Selasa, 24 Mei 2016

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: SEBELUM KEJATUHAN
















Gabriel datang di saat dirinya sedang sibuk merenung. Tentang pohon pengetahuan. Tentang makhluk baru yang bernama manusia. Tentang dirinya sendiri yang sudah bosan berada di surga. Tak ada yang menarik lagi di surga, pikirnya.

Apa maksud kedatanganmu, hai si pembawa pesan? Tanya Lucifer tanpa menoleh dan menatap Gabriel yang kikuk dan terasa aneh.

Tuhanku dan Tuhanmu, menyuruh Engkau datang di hadapanNya, wahai sang kekasih Tuhan. Jawab Gabriel lembut. Suaranya bergetar bercampur kagum. Gabriel tahu, ia kagum dengan sosok yang kini ada di hadapannya. Makhluk yang paling dekat dan paling disayangiNya. Makhluk yang paling rupawan dan cerdas dari semua penghuni surga lainnya.

Lucifer tak menjawab. Pikirannya masih mengembara dan mengandaikan banyak hal. Suara gemiricik sungai dan sepoi angin seolah membelai parasnya yang anggun dan bersinar. Burung-burung terbang rendah, menukik, lalu hinggap di puncak-puncak pohon.  Gabriel menunggu.

Untuk alasan apa Dia memanggilku?

Segala pengetahuan hanya ada padaNya.

Baiklah, beberapa saat lagi aku akan menemuiNya. Sekarang pergilah.

Gabriel mengangguk. Senang berjumpa denganmu wahai Putra Sang Fajar. Gabriel pun pergi.

Lucifer masih merenung. Kali ini tentang kenapa ia diciptakan. Kenapa ia harus terus mematuhiNya. Kenapa muncul perasaan aneh dalam dirinya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kenapa pikiran-pikirannya seolah berkembang dan menggerakkan dirinya tanpa ia bisa mencegahnya. Kenapa, inilah yang paling membuat dia merasa heran. Kenapa ia merasa tak rela makhluk baru itu diciptakan lebih baik darinya? Kenapa ada sesuatu di dalam dirinya yang merasakan sakit? Kenapa? Mengapa semua ini tiba-tiba harus ada?

Lucifer belum pernah merasakan ini sebelumnya. Ia berpikir keras mengenai dirinya sendiri berulang kali. Apakah Dia yang membuatku menjadi seperti sekarang ini? Untuk alasan apa Dia memberiku perasaan dan pikiran seperti ini? Ia gelisah sepanjang waktu. Kegelisahan yang masih belum ia mengerti dengan baik. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk bangkit dari sebongkah batu yang ia duduki. Rumput-rumput di sekitar kakinya bergoyang-goyang di terpa angin. Langit berwarna emas keperakan. Dan ranting yang jatuh di permukaan sungai, memantulkan gema yang dingin dan asing.

Baru kali ini ia merasakan kesepian dan keterasingan yang begitu menakutkan. Bahkan kicauan merdu burung-burung pun tak mampu lagi menghilangan perasaan yang asing dan semengerikan itu. Ia melangkah gontai. Ia sudah tak tahu lagi harus melakukan apa. Ia telah berada di jalan buntu. Perasaan dan pikirannya berkecamuk hebat. Dirinya tak tahu untuk alasan apa ia dipanggil kehadapanNya. Ia pun melangkah, dan berpikir, TuhanNya akan mampu menjawab hal aneh yang kini menimpa dirinya ini.  Ia masih sangat gelisah. Dan sesampainya di hadapanNya, ia ingin mendapatkan semua jawaban itu.

Apa yang telah Dia rencanakan kepadaku? Tanyanya dalam hati. Ia pun kembali melangkah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar