Selasa, 24 Mei 2016

DI SEBUAH KOTA, KITA SEMUA MATI















Di sebuah kota, hati pun mati.
Begitu juga burung-burung.
Begitu juga tuhan kau dan aku.

Kaki yang melangkah rapuh.
Perasaan yang hilang dan rusak.
Kesedihan yang tak berujung, lagi dan lagi.

Di sebuah kota, cicak pun berhenti hidup.
Amarah yang meletup-letup.
Ketidakberartian yang begitu dingin.

Pohon-pohon yang tak lagi didatangi kupu-kupu.
Panas yang tak lagi mampu menentramkan waktu.
Kebosanan yang tak pernah mau mengaku kalah.
Dan perang yang selalu kita ciptakan bersama dalam gumam
dan kesakitan diri.

Saat kaki melangkah, seorang anak manusia harusnya mengerti.
Tak ada lagi tempat untuk berteduh.
Tak ada lagi tempat untuk berpulang.

Di dalam sebuah kota, kita semua sendirian.
Terus sendiri. Sampai entah. Sampai kapan.

Dan akhirnya, kita berpura-pura hidup.
Sejenak melupakan diri kita sendiri. Melupakan sekitar kita. Dan melupakan semuanya.
Hingga kita pun kecanduan akannya.

Di dalam sebuah kota, semua manusia adalah pembohong.
Semua orang yang kau lihat, dirimu yang ada di kaca, atau kekasih yang kau cintai sekalipun.
Dan negara yang kita tinggali, telah lama membohongi pikiran kita yang lemah.
Yang sakit. Yang takut. Yang tak mampu lagi tahu apa gunanya hidup dan bernafas.

Di dalam sebuah kota, kita semua kesepian.
Seolah semua orang telah mati. Seakan segala yang hidup tak ada lagi.

Ada yang asing di sekitarmu.
Keterputusan yang begitu mengerikan.
Kesedihan yang tak bisa lagi untuk sekedar diceritakan.
Hingga yang berarti pun tak lagi menarik.

Karena di sebuah kota, segala yang mati tak akan pernah hidup lagi.
Entah itu burung, capung, atau tuhan dan hatimu.

**


Untuk apa hidup ini dijalani?
Kita sebentar ada lalu mati tak terkira banyaknya.

Mungkin akan menyenangkan jika kita leleh diterpa matahari.
Atau menjadi batu yang lahir dari atas bukit-bukit purba.

Tak menyenangkan benar segala yang kita temui.
Kau dikutuk hidup untuk merasa tak hidup.

Sebagai titik kecil yang sekedar lalu.
Lenyap ditelan kehampaan yang tak kau mengerti mengapa.

Dan segala yang kau perbuat dan pertahankan,
Tak kan mampu menyelamatkanmu dari dinginnya warna ketiadaan.

Untuk apa waktu yang pendek ini terlalu dibanggakan,
Jika sebentar lagi kita pun mati pada akhirnya.

Terlupakan.
Tak pernah dianggap ada.
Tak berarti untuk selamanya.


**


Di sebuah dunia, kau membuka jendela atau pintu kamarmu.
Kau membuka diri. Tapi tak ada lagi yang mau membuka diri untukmu.
Semua orang tak ingin disentuh. Semua orang semakin sulit diajak bicara.

Di sebuah waktu, kau membuka dunia mayamu.
Kau pun menyapa, berkali-kali, hanya ingin mendapatkan teman dan sekedar bicara.
Tapi semua orang memilih diam. Semua orang tak ingin berteman denganmu.

Dan kau pun tak tahu, semua orang sama seperti dirimu.

Kau hanya bisa tersenyum kecut. Memandang langit atau gerak sungai yang tak lagi berisi ikan-ikan. Kau tahu, keberadaan dirimu sangat kosong dan tak berguna sedikitpun. Kau tahu. Dan orang-orang juga tahu, hidup mereka sama tak berati dan hampanya dengan dirimu. Tapi kau tak tahu.

Dan di sebuah hari yang cerah, kau memutuskan untuk berhenti di sebuah jalan.
Kau memutuskan berhenti untuk selamanya.

Dan, tak seorang pun menangisimu. Tak seorang pun merasa kehilangan.

Di sebuah dunia semacam itu, kehidupan dan kematian pun tak lagi berarti.
Orang-orang tak lagi berarti. Mayat-mayat juga tak lagi berarti.

**


Kota yang aku tinggali, membuat aku sakit.
Tahukah kau bahwa kota bisa sangat membuatmu sakit?

Kehidupan yang berhenti sebagai kehidupan.
Itulah kota yang hari ini aku kenal.

Sebenarnya tak perlu juga aku mengajarimu.
Tapi adakalanya kau tak mau tahu.
Kau tak mau untuk memikirkannya.
Kau memilih berhenti berpikir.

Tahukah kau, bahwa kota juga bisa membunuhmu?

Asap di mana-mana. Panas yang mirip seperti neraka.
Sungai yang berisikan sampah. Jalan-jalan yang sibuk dan macet.
Hewan-hewan liar yang tak lagi bisa ditemui. Trotoar yang diblokir
Pedagang kaki lima. Gedung-gedung yang kusam dan menyedihkan.
Walikota yang keburu mati sebelum sempat memenuhi janji.
Tukang parkir di sana tukang parkir di sini. Jalanan rusak bergelombang.
Sepeda motor melompat ke pedestrian dan ingin menjadi pejalan kaki juga.
Dan saat kau sedang ingin berjalan kaki, cobalah memakai helm dan juga rompi anti peluru.
Banyak teroris di sini. Juga banyak anak kecil yang bisa setiap waktu mematahkan hati.
Jika kau masih memiliki hati untuk itu. Rumah ibadah penuh dengan mobil dan mobil.
Lalu banjir, rob, gunung berapi, badai, dan pemerintah yang bisa menangkapmu tanpa
perlu minta ijin lebih dulu. Di sebuah kota, sebenarnya kau sudah gila semenjak kau baru dilahirkan.
Dan mungkin, kau sudah mati sebelum sempat kau diinginkan.

Dan kota yang aku tinggali, benar-benar membuatku merasa sakit.
Sangat sakit. Dan kau pasti juga merasakannya bukan?

Tapi kau tak mau tahu.
Kau tak mau perduli. Begitu juga dengan anak-anakmu. Cucu-cucumu.
Padahal mereka semua sakit. Sama seperti dirimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar