Gabriel datang di saat
dirinya sedang sibuk merenung. Tentang pohon pengetahuan. Tentang makhluk baru
yang bernama manusia. Tentang dirinya sendiri yang sudah bosan berada di surga.
Tak ada yang menarik lagi di surga, pikirnya.
Apa maksud kedatanganmu,
hai si pembawa pesan? Tanya Lucifer tanpa menoleh dan menatap Gabriel yang
kikuk dan terasa aneh.
Tuhanku dan Tuhanmu,
menyuruh Engkau datang di hadapanNya, wahai sang kekasih Tuhan. Jawab Gabriel
lembut. Suaranya bergetar bercampur kagum. Gabriel tahu, ia kagum dengan sosok
yang kini ada di hadapannya. Makhluk yang paling dekat dan paling disayangiNya.
Makhluk yang paling rupawan dan cerdas dari semua penghuni surga lainnya.
Lucifer tak menjawab.
Pikirannya masih mengembara dan mengandaikan banyak hal. Suara gemiricik sungai
dan sepoi angin seolah membelai parasnya yang anggun dan bersinar.
Burung-burung terbang rendah, menukik, lalu hinggap di puncak-puncak
pohon. Gabriel menunggu.
Untuk alasan apa Dia
memanggilku?
Segala pengetahuan hanya
ada padaNya.
Baiklah, beberapa saat
lagi aku akan menemuiNya. Sekarang pergilah.
Gabriel mengangguk.
Senang berjumpa denganmu wahai Putra Sang Fajar. Gabriel pun pergi.
Lucifer masih merenung.
Kali ini tentang kenapa ia diciptakan. Kenapa ia harus terus mematuhiNya.
Kenapa muncul perasaan aneh dalam dirinya yang belum pernah ia rasakan
sebelumnya. Kenapa pikiran-pikirannya seolah berkembang dan menggerakkan
dirinya tanpa ia bisa mencegahnya. Kenapa, inilah yang paling membuat dia
merasa heran. Kenapa ia merasa tak rela makhluk baru itu diciptakan lebih baik
darinya? Kenapa ada sesuatu di dalam dirinya yang merasakan sakit? Kenapa?
Mengapa semua ini tiba-tiba harus ada?
Lucifer belum pernah
merasakan ini sebelumnya. Ia berpikir keras mengenai dirinya sendiri berulang
kali. Apakah Dia yang membuatku menjadi seperti sekarang ini? Untuk alasan apa
Dia memberiku perasaan dan pikiran seperti ini? Ia gelisah sepanjang waktu.
Kegelisahan yang masih belum ia mengerti dengan baik. Pada akhirnya, ia
memutuskan untuk bangkit dari sebongkah batu yang ia duduki. Rumput-rumput di
sekitar kakinya bergoyang-goyang di terpa angin. Langit berwarna emas
keperakan. Dan ranting yang jatuh di permukaan sungai, memantulkan gema yang
dingin dan asing.
Baru kali ini ia
merasakan kesepian dan keterasingan yang begitu menakutkan. Bahkan kicauan
merdu burung-burung pun tak mampu lagi menghilangan perasaan yang asing dan
semengerikan itu. Ia melangkah gontai. Ia sudah tak tahu lagi harus melakukan
apa. Ia telah berada di jalan buntu. Perasaan dan pikirannya berkecamuk hebat. Dirinya
tak tahu untuk alasan apa ia dipanggil kehadapanNya. Ia pun melangkah, dan
berpikir, TuhanNya akan mampu menjawab hal aneh yang kini menimpa dirinya ini. Ia masih sangat gelisah. Dan sesampainya di
hadapanNya, ia ingin mendapatkan semua jawaban itu.
Apa yang telah Dia
rencanakan kepadaku? Tanyanya dalam hati. Ia pun kembali melangkah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar