Gaius kecil berjalan di
antara tumpukan mayat masa lalu. Dilahirkan antara bayang-bayang Tiberius dan
keluarga yang nyaris tersapu bersih oleh politik. Ia tumbuh menjadi laki-laki
yang berasal dari kebingungan dan rasa sakit yang hampa. Ia sering berjalan
sendirian di antara dua dunia yang memaksa dirinya untuk memilih. Hingga
akhirnya, seluruh rasa sayang hanyalah kosong dan diliputi oleh kebencian.
Ia yang dicintai oleh
seluruh rakyat Roma. Ia yang hidup di antara para tentara dan sangat disayang
oleh mereka. Hingga akhirnya ia mendapatkan sebuah nama, Caligula, Bot Kecil,
di masa-masa kematian Agustus tersebar luas dan membuat panik seluruh wilayah
kekaisaran. Dan ketika Tiberius akhirnya menjadi seorang kaisar, perlahan dan
pasti, dirinya pun semakin terpecah.
Kasih sayang tak
selamanya membawa kebaikan. Cinta yang berjarak tak akan pernah bisa
menyembuhkan rasa sakit. Dan kesendirian yang terlalu lama, menyemai benih
teror yang tak tertahankan.
Dia teringat akan masa
kecilnya yang jauh. Dan dia bertanya-tanya, mengapa Jupiter menemui dirinya
pada waktu itu? Dan tubuhnya yang sakit-sakitan, wajahnya yang terbilang buruk,
kepalanya yang terlihat botak, kakinya yang lemah, epilepsi yang terus
mengganggunya tiada henti, dan keluarga yang hanya tinggal masa lalu, membuat
dia ingin membenci dunia ini. Di dalam hatinya, terbesit kemarahan yang besar
terhadap seluruh manusia bahkan dewa-dewa. Ia pun semakin membenci Jupiter.
Bahkan, ia ingin menggantikan sosok dewa itu suatu saat nanti dengan dirinya.
Jika aku keberadaan yang
dikutuk. Akan aku kutuk dunia ini oleh keberaanku! Geramnya dari hati yang
terluka dan hampa. Lalu ia pun tersungkur sambil menangis. Menangis sepanjang
malam di sudut ruang Tiberius yang diselimuti kemegahan yang kosong. Kenapa Kau
melahirkan aku seperti ini? Kenapa?! Ia pun jatuh tertidur dalam kelelahan yang
sendu.
Di hari ketika ia
membunuh Tiberius, kepribadiannya kian goyah. Ia semakin kesusahan untuk
menilai dirinya sendiri. Ia terombang ambing oleh dirinya yang baik hati dan
sisi dirinya yang sangat brutal. Saat akhirnya dirinya dinobatkan sebagai
kaisar, seluruh rakyat Romawi pun bergembira. Masa-masa kekuasaan Tiberius yang
sangat kejam dan dipenuhi teror akan segala berlalu. Itulah harapan segenap
rakyat Romawi tanpa tahu akan akibat dari jiwa seorang anak kecil yang terluka
dan hancur.
Dunia tak lagi berarti
bagi seorang manusia yang telah kehilangan segalanya. Bahkan dirinya sendiri.
Awal pemerintahannya
dipenuhi dengan segala jenis kebaikan yang pernah dikenal manusia dan rakyat
Romawi. Gaius mencabut hukuman kriminal dalam bentuk apa pun di masa Tiberius,
mempublikasikan anggaran kekaisaran, memberikan kembali rakyat hak untuk
bersuara, menurunkan para pejabat yang dinilai buruk dan jahat, menegakkan
kembali hukum di tangan para hakim, memperbolehkan kembali karya-karya besar
yang pernah dilarang untuk diterbitkan, menurunkan pajak, membayar ganti rugi
terhadap apa yang pernah dilakukan oleh pendahulunya, menyelenggarakan berbagai
macam pertunjukkan olahraga, yang di antaranya adalah Gladiator. Dirinya pun
menyeelsaikan berbagai macam proyek yang sempat terlantar di masa Tiberius.
Di malam Saturnalia, di
saat gegap gempita yang dipenuhi suka cita rakyat Romawi, ia menemukan secarik
kertas, yang kemungkinan besar adalah milik Tiberius.
Akan
anggur keras dia tidak haus
Seperti
dulu dia haus,
Tetapi
dia cari kehangatan di camgkir yang lebih enak
Darah
orang yang terbunuh.
Ada perasaan liar tak
tertahankan di dalam dirinya sesaat setelah selesai membaca puisi itu. Perasaan
yang coba ia tahan dan ingin singkirkan. Perasaan yang dipenuhi dengan rasa
kagum, kelegaan, dan yang tak mampu dilukiskan oleh apapun. Perasaan yang
datang dari jiwanya yang paling gelap. Perasaan ingin membalas dendam dengan
membabi-buta. Dan perasaan itu akhirnya membawa dirinya ke dunia lain. Sebuah
dunia yang tak lagi mengenal baik dan buruk.
Kesalahan terbesar apa
yang seringkali disebut rakyat adalah kebodohannya untuk menilai kedalaman jiwa
dan pikiran seorang manusia. Dan mengangkat seorang pemimpin yang salah adalah
kebajikan tertinggi yang terlalu sering, dari rakyat yang tolol dan pengecut.
Gaius menyadari kebodohan nyata rakyat Romawi yang terlalu memujanya bahkan
melindunginya di saat ia sedang sakit.
Mereka telah memberikanku
kekuasaan yang sangat besar untuk membunuh diri mereka sendiri. Bukan aku yang
salah. Tak ada kaisar yang bisa disalahkan jika rakyat yang bodohlah yang
memilihnya. Biarlah rakyat yang akan mengutuk kebodohannya sendiri dan terjatuh
dalam lumpur penderitaan! Teriak Gaius dengan lantang dihadapan para senat yang
putus asa.
Saat ia menyuruh seorang
ayah untuk menyaksikan kematian anaknya sendiri, ia berujar kepada algojonya, buat dia merasa
seperti apa rasanya sekarat!
Ia menghukum mati seorang
senator yang ia curigai dan menyeretnya menggunakan kereta dengan perut yang
terluka dan usus yang keluar berceceran di jalanan. Dirinya juga memerintahkan
agar menggunakan para kriminal sebagai makanan para hewan buas yang sedang ia
persiapkan untuk pertunjukkan gladiator. Bahkan, dia tak segan-segan untuk
membunuh semua orang yang ia kenal bahkan jika itu istrinya sendiri.
Kekejaman tanpa seni
adalah buruk, ujuranya kepada Caesonia, istrinya, saat sedang menyaksikan sebuah
drama yang menurutnya membosankan. Lalu ia menyuruh salah seorang yang berada
di dekat dirinya untuk menusuk perut salah seorang yang sedang terlibat di
panggung agar pertunjukkan lebih menyenangkan dan terlihat nyata.
Sejujurnya, ia sudah
bosan dengan kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Dirinya selalu berharap
akan ada kejadian besar yang mampu menghibur dirinya yang sudah jenuh dengan
apapun. Ia sangat ingin ada perang besar terjadi, pembantaian massal, aura
keputusasaan dari rakyatnya, atau gempa bumi, laut pasang, badai, bahkan wabah
penyakit dan segala macam jenis kematian yang mungkin akan sedikit memuaskannya.
Kesejahteraan dan masa yang damai hanya untuk orang-orang bodoh dan biasa.
Baginya, itu sama saja tak akan adanya hal-hal besar dan menarik. Itu juga
berarti, nama dirinya akan mudah dilupakan begitu saja.
Ia adalah seorang
seniman. Tapi baginya, seni tanpa pembunuhan dan kematian adalah hampa. Seni
tanpa darah yang berceceran hanyalah membosankan. Dan rakyat baginya hanya
omong kosong yang tak penting, yang bahkan terbukti gagal menghibur jiwanya.
Panggil aku Jupiter
Latiaris, ucapnya, dihadapan semua tamu penting dari seluruh wilayah Romawi
yang hadir dalam jamuan makan tanpa bisa menolak sepatah kata pun. Ia ingin
disejajarkan sebagai dewa tertinggi bangsa Latin, yang disembah di selatan
Roma. Dan terkadang, bahkan ia bertindak layakrnya dewa dengan memerintahkan
untuk membunuh siapa saja orang yang tak disukainya. Dan mendirikan berbagai
macam monumen dan bangunan secara besar-besaran untuk mengagungkan dan
menyenangkan dirinya.
Dan di suatu sore, saat
ia sedang berjalan di salah satu koridor istananya, sesosok bayangan berkelebat
di atas kepalanya. Serta merta menghadang dirinya hingga terjungkal dengan
penuh ketakutan.
Apa yang kau takutkan
wahai anakku? Berdirilah. Dan selesaikan
apa yang dulu pernah aku katakan Kepadamu. Waktumu sudah semakin dekat. Jangan kau
berikan padaku pertunjukkan yang lemah dan terlihat konyol di altarku, hai kau
anak Germanicus. Agungkanlah dirimu dengan darah, kematian, dan pemujaan yang
sama denganku. Apa yang selama ini kau lakukan belumlah cukup untuk menyamai
kebesaranku. Lakukanlah apa yang aku perintahkan ini dengan sisa hidupmu yang
tinggal beberapa bulan lagi. Penuhi janjimu dan tunjukkan aku bagaimana
teka-teki itu mampu kau uraikan dihadapanku.
Lalu bayangan itu pun
menghilang dengan cepat, secepat kedatangannya. Gaius masih terpaku seperti
ketika ia bertemu dengannya sewaktu kecil. Tapi kali ini, ia tahu apa yang
harus dilakukannya.
Ia membangun begitu
banyak monumen, tempat peristirahatan, dan berbagai macam gedung pertunjukkan
dan mengambur-hamburkan uang istana dengan begitu cepatnya. Hingga akhirnya ia
pun jatuh bangkrut. Lalu merampok banyak harta warga Romawi dengan segala macam
cara.
Semakin lama ia dibenci
oleh rakyatnya sendiri. Rakyat yang dulu memilih, melindungi dan mencintainya.
Tapi ketika kritikan itu datang, ia akan langsung membunuh orang, siapapun itu,
yang mencoba untuk mengkritiknya.
Kalian sendirilah yang
telah memilihku! Tukasnya geram. Aku bisa memotong leher kalian semua jika aku
mau. Akulah sang Jupiter Agung! Akulah yang harus kalian sembah! Akulah dunia!
Sambil menari-nari, ia
hujamkan pisaunya ke salah satu consul
yang menemuinya secara menjengkelkan. Atau mengambill dari siapapun wanita yang
ia maui dan setelah bosan ia lemparkan begitu saja. Dan setelah
menimbang-nimbang waktu hidupnya yang hampir habis, ia pun memutuskan untuk
merencanakan serangan militer untuk pertamakalinya dan memaksa Adminius, putra
Cynobellinus raja Britania, bertekuk lutut. Bahkan dia berencana untuk membunuh
semua legiunaris yang dulu pernah menyerbu ayahnya. Dan mengeluh kelahiran
anaknya sendiri sebagai beban.
Biarkan mereka membenci
aku, selama mereka takut pada diriku, sesumbarnya sekali lagi kepada senat yang
ketakutan.
Dan Jupiter pun menggeleng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar