Selasa, 17 Mei 2016

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: CALIGULA














Gaius kecil berjalan di antara tumpukan mayat masa lalu. Dilahirkan antara bayang-bayang Tiberius dan keluarga yang nyaris tersapu bersih oleh politik. Ia tumbuh menjadi laki-laki yang berasal dari kebingungan dan rasa sakit yang hampa. Ia sering berjalan sendirian di antara dua dunia yang memaksa dirinya untuk memilih. Hingga akhirnya, seluruh rasa sayang hanyalah kosong dan diliputi oleh kebencian.

Ia yang dicintai oleh seluruh rakyat Roma. Ia yang hidup di antara para tentara dan sangat disayang oleh mereka. Hingga akhirnya ia mendapatkan sebuah nama, Caligula, Bot Kecil, di masa-masa kematian Agustus tersebar luas dan membuat panik seluruh wilayah kekaisaran. Dan ketika Tiberius akhirnya menjadi seorang kaisar, perlahan dan pasti, dirinya pun semakin terpecah.

Kasih sayang tak selamanya membawa kebaikan. Cinta yang berjarak tak akan pernah bisa menyembuhkan rasa sakit. Dan kesendirian yang terlalu lama, menyemai benih teror yang tak tertahankan.

Dia teringat akan masa kecilnya yang jauh. Dan dia bertanya-tanya, mengapa Jupiter menemui dirinya pada waktu itu? Dan tubuhnya yang sakit-sakitan, wajahnya yang terbilang buruk, kepalanya yang terlihat botak, kakinya yang lemah, epilepsi yang terus mengganggunya tiada henti, dan keluarga yang hanya tinggal masa lalu, membuat dia ingin membenci dunia ini. Di dalam hatinya, terbesit kemarahan yang besar terhadap seluruh manusia bahkan dewa-dewa. Ia pun semakin membenci Jupiter. Bahkan, ia ingin menggantikan sosok dewa itu suatu saat nanti dengan dirinya.

Jika aku keberadaan yang dikutuk. Akan aku kutuk dunia ini oleh keberaanku! Geramnya dari hati yang terluka dan hampa. Lalu ia pun tersungkur sambil menangis. Menangis sepanjang malam di sudut ruang Tiberius yang diselimuti kemegahan yang kosong. Kenapa Kau melahirkan aku seperti ini? Kenapa?! Ia pun jatuh tertidur dalam kelelahan yang sendu.



Di hari ketika ia membunuh Tiberius, kepribadiannya kian goyah. Ia semakin kesusahan untuk menilai dirinya sendiri. Ia terombang ambing oleh dirinya yang baik hati dan sisi dirinya yang sangat brutal. Saat akhirnya dirinya dinobatkan sebagai kaisar, seluruh rakyat Romawi pun bergembira. Masa-masa kekuasaan Tiberius yang sangat kejam dan dipenuhi teror akan segala berlalu. Itulah harapan segenap rakyat Romawi tanpa tahu akan akibat dari jiwa seorang anak kecil yang terluka dan hancur.

Dunia tak lagi berarti bagi seorang manusia yang telah kehilangan segalanya. Bahkan dirinya sendiri.



Awal pemerintahannya dipenuhi dengan segala jenis kebaikan yang pernah dikenal manusia dan rakyat Romawi. Gaius mencabut hukuman kriminal dalam bentuk apa pun di masa Tiberius, mempublikasikan anggaran kekaisaran, memberikan kembali rakyat hak untuk bersuara, menurunkan para pejabat yang dinilai buruk dan jahat, menegakkan kembali hukum di tangan para hakim, memperbolehkan kembali karya-karya besar yang pernah dilarang untuk diterbitkan, menurunkan pajak, membayar ganti rugi terhadap apa yang pernah dilakukan oleh pendahulunya, menyelenggarakan berbagai macam pertunjukkan olahraga, yang di antaranya adalah Gladiator. Dirinya pun menyeelsaikan berbagai macam proyek yang sempat terlantar di masa Tiberius.

Di malam Saturnalia, di saat gegap gempita yang dipenuhi suka cita rakyat Romawi, ia menemukan secarik kertas, yang kemungkinan besar adalah milik Tiberius.

Akan anggur keras dia tidak haus
Seperti dulu dia haus,
Tetapi dia cari kehangatan di camgkir yang lebih enak
Darah orang yang terbunuh.

Ada perasaan liar tak tertahankan di dalam dirinya sesaat setelah selesai membaca puisi itu. Perasaan yang coba ia tahan dan ingin singkirkan. Perasaan yang dipenuhi dengan rasa kagum, kelegaan, dan yang tak mampu dilukiskan oleh apapun. Perasaan yang datang dari jiwanya yang paling gelap. Perasaan ingin membalas dendam dengan membabi-buta. Dan perasaan itu akhirnya membawa dirinya ke dunia lain. Sebuah dunia yang tak lagi mengenal baik dan buruk.



Kesalahan terbesar apa yang seringkali disebut rakyat adalah kebodohannya untuk menilai kedalaman jiwa dan pikiran seorang manusia. Dan mengangkat seorang pemimpin yang salah adalah kebajikan tertinggi yang terlalu sering, dari rakyat yang tolol dan pengecut. Gaius menyadari kebodohan nyata rakyat Romawi yang terlalu memujanya bahkan melindunginya di saat ia sedang sakit.

Mereka telah memberikanku kekuasaan yang sangat besar untuk membunuh diri mereka sendiri. Bukan aku yang salah. Tak ada kaisar yang bisa disalahkan jika rakyat yang bodohlah yang memilihnya. Biarlah rakyat yang akan mengutuk kebodohannya sendiri dan terjatuh dalam lumpur penderitaan! Teriak Gaius dengan lantang dihadapan para senat yang putus asa.

Saat ia menyuruh seorang ayah untuk menyaksikan kematian anaknya sendiri,  ia berujar kepada algojonya, buat dia merasa seperti apa rasanya sekarat!

Ia menghukum mati seorang senator yang ia curigai dan menyeretnya menggunakan kereta dengan perut yang terluka dan usus yang keluar berceceran di jalanan. Dirinya juga memerintahkan agar menggunakan para kriminal sebagai makanan para hewan buas yang sedang ia persiapkan untuk pertunjukkan gladiator. Bahkan, dia tak segan-segan untuk membunuh semua orang yang ia kenal bahkan jika itu istrinya sendiri.

Kekejaman tanpa seni adalah buruk, ujuranya kepada Caesonia, istrinya, saat sedang menyaksikan sebuah drama yang menurutnya membosankan. Lalu ia menyuruh salah seorang yang berada di dekat dirinya untuk menusuk perut salah seorang yang sedang terlibat di panggung agar pertunjukkan lebih menyenangkan dan terlihat nyata.

Sejujurnya, ia sudah bosan dengan kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Dirinya selalu berharap akan ada kejadian besar yang mampu menghibur dirinya yang sudah jenuh dengan apapun. Ia sangat ingin ada perang besar terjadi, pembantaian massal, aura keputusasaan dari rakyatnya, atau gempa bumi, laut pasang, badai, bahkan wabah penyakit dan segala macam jenis kematian yang mungkin akan sedikit memuaskannya. Kesejahteraan dan masa yang damai hanya untuk orang-orang bodoh dan biasa. Baginya, itu sama saja tak akan adanya hal-hal besar dan menarik. Itu juga berarti, nama dirinya akan mudah dilupakan begitu saja.



Ia adalah seorang seniman. Tapi baginya, seni tanpa pembunuhan dan kematian adalah hampa. Seni tanpa darah yang berceceran hanyalah membosankan. Dan rakyat baginya hanya omong kosong yang tak penting, yang bahkan terbukti gagal menghibur jiwanya.

Panggil aku Jupiter Latiaris, ucapnya, dihadapan semua tamu penting dari seluruh wilayah Romawi yang hadir dalam jamuan makan tanpa bisa menolak sepatah kata pun. Ia ingin disejajarkan sebagai dewa tertinggi bangsa Latin, yang disembah di selatan Roma. Dan terkadang, bahkan ia bertindak layakrnya dewa dengan memerintahkan untuk membunuh siapa saja orang yang tak disukainya. Dan mendirikan berbagai macam monumen dan bangunan secara besar-besaran untuk mengagungkan dan menyenangkan dirinya.

Dan di suatu sore, saat ia sedang berjalan di salah satu koridor istananya, sesosok bayangan berkelebat di atas kepalanya. Serta merta menghadang dirinya hingga terjungkal dengan penuh ketakutan.

Apa yang kau takutkan wahai anakku? Berdirilah.  Dan selesaikan apa yang dulu pernah aku katakan Kepadamu. Waktumu sudah semakin dekat. Jangan kau berikan padaku pertunjukkan yang lemah dan terlihat konyol di altarku, hai kau anak Germanicus. Agungkanlah dirimu dengan darah, kematian, dan pemujaan yang sama denganku. Apa yang selama ini kau lakukan belumlah cukup untuk menyamai kebesaranku. Lakukanlah apa yang aku perintahkan ini dengan sisa hidupmu yang tinggal beberapa bulan lagi. Penuhi janjimu dan tunjukkan aku bagaimana teka-teki itu mampu kau uraikan dihadapanku.

Lalu bayangan itu pun menghilang dengan cepat, secepat kedatangannya. Gaius masih terpaku seperti ketika ia bertemu dengannya sewaktu kecil. Tapi kali ini, ia tahu apa yang harus dilakukannya.

Ia membangun begitu banyak monumen, tempat peristirahatan, dan berbagai macam gedung pertunjukkan dan mengambur-hamburkan uang istana dengan begitu cepatnya. Hingga akhirnya ia pun jatuh bangkrut. Lalu merampok banyak harta warga Romawi dengan segala macam cara.

Semakin lama ia dibenci oleh rakyatnya sendiri. Rakyat yang dulu memilih, melindungi dan mencintainya. Tapi ketika kritikan itu datang, ia akan langsung membunuh orang, siapapun itu, yang mencoba untuk mengkritiknya.

Kalian sendirilah yang telah memilihku! Tukasnya geram. Aku bisa memotong leher kalian semua jika aku mau. Akulah sang Jupiter Agung! Akulah yang harus kalian sembah! Akulah dunia!

Sambil menari-nari, ia hujamkan pisaunya ke salah satu consul yang menemuinya secara menjengkelkan. Atau mengambill dari siapapun wanita yang ia maui dan setelah bosan ia lemparkan begitu saja. Dan setelah menimbang-nimbang waktu hidupnya yang hampir habis, ia pun memutuskan untuk merencanakan serangan militer untuk pertamakalinya dan memaksa Adminius, putra Cynobellinus raja Britania, bertekuk lutut. Bahkan dia berencana untuk membunuh semua legiunaris yang dulu pernah menyerbu ayahnya. Dan mengeluh kelahiran anaknya sendiri sebagai beban.

Biarkan mereka membenci aku, selama mereka takut pada diriku, sesumbarnya sekali lagi kepada senat yang ketakutan.

Dan pada suatu pagi, sesaat ia bangun dari tempat tidurnya, bayangan Jupiter melayang-layang di atas langit-langit Istana. Apakah sudah waktunya? Pikirnya dalam hati. Baru beberapa langkah saja ia menapak, sebilah pedang menggorok lehernya dan sebuah pisau belati menghujam punggungnya. Seketika ia terkapar. Nafasnya tersengal-sengal. Darah memenuhi mulutnya. Apakah aku sudah memecahkan teka-tekimu! Apakah aku sudah memecahkannya! Teriaknya lancang, sebelum sebilah pisau berlumuran darah kembali terhujam di dadanya yang berwarna merah. 

Dan Jupiter pun menggeleng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar