentang makhluk baru yang bernama manusia. Tentang dirinya sendiri yang sudah bosan berada di surga. Tak ada yang menarik lagi di surga, pikirnya.

Apa maksud kedatanganmu, hai si pembawa pesan? Tanya Lucifer tanpa menoleh dan menatap Gabriel yang kikuk dan terasa aneh.

Tuhanku dan Tuhanmu, menyuruh Engkau datang di hadapanNya, wahai sang kekasih Tuhan. Jawab Gabriel lembut. Suaranya bergetar bercampur kagum. Gabriel tahu, ia kagum dengan sosok yang kini ada di hadapannya. Makhluk yang paling dekat dan paling disayangiNya. Makhluk yang paling rupawan dan cerdas dari semua penghuni surga lainnya.

Lucifer tak menjawab. Pikirannya masih mengembara dan mengandaikan banyak hal. Suara gemiricik sungai dan sepoi angin seolah membelai parasnya yang anggun dan bersinar. Burung-burung terbang rendah, menukik, lalu hinggap di puncak-puncak pohon.  Gabriel menunggu.

Untuk alasan apa Dia memanggilku?

Segala pengetahuan hanya ada padaNya.

Baiklah, beberapa saat lagi aku akan menemuiNya. Sekarang pergilah.

Gabriel mengangguk. Senang berjumpa denganmu wahai Putra Sang Fajar. Gabriel pun pergi.

Lucifer masih merenung. Kali ini tentang kenapa ia diciptakan. Kenapa ia harus terus mematuhiNya. Kenapa muncul perasaan aneh dalam dirinya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kenapa pikiran-pikirannya seolah berkembang dan menggerakkan dirinya tanpa ia bisa mencegahnya. Kenapa, inilah yang paling membuat dia merasa heran. Kenapa ia merasa tak rela makhluk baru itu diciptakan lebih baik darinya? Kenapa ada sesuatu di dalam dirinya yang merasakan sakit? Kenapa? Mengapa semua ini tiba-tiba harus ada?

Lucifer belum pernah merasakan ini sebelumnya. Ia berpikir keras mengenai dirinya sendiri berulang kali. Apakah Dia yang membuatku menjadi seperti sekarang ini? Untuk alasan apa Dia memberiku perasaan dan pikiran seperti ini? Ia gelisah sepanjang waktu. Kegelisahan yang masih belum ia mengerti dengan baik. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk bangkit dari sebongkah batu yang ia duduki. Rumput-rumput di sekitar kakinya bergoyang-goyang di terpa angin. Langit berwarna emas keperakan. Dan ranting yang jatuh di permukaan sungai, memantulkan gema yang dingin dan asing.

Baru kali ini ia merasakan kesepian dan keterasingan yang begitu menakutkan. Bahkan kicauan merdu burung-burung pun tak mampu lagi menghilangan perasaan yang asing dan semengerikan itu. Ia melangkah gontai. Ia sudah tak tahu lagi harus melakukan apa. Ia telah berada di jalan buntu. Perasaan dan pikirannya berkecamuk hebat. Dirinya tak tahu untuk alasan apa ia dipanggil kehadapanNya. Ia pun melangkah, dan berpikir, TuhanNya akan mampu menjawab hal aneh yang kini menimpa dirinya ini.  Ia masih sangat gelisah. Dan sesampainya di hadapanNya, ia ingin mendapatkan semua jawaban itu.

Apa yang telah Dia rencanakan kepadaku? Tanyanya dalam hati. Ia pun kembali melangkah.

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: ADAM PUN JATUH















Kau juga jatuh, heh? Tanya Lucifer dengan nada mengejek.

Apa maumu? Adam balik bertanya.

Yah, aku tak tahu, Tuhan macam apa yang menurunkan penderitaan bagi ciptaannya yang paling sempurna; menjatuhkanmu semengerikan ini, wahai Adam yang serupa Dia. Apa kau tak heran, heh? Lucifer berlagak bersimpati sambil mengangkat bahu dengan wajah ditekukkan ke depan.

Kaulah yang membuat kami terjatuh dalam lumpur ini, hai ular yang terkutuk!

Heh, kami? Lucifer mendadak bingung. Kami? Oh, ternyata kau juga, Eva!

Jangan berlagak bodoh kau di depan kami!  Tukas Eva dengan nada ketus dan marah.

Tolong, pergilah. Jangan ganggu kami lagi. Biarkan kami menjalani hidup kami yang baru. Pinta Adam dengan melirik Eva yang terlihat lesu dan dingin.

Baiklah, baiklah. Aku akan segera pergi, aku akan segera pergi. Tenanglah sedikit. Apa kalian tak merindukan keberadanku ini, heh? Lucifer mencoba tersenyum lebar tapi gagal. Dan itu seringkali membuatnya jengkel. Dia tidak diciptakan dengan mulut yang cukup lebar sehingga hanya senyum kecil dan keraslah yang bisa ia hasilkan selama ini. Tak terlalu buruk, pikirnya. Oh iya, aku juga sama dengankalian berdua. Aku juga salah satu yang terusir. Yah, seperti itulah Tuhanmu dan Tuhanku. Setidaknya, berbahagialah kalian tak sendirian di tanah asing ini. Apa kau masih ingin bermaksud kembali padaNya? Fufufu Lucifer memonyongkan bibirnya seperti anak kecil. Dan kau masih merindukan surga itu, heh? Dan kalian mau bersusah payah menebusnya? Apakah kalian konyol? Melihat mereka berdua semakin murung dan tak sepatah kata pun muncul dari mulut mereka, Lucifer memutuskan pergi. Ah, baiklah, aku akan pergi. Dan jika kalian nanti pada akhirnya merindukanku, panggillah aku kapan pun kalian mau. Nikmati hidup kalian! Dan lucifer pun menghilang.



Di tanah yang baru ini, segala sesuatunya serba sulit dan melelahkan. Waktu berlalu dengan segala penderitaan yang bagai tak berujung. Dunia yang mereka tinggali begitu kejam dan dingin. Sesekali mereka berpikir, apa yang salah dari kami? Apakah hanya untuk sekedar buah dari sebuah pohon, kami berdua layak mendapatkan ini? Tidakkah itu sangat kejam?

Hai Tuhanku yang Agung, seperti inikah alasan Engkau menciptakanku! Teriak Adam menatap langit.

Langit pun bergetar. Cahaya berpendar dan bergemuruh. Awan hitam menggulung disertai angin yang sangat kencang dan berderak melewati pepohonan. Adam masih di situ. Menatap jauh ke kedalaman langit. Mencoba berbicara padaNya. Mencoba menatap langsung mataNya. Tak sedikit pun ia bergerak. Tak sekejap pun ia alihkan pandangan matanya.

Dan hujan pun jatuh. Sangat deras. Membasahi semua tempat. Membasahi wajah Adam yang masih terpaku menatap langit. Membasahi seluruh tubuhnya. Membasahi lembah yang ada di bawah dirinya. Membasahi bebatuan yang ia pijak. Membasahi semak dan pepohonan. Membasahi bukit tempat ia berada.

Apakah ini alasan Engkau menciptakan aku?



Waktu pun terus berlalu. Bersama Eva, Adam menjalani kehidupannya dengan tetap berharap kelak ia akan kembali lagi ke surgaNya. Tapi entah kapan, ia pun tak tahu. Hidup tak semudah dulu. Mereka berdua harus bertahan hidup melewati segala macam kengerian dan sesuatu yang belum pernah mereka lihat dan alami. Inilah penderitaan pertama yang pernah mereka tahu dan rasakan. 

Apakah Engkau tak lagi menginginkanku? Gumam Adam di dalam hati.

Eva mengamati Adam yang terlihat sedih dan merasa hancur. Ia dekatkan dirinya ke tubuh pasangannya itu.  Api menyala terang dari retakan kayu yang berwarna merah kekuningan. Cahaya api menyinari tubuh dan wajah mereka. Dinding gua memantulkan bayangan mereka dan bergerak-gerak ketika angin mengembuskan nyala api. Langit-langit gua pun nampak runcing dan temaram. Udara malam masih begitu dingin. Sedangkan wajah Adam sama sekali tak beranjak dari kesedihannya.

Apa yang kau pikirkan, Adam? Tanya Eva pelan seraya menggenggam tangan Adam yang terasa rapuh dan tak bertenaga.

Adam diam tak menjawab. Matanya menerawang di kejauhan. Seolah-olah ia sedang berada di tempat lain. Bukan tempat di mana sekarang ia berada.

Hmm.. cobalah ceritakan padaku apa yang kau sedihkan selama ini. Tidakkah aku yang selama ini selalu bersamamu? Eva menggenggam tangan Adam semakin erat. Ia letakkan kepalanya di pundak Adam yang kokoh. Eva merasakan jari-jemari Adam tak selembut dulu. Ia tahu apa yang Adam selama ini lakukan. untuk dirinya. Untuk Adam sendiri. Untuk mereka berdua. Berburu. Mengumpulkan makanan. Membuat benda-benda dan berbagai peralatan untuk memudahkan hidup mereka. Dan mencari tempat baru dan berpindah.

Apa kau masih memikirkan perkataan si ular itu? Tanya eva sekali lagi. Dan kali ini mata Adam bergerak-gerak. Ia telah datang kembali ke dunia nyata. Adam pun memalingkan wajahnya ke Eva, mencium kening perempuan itu. Lalu ia lingkarkan tangan kirinya ke tubuh Eva. Cahaya api menyinari tubuh mereka berdua. Sesekali kelelawar terbang berputar-putar lalu bergelantungan kembali di langit-langit.

Aku tak bisa berhenti memikirkannya Eva. Aku tak bisa. Apakah inialasan Tuhan menciptakan aku? Apakah ini alasan Tuhan mengajari segala sesuatunya padaku? Suara Adam terdengar parau dan murung.

Jika dirimu berpikir seperti itu Adam, lalu, apa alasan Tuhanmu menciptakan aku? tanya Eva tajam namun tetap lembut.

Mereka berdua pun terdiam. Sangat lama. Selama waktu yang tak menentu di depan mata mereka yang memantulkan cahaya api yang semakin bergejolak. Gemeretak kayu bergema ke sudut-sudut terdalam gua. Mereka berdua pun terlelap. Sedangkan waktu terus mengalir. Bersama apa yang telah hilang. Bersama apa yang susah untuk dilupakan. Dan malam pun berganti pagi. Berputar tiada henti. Terus berputar. Dan kesedihan yang paling dalam pun bertahan, terus bertahan, di dasar hati yang tak lagi mampu menampung segala macam duka dan keterasingan.

Minggu, 22 Mei 2016

BUKU-BUKU SASTRA YANG TAK PENTING UNTUK DIBACA DAN DISIMPAN DI RAK










apa itu sastra? 
kotoran diri yang dilempar ke muka orang tidur lalu berhenti sebagai omong kosong pengantar mati. atau, hanya sekedar pengisi waktu luang di kala bosan, patah hati dan sedikit depresi. yah, mungkin sastra hanyalah candu untuk kesenangan sesaat sehabis itu tak terlalu penting untuk dibuka kembali. 

dan, banyak buku sastra yang bermunculan, keberadaannya sangat membosankan dan tak perlu ditangisi jika seluruh buku itu pun terbakar atau mungkin digunakan sebagai lap pantat dan pembungkus nasi. 

dan akhir-akhir ini, di negara ini, aku menyaksikan banyaknya kemunculan jenis sastra semacam itu. dari mulai puisi, cerpen, novel dan sedikit esai. ya sedikit esai. sangat sedikit esai atau sebentuk pemikiran yang tak habis sekali baca.

mungkin, sastra Indonesia adalah sastra anak remaja, atau sastra sekedar lewat atau sastra yang orangnya seandainya mati pun, pasti akan ada yang menggantikannya dengan mudah. terlebih jika penulis dan sastrawan hampir sama gaya menulis dan apa yang ingin ditulis. mati seribu, tumbuh dua ribu yang sama jenisnya. jadi mati satu pun, tak akan ada yang merasa kehilangan. duplikatnya masih banyak.

ah, akhir-akhir ini aku kesusahan mencari buku sastra yang cukup mempesona dan tak mudah habis oleh waktu usia individu manusia. dalam artian banyak, sebuah buku sastra yang bisa dibuka-buka terus-menerus kapan pun aku mau, selalu penting untuk berpikir atau merenung, sebagai sumber refrensi, dan mungkin, sebuah karya yang tak sekedar enak dibaca lalu dimasukkan rak untuk jangka waktu selamanya. 

dan inilah karya-karya yang membosankan dan tak penting untuk dibaca; 


1) Tak Ada New York Hari ini dan Melihat Api dan Melihat Api Bekerja



jujur saja, buku A Aan Mansyur hanya enak dilihat. dan akhir-akhir ini kebanyakan buku sastra sekedar enak dilihat. sampai kadang aku bingung, kenapa membuat buku sastra, puisi, tidak sekalian saja membuat katalog seni atau menjadi seorang seniman?

ah, dan puisi-puisi Aan Mansyur pun akan kehilangan bobotnya, sangat kehilangan bobotnya dan nyaris tak berguna jikalau dicetak seperti kebanyakan puisi lainnya dalam bentuk polos dan biasa. aku tak tahu, apakah era puisi bergambar sekarang ini adalah semacam penipuan agar isi sebuah karya tak habis dan terasa kering semenjak halaman pertama.

mari kita bertaruh, suruh A Aan Mansyur membuat puisi yang polos dengan cover yang biasa-biasa saja. mungkin tak akan ada yang terlalu perduli dengan puisinya. 

jadi, puisi pun penuh dengan tipuan, ah penipuan visual. 

mengenai isi, sangat biasa saja. seperti orang berceloteh ringan tentang dunia yang ia lihat atau renungkan. semacam catatan diari atau hal-hal yang populer dan gaya bahasa berbelit-belit.

uh, apakah A Aan Mansyur tak mau sedikit ambisius? ataukah memang dia adalah jenis penyair yang biasa-biasa saja seperti penyair lainnya. kalau seperti itu, lebih baik aku membaca Faust dari Goethe atau puisi-puisi dan aforismenya Nietzsche, sedikit Tennyson dan lainnya. atau, aku lebih baik membaca buku Jerusalem-nya Simon Sebag Montefiore. aku rasa buku itu lebih penting sampai aku tua nanti dari pada bukunya A Aan Mansyur itu.

oh iya, jika A Aan Mansyur mati hari ini pun, dunia tak akan kehilangan dirinya. banyak duplikat dia yang berkeliaran di negara ini yang dengan cepat akan menggantikannya. tidakkah terlalu banyak penyair nyaris kehilangan keunikannya hari ini dan mukanya hampir sama saja?

dan yah, jika kamu juga seorang penulis, mungkin sedikit berdarah penyair, apa yang ditulis A Aan Mansyur bisa kamu tulis sendiri. jadi kenapa buku A Aan Mansyur tak penting? karena tanpa dia pun, aku dan kau bisa menulis semacam itu, ribuan puisi semacam itu. puisi yang terlalu gampang dibuat bahkan seandainya kita sedang opname di rumah sakit sekalipun.

anggap saja yang membaca A Aan Mansyur dan tergila-gila padanya adalah orang yang tak mampu membuat puisi dan orang yang tak biasa berpikir. buku itu akan cocok untuk otak semacam itu.




Untuk Aan Mansyur


Pagi ini aku terbangun seperti ikan liar di matamu.
Jalanan berlalu lalang di depan mataku dan langit yang pucat.
Tuhan sedang mandi pagi ini, lalu kau cemburu di kisah kuno yang lapuk.
Mungkin kita perlu rehat sejenak dari omong kosong puisi di siang hari.
Dan warna kepalaku tak sempat memulangkan waktu yang terakhir aku temui.

Dan hujan batu pun tak ada di New York sayang. Apalagi hujan gorilla dan orang utan.

Tubuhmu menggigil lemas. Hujan masuk saat puisi lelap menatap jalang pelangi yang sibuk menakar jauh. Ah, segala yang tak mungkin adalah mungkin.

Puisi hanyalah omong kosong di kala orang bodoh terlalu banyak dan mudah didapat. Mengertikah kau? mari sini, aku ajari selagi lepas belum sempat meranggas.

Setiap puisi yang lahir adalah obat bergembira bagi orang-orang tolol di sisi seberang buku-buku bukan? Dan lelaki yang lewat semalam, menyisakan aroma celana dalam di pantatnya. Malaikat hanya menggeleng, hujan jatuh seperti cemas yang tak malu mengais lupa. Ada cinta di ujung kelaminmu. Seekor cicak bergerak di rerimbun potongan lampu.

Melihat api berkerja, seperti melihat anak kecil yang sibuk berak di kedalaman anus dan sebutir mata. Iblis akan memaafkanmu. Tuhan hanya tersenyum liar. Seliar puisi yang tak berucap apa-apa. Kau mau membaca puisiku? Puisi yang terbakar oleh segumpal debu di absurdnya kebohongan yang terlalu beku untuk dijual di pasar-pasar? Baiklah, aku ambilkan kau selembar, asal sehabis kau baca, buang saja ke mulut ketidakjelasan. Dunia hanya kosong bagi sepi yang seperempat beradab dan sedikit liar.

Aku pernah teringat, di masa silam yang jauh, seekor lelaki tua merangkak di atas sudut-sudut.
Menyanyikan matahari. Bermain-main dengan waktu yang suntuk, mengeja gerimis di pepohonan yang hampir padam. Suara bising keramaian bisa membuatku gila.  Bahkan juga kau. dan mungkin seorang penyair yang tak kasat mata di luar galaksi sana.

Segumpal awan berjejalan di rahim yang bisu. Sementara malam sudah hampir jatuh. Aku berjalan pelan menyusuri punggung kata-kata. Besok, maukah kau mampir di atas pecahan hatiku? Sebab musim terus berganti. Aku tak bisa sendirian di alam yang sibuk berperang. Dan keheningan yang dalam hanyalah warna suram dari apa yang tak mampu aku ucapkan.

Di untaian lembut langit yang pualam, ia bentangkan bayangan dirinya sendiri. seperti jatuh. Dan hampir jatuh. Sayang, terlampau sulit dituliskan dan sedikit melelahkan jika dibayangkan. Hanya pendosa yang terbang menuju tuhan dan sekelumit doa. Dan jika api mulai bekerja, tak akan ada lagi yang bekerja pada akhirnya. Dan masihkah ada New York hari ini tatkala sabat adalah wajah sang penyair?

New York yang terlalu banyak foto yang bergentayangan dan puisi yang hanya sekelumit, sekedarnya saja, sebagai penghibur anak kecil yang mendadak autis.

Penyair yang sibuk menjejakkan kaki di negeri seberang, lupa menaruh celana dalamnya di dalam botol bir dan sedikit cuka. Seperti senyummu yang meruntuhkanku. Pulanglah. Tak ada penyair hari ini jika api masih terus bekerja seperti neraka yang menyalanyala setelah mati yang singkat. Terlalu singkat. Masihkah kau mau menuliskan, membacakannya, puisi yang bodoh di wajahku ini, hari ini? maukah kau?


catatan; maaf aku menulis puisi ini dalam waktu lima menit. lima menit. dan seandainya dalam setahun, atau dua tahun hidupku, entah berapa ratus atau ribu puisi semacam ini yang bisa aku buat? heh? itulah kenapa, aku bahkan tak terlalu menganggap penting puisi-puisiku dan tak perduli dibukukan. yah, sedikit ambisiuslah membuat puisi? atau hanya sejauh itulah generasi kita, heh? menjijikkan bukan? buatlah puisi yang membuat aku bisa sampai ingin gantung diri atau meledakkan tuhan!

2) Lelaki Bukan Malaikat



jika kau ingin membaca Lelaki Bukan Malaikat, aku sarankan lebih baik baca saja Bibel atau Alkitab secara langsung. hanya itu. tak lebih. tak ada buku ini pun, Alkitab pun tak merasa kehilangan. dan seandainya buku ini tak terbit pun, seekor kucing pun masih bisa bermalas-malasan dengan tenang di atas sofa.

buku ini aku baca. yah aku baca. gaya bahasanya enak dan renyah. tapi sayangnya, lebih enak saat aku membaca Paris; Sejarah yang Tersembunyi karya Andrew Hussey yang bisa aku bolak-balikkan sepanjang waktu. aku coret. garis bawahi. aku bayangkan. renungkan.

apa buku ini penting? sangat tak penting. duplikat dia pun masih banyak di luar sana. sekali baca, habis. ditaruh rak atau dibuat pupuk. mungkin bisa dijadikan bahan petasan atau dijadikan rumah laba-laba.





untuk Mario F. Lawi


Disalibkan kau, Bapa yang malang. Cahaya redup di sisi yang jauh. Jerusalem yang dingin. Bizantium yang pudar. Mayat-mayat yang bergerak di antara perang dan sedikit remah rotimu. Jamuan agung yang bising dan bisu. Tak senangkah kau pada kutukan kitab-kitab? Sudahkah Maria telanjang di surgaMu? Masihkah ia perawan di sana?

Semenjak Titus lahir dari kemungkinan abu-abu. Dan seekor Nazaret yang membisikan telinga akan mukjizat kerajaan yang jauh. Judas menemui Bapa yang agung. Dan melepuhlah ia sebagai yang terberkati. Judas adalah takdir Bapa untuk anak yang nakal.

**

KapankahTuhan menjelma Yesus, wahai kau Anthanasius? Tanya Arius jalang dari sisi timur.
Semenjak Ia lupa telah tersalib telanjang bagi para wanita di ribuan gereja. Jawab Athanasius dari Aleksandria.
Tata ulanglah salib itu, biarkan Yesus membawa dasi dan kemejanya hai Anthanasius? Tuhan apa yang telah menyebarkan pornografi liar di rumah ibadahnya? Arius meradang geli.
Tidak, tidak Arius. Aku lebih menyukai Tuhan yang telanjang dan membuat berahi. Tidakkah katolik adalah ketelanjangan di geraja-gereja? Itulah Katolikku! Itulah gerejaku! Itulah tuhanku! Athanasius membela dengan lantang.

Di sebarang sana, Konstantin Agung menari di atas singgahsananya. Dan Nicea, adalah kubur bisu bagi yang lainnya.

**

Pagi yang pertama, musim yang ketujuh.
Laut hitam yang mengapung di kedalaman wajah yang terurapi.

Nebukadnezar tersenyum riang di antara 
reruntuhan kuil tuhan.
Bapa yang iseng melahirkan Yesus dikemudian hari.

**

Engkau adalah iblis yang bersemayam di genggam tangan sang Petrus.
Serupa Paulus, tergantung rapi di jeruji besi yang mengangkat James ke surga yang indah; leher yang tergantung di depan Annas yang terpuji.

Pilate ataukah Nero, tanyamu pada Gabriel yang membisu lembut di seberang bukit bercadas.

Ah petrus yang tersalib. Paul yang terpenggal. Dan putra tuhan yang lebih dulu tersalibkan. Bapa yang duduk membisu di kejauhan. Sungguh indah laksana zambrud yang berpijar di lelaut yang dingin.

Dan Baldwin yang melangkah gontai, sang raja lepra yang agung. Memandang jerusalem yang rapuh, seperti jerami yang letih memandang tembok-tembok. Adakah tuhan bagi kota yang tersakiti?

Saladin pun menatap ragu. Hanya ada perang bagimu, selain doa dan kebaikan Urbanus dan hamba Frankmu. Tuhan Arab pun berwarna Yahudi dan juga Kristen. Langit-langit pun berderak. Kuda-kuda berkeriap debu. Tembok-tembok runtuh seperti nyanyian padang gurun yang tenang dan menyegarkan mata.

Di penghujung yang jauh, Mehmet memandang tajam Konstantin yang menua di balik tembok Theodosius yang letih. Gunung-gunung membelah. Perahu-perahu berkecamuk liar. dan mayat-mayat yang menari di atas waktu yang terilhami.

Aku kisahkah layaknya manusia yang memuji sejarahmu yang terbungkus beludru berdarah emas. 
Akankah Engkau berkata? Tuhan adalah waktu yang asing bagi kau dan aku.

Tidak. Tiuplah seruling lupa di mataku yang berkabut, wahai anak adam yang tercerabut mimpi. Teruslah berdoa, andaikan menara yang roboh dilalap burung besi Osama adalah Icarus yang jatuh di kala impian hanyalah domba yang mengembik dengan penuh puji yang dungu.

Masihkah musim menghadirkan paskah yang telanjang di himpitan kursi-kursi wanita yang tak lagi perawan? Dan doa lelaki yang bukan malaikat, telah cemar oleh dosa seluas riak Nil yang tak sempat untuk diakui bahkan disucikan oleh kitab orang yang telah mati.

Tulislah alkitab di tanganmu yang penuh dosa. Juallah. Juallah. Hadirkan Judas dalam kata-katamu. atau, maukah aku bawakan Titus yang Agung, Caligula, Nero atau Simon ben Giora untukmu?

Kau adalah judas bagi sepanjang tipu keindahanmu hai penyair yang rusak dan biasa saja.

Ah aku teringat Gilgamesh, Darius, Xerxes, Leonidas, bahkan Timurleng, apakah besok kau juga akan merampok kisah dan nama-nama mereka untuk puisi yang penuh tipu itu, hai anak domba? Atau kambing?


catatan; ditulis dalam waktu lima sampai sepuluh menit sambil tiduran dan juga mendengarkan musik dan mengkhayal riang.

3) Sergius Mencari Bacchus


ah, buku pemenang sayembara DKJ ini membuat aku ingin tertawa keras seperti badut yang sedang sembelit di pojok langit-langit rumah. aku membacanya di toko buku, langsung aku lempar begitu saja karena sangat tak pentingnya. benar-benar aku lempar kembali ke tempatnya semula. walau jelas, pasti tak akan sama persis di tempatnya semula karena dilempar dari jarak cukup jauh. dari pada membaca buku ini, lebih enak aku membaca ulang karya Homer atau Dua Belas Kaisar milik Suetonius, dan sesekali Oidipus-nya Sophokles.

ah, aneh, apa para penyair kita tak memiliki ambisi besar atau sedikit besar untuk menulis melibihi Goethe, misalnya? atau beberpa penyair Arab-Palestina mungkin?

yang jelas, jika buku ini mendadak lenyap dari muka bumi beserta orangnya, yang tak sengaja tertimpa pohon kelapa atau dimakan buaya, sekali lagi, duplikatnya banyak. penggantinya mudah didapat. jadi tak perlu khawatir.

para penyair Indonesia bukanlah Mozart atau Beethoven yang seadainya mati, sebagian dari dunia akan langsung merasa lemas seketika. bahkan, siapa yang perduli dengan Mozart? ah, kedua orang tuaku saja masih tetap hidup walau tak pernah mengenal Mozart. jadi, seandainya mendadak Norman mati keracunan dan karyanya tiba-tiba dilarang terbit, tak akan ada yang berubah dari dunia ini. itu berarti, bukunya memang tak penting.

oh iya, jika seandainya ada yang merasa buku itu cukup penting, ah, tolonglah buat karya yang mampu melebihi The Origin of Species-nya Darwin. setelah itu aku akan sedikit menimbang dan berpikir.



untuk Norman Pasaribu


Cobalah melibihi Infernonya Dante. Kalau tak bisa, penggal saja lehermu.
Atau kirim balik uang hasil DKJmu.

Terlalu mudah membuat puisi hari ini. Bahkan terlalu mudah menjadi dewan juri.

Maaf, membuat puisi semacam puisimu, aku bisa membuatnya setiap hari, dan setahun, mungkin aku akan memiliki ribuan puisi omong kosong dan yah, apakah bisa aku lombakan nanti ke DKJ berikutnya? Heh?

Karena puisi di negara ini membosankan. Maaf, aku bukan penyair. Bahkan menatap Chairil saja aku tak mampu. Aku malu.

Dan, bisakah puisimu mengembalikan hutan-hutan, gajah yang mati, dan juga orang utan dan burung-burung yang menghilang?

Dan dewan jurimu, sungguh liar benar ia menganggap bakti sosial, isu lingkungan dan dunia yang berisikan perang ternyata tak terlalu penting dari pada kelamin homomu, si Bacchus yang lebih mirip cerita iseng anak kecil itu.

Aku tak tahu, dewan juri macam apa yang lebih suka dengan puisimu dari pada orang mati yang jumlahnya ribuan hampir setiap waktu. Atau sungai yang cemar dan bumi yang hancur dan mulai berantakan. Dewan juri macam apakah itu? Keturunan setan atau ibliskan ia?

Tolong jawablah. Dewan juri macam apa yang menganggap isu lingkungan dan kematian manusia adalah hal yang biasa sedangkan kelamin punyamu adalah hal yang luar biasa?

Ah iya, bolehkah aku minta usul. Coba sita rumah dewan jurimu itu. Atau tempatkan ia di tengah-tengah padang gurun di sisi Lapindo atau jadikan ia mirip orang utan di kepulan asap Riau, selama sepuluh tahun dan buatkan ia gubuk mungil beratap jerami. Mungkin besok ia akan lebih sadar sebagai dewan juri.

Mungkin, kalau dia masih manusia dan bukan hantu atau serupa tuyul yang berkeliaran semau yang ia mau.

Dan semoga puisi menjadi kamus bahasa indonesia!
Atau cerpen, atau esai, renungan singkat, atau catatan
perjalanan, dan mungkin juga sekedar igauan.

Maaf, aku bingung dengan puisi hari ini.
dan aku sangat kebingungan puisi-puisimu itu.


Dewan juri DKJ;

Walaupun manuskrip ini menceritakan sebuah tragedi, kisah-kisahnya disampaikan dengan nada ringan, nyaris komikal (bahkan ada beberapa pastiche ala puisi mbeling), yang justru membuat ceritanya makin tragis. Pemakaian ironi yang mantap! Selain itu, penulis juga menunjukkan kepiawaiannya mencampuradukkan berbagai macam refrensi, alusi, dan gaya. Dari yang kuno sampai yang kekinian, dan high culture sampai ke pop culture. Sering refrensi-refrensi ini menunjukkan bukti telah dipertimbangkan dengan matang untuk menjadi hyperlink yang memberikan petunjuk sekaligus kedalaman lebih lanjut tentang tema kegaulauan identitas homoseksual dan transgendernya. Manuskrip 78 ini, “Sergius Mencari Bacchus” (sebagai salah satu bukti pemilihan refrensi yang matang tadi, Santo Sergius dan Bacchus adalah martir dari abad ke-4 yang karena persahabatan mereka yang erat sering diadopsi sebagai gay icons) bisa jadi akan membuka jalan bagi puisi dan penyair serupa setelahnya. Penulisnya telah menghadirkan satu problem dan situasi kontemporer yang pelik dan jarang disentuh oleh penyair lain lewat kemasan yang juga sangat kekinian dalam interekstualitasnya. “Sergius Mencari Bacchus” paling menjawab keinginan kami menemukan naskah yang menawarkan tema kuat, kebaruan, dan teknik penulisan segar dan mumpuni. Karena itulah kami memilih naskah karya Norman Erikson Pasaribu ini sebagai yang terbaik.


Jawaban untuk Juri DKJ:

Setelah ini, kita bisa mulai merenungkan mengenai puisi masa depan keinginan dewan juri; besok kita bisa menulis tentang bersenggema dengan botol Aqua atau keledai dan kucing. Banyak kelainan seksual semacam ini. Kita bisa menulis tentang kanibalisme yang elegan yang jarang diekspos. Atau mungkin kita bisa juga menulis puisi tentang kutu air, kutu debu, atau kepiting yang juga sangat jarang ditulis di Indonesia. Kita juga bisa menulis berbagai macam jenis gangguan jiwa yang jarang juga diekspos dan ditulis. Bisa juga kita besok menulis Ahmadiyah, Syiah dan mungkin Lia Eden? Tidakkah jarang yang menulis puisi menyoal itu di sini? Atau paling tidak, kita bisa menulis perihal kambing dan ember minumnya. Atau seterika dengan celana dalam. Kursi dengan sperma. Ibu hamil yang masih sibuk berhubungan badan. Laki-laki botak yang menggambar Ayu Utami. Atau anak kecil yang memperkosa teman sekelasnya. Ah realita sosial macam itu tak begitu penting di dalam puisi. Lebih baik, puisi masa depan adalah sepatu hak tinggi yang terbang di atas surga. Mobil mewah yang berkerumun di hotel remang-remang. Dan bisakah besok kita menulis puisi tentang cinta terlarang anak dan ibu, bapak dan anak, atau guru sekolah menghamili muridnya?

Ah, banyak betul yang besok harus ditulis. Dan mengenai global warming, pembantaian di Suriah, Kongo, Burundi, efek rumah kaca, kepunahan hewan, penggusuran, itu tak penting. Habisnya ladang dan sawah juga tak penting. Lebih penting lebianisme atau homoisme. dan juga hal remeh temeh keseharian yang cepat habis dan membosankan. dan malah seperti cerpen, catatan harian atau buku panduan dan brosur mengemis. Jadi, kenapa tak sekalian saja dewan juri berkata terus terang besok tak ingin lagi makan nasi dari penduduk desa, atau segala macam hal yang berasal dari pertanian? Dan kenapa masih ingin jadi konsumen yang berada di perkotaan dan mulailah menamam makananmu dan buatlah gas kompormu sendiri, baru setelah itu lantangkanlah mengenai transgender dan sebagainya. Aku tak membenci transgender, lesbi atau homo. Tapi jika gajah punah di Indonesia. Homo tak akan punah sampai kapanpun kok. Bahkan sejak masa Romawi hingga kini makin banyakkan? Jika petani musnah di negara ini, apakah para homo perkotaan mau jadi petani, dewan juri mau jadi petani, dan membuat padinya sendiri? Homo makan nasi, meminum air, dan membuat rumah yang membuka hutan dan memusnah orang utan, badak, dan burung-burung. Tapi apa burung-burung, badak dan orang utan memakan homo dan dewan juri? Tidak. Jelas tidak. Jadi mana yang lebih penting untuk diselamatkan dan direnungkan, bahkan dalam puisi? Apakah burung pipit yang memakan gay atau si gay yang memakan burung pipit?

Ah penyair kita, dan dewan juri kita, otaknya sudah terlanjur tertular virus perkotaan. Tolong lebih cerdas sedikit dalam berpikir yak. Ataukah jangan-jangan dewan juri kita tak terlalu cerdas dan cukup tahu tentang perkembangan perdebatan lingkungan hidup, sains, astronomi dan mungkin, filsafat moral?


4) Saman dan buku Ayu Utami lainnya



aku hampir membaca semua buku Ayu Utami dan memilikinya. dan setelah aku baca, renungkan, aku timbang. ah, lebih baik aku membaca buku-buku Naomi Wolf, Naomi Klein atau mungkin Simon de Beavour.

apa buku Ayu Utami penting? yah enak dibaca. renyah. dan cukup bagus dan banyak hal di situ. tapi, yah harus kita akui, buku itu mungkin penting bagi banyak orang. tapi tetap saja, dalam kategori terluasnya, buku itu tak mampu menggeser bukunya Niezsche, Zarathusrta dan beberapa buku lainnya yang jelas-jelas anti wanita, eh perempuan.

untuk para feminis, buatlah karya yang mampu melampaui para pembenci perempuan, misoginis terbesar dalam sejarah yah.

5) Kambing dan Hujan


mari kita sedikit berpikir dan memilih, hayu lebih penting mana novel Kambing dan Hujan dari Mahfud Ikhwan dari pada Agama Jawa Clifford Geerzt dan Mengislamkan Jawa milik M. C. Ricklef? 

kalau dalam seumur hidupmu atau berbagai generasi ternyata Agama Jawa dan Mengislamkan Jawa yang lebih berpengaruh, dibuka, dipelajari, dan dianggap bacaan wajib dan penting, maka, Kambing dan Hujan tak terlalu penting. tapi jika sebaliknya, jika Kambing dan Hujan dibaca berulang-ulang, dicorat-coret dan digaris bawahi, didiskusikan sepanjang waktu, dikutip di berbagai jurnal dan dan penelitian internasional, yah itu berarti novel itu penting. 

jadi, mana menurutmu yang lebih penting dan harus kamu selamatkan lebih dulu jika rumah kamu terbakar?

6) Buku Pemenang DKJ hari ini


maaf, boleh aku bertanya, apakah buku-buku pemenang DKJ modern, dalam artian setelah 2000an sudah melampaui Dostoevsky atau Tolstoy?

ah, jika belum, lebih baik aku membaca milik Milan Kundera lebih dulu, Kitab Lupa dan Gelak Tawa, tapi sungguh membosankan dan biasa saja. itu Milan Kundera yang sudah bernama. 

ah iya, apakah buku-buku baru pemenang DKJ sudah melampaui Pram, Hamka, Iwan Simatupang, Ahmad Tohari, dan Mangunwijaya? ah belum. belum. sungguh belum. berarti, tidakkah itu kemunduran? entahlah. yang jelas, jika buku-buku itu hilang pun, dimakan cacing laut atau dijadikan api unggun untuk membakar ikan di sungai, buku-buku itu tak sepenting penemuan Einstein, Heisenberg, Stephen Hawking atau Peter W. Higgs.

7) buku-buku Eka Kurnaiwan



jika kamu cukup waras, bandingkanlah buku Eka, Lelaki Harimau dengan Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta milik Luis Sepulveda. mana yang lebih menarik? kita baru sekedar memperbincangkan kata menarik. banyak buku menarik tapi tak penting dan bisa diacuhkan begitu saja bukan?

ah, bisakah Eka menulis layaknya Mangunwijaya dalam Roro Mendut? atau paling tidak, sebuah novel yang menampilkan cukup detail dan tidak hanya sekedar imajinasi yang bisa ditulis dengan mudahnya. sejujurnya, buku Eka Kurniawan kalau dibandingkan dengan buku Teenlit atau novel remaja, apa bedanya?

mungkin banyak orang menganggap buku Eka bagus dan sangat banyak yang tergila-gila dengannya. tapi, aku lebih suka membaca The History of Arabs Philip K. Hitti, Kepulauan Nusantara Alfred Russel Wallace, History of Java Thomas Raffles atau Tafsir Mimpi-nya Sigmund Freud. aku rasa lebih bermanfaat membaca buku itu dari pada milik Eka. 

dan jika dibandingkan dengan Ismail Kadare, buku kecil yang berjudul Piramid itu, ah, cobalah bandingkan sendiri. jika lebih bagus milik Eka, kamu bisa datang ke tempatku berada, lalu gantunglah aku semaumu. 

kalau boleh tanya, mana kedua buku ini yang lebih layak kamu miliki dan pertahankan di rak kamar milikmu? 

Di Bawah Bendera Revolusi milik Soekarno atau buku-buku Eka? atau, jika disuruh memilih di rak buku secara gratis, mana yang akan kamu pilih, seluruh buku milik Pram terlebih tetraloginya atau buku milik Eka?

8) Pulang


awalnya lumayan. pada akhirnya membosankan. mirip kebanyakan buku lainya setelah Ayu Utami. terlalu tak jelas. banyak seks. dan yah, jika disejajarkan di samping bukunya Emile Zola, Germinal, perbedaannya sangat terlihat.

jika memandingkan sebuah buku, tak perlu tanggung-tanggung. masalahnya aku pembaca yang cukup waras dan punya sedikit kesadaran memilih sebuah buku dan menilai isinya. dan tidakkah banyak dari kita juga sedikit waras menilai dan mengagungkan sebuah buku?

jadi apa buku ini penting? 
buku ini tak berpengaruh terhadap apapun. jika lenyap dari muka bumi pun, banyak buku Eropa dan Asia yang lebih baik dari buku ini. contohnya, Anak-Anak Langit karya Terrence Cheng.

dan oh iya, seluruh buku milik penulis Indonesia, untuk saat ini, aku yakin, tak akan mampu bisa sepenting buku Herman Melville, Chervantes, Kipling, atau paling tidak, karya Kant, Schopenhauer, atau juga Edward Said. oh ya, mungkin buku kecil mungil Lelaki Tua dan Laut.

9) Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, dan lainnya.


Gadis Kretek Ratih Kumala, dan buku-buku Okky Madasari, buku-buku Dee, Andrea Hirata, Asma Nadia, Tere Liye, Tasaro GKdan terserahlah, ditambah saja yang lainya hingga bosan; dari mulai Benny Arnas, Bernard Batubara, sampai pada berbagai macam karya sastra yang jumlahnya banyak itu. Bisakah sastra menyelesaikan apa yang tak mampu diselesaikan Kant dan akhirnya Alan Weisman? Apakah sastra, hanya sekedar pemanja hidup, membuat orang sedikit hilang dari stressnya, ataukah ia hanya sekedar permasalah sehari-hari yang tak akan pernah selesai? Sementara sastra yang berpihak, ya  berpihak pada yang tertindas, terbuang, dan tergusur, apakah yang tergusur itu sadar dengan dunia yang hampa ini? atau, kau membantu orang yang tergusur itu, terlebih yang beragama, besok dia mati, langsung masuk neraka. Jadi bantuanmu di dalam sastra sama saja tak berguna. Buatlah sastra setelah tuhan benar-benar mati dan mungkin ingin bunuh diri. Atau seandainya ia ateis, ditembak polisi pun harusnya kita senang. Dia akan bebas dari rasa sakit dan hanya sekedar menjadi siklus energi alam. Jadi, apa yang yang penting dari sastra di sebuah dunia semacam ini?

Kalau begitu, dari pada membelikan uang ke sastra yang tak jelas dan membosankan itu. Akan jauh lebih penting membeli majalah National Geographic, berdonasi ke WWF, atau membeli buku-buku Richard Dawkins dan berpikir tentang alam semesta yang mungkin hampa ini.

Dan yah, sejujurnya masih banyak yang ingin masukkan. tapi juga tak terlalu penting amat untuk ditulis semua bukan?