Di sebuah kota, hati pun mati.
Begitu juga burung-burung.
Begitu juga tuhan kau dan aku.
Kaki yang melangkah rapuh.
Perasaan yang hilang dan rusak.
Kesedihan yang tak berujung, lagi dan lagi.
Di sebuah kota, cicak pun berhenti hidup.
Amarah yang meletup-letup.
Ketidakberartian yang begitu dingin.
Pohon-pohon yang tak lagi didatangi
kupu-kupu.
Panas yang tak lagi mampu menentramkan
waktu.
Kebosanan yang tak pernah mau mengaku
kalah.
Dan perang yang selalu kita ciptakan bersama
dalam gumam
dan kesakitan diri.
Saat kaki melangkah, seorang anak manusia
harusnya mengerti.
Tak ada lagi tempat untuk berteduh.
Tak ada lagi tempat untuk berpulang.
Di dalam sebuah kota, kita semua sendirian.
Terus sendiri. Sampai entah. Sampai kapan.
Dan akhirnya, kita berpura-pura hidup.
Sejenak melupakan diri kita sendiri.
Melupakan sekitar kita. Dan melupakan semuanya.
Hingga kita pun kecanduan akannya.
Di dalam sebuah kota, semua manusia adalah
pembohong.
Semua orang yang kau lihat, dirimu yang ada
di kaca, atau kekasih yang kau cintai sekalipun.
Dan negara yang kita tinggali, telah lama
membohongi pikiran kita yang lemah.
Yang sakit. Yang takut. Yang tak mampu lagi
tahu apa gunanya hidup dan bernafas.
Di dalam sebuah kota, kita semua kesepian.
Seolah semua orang telah mati. Seakan
segala yang hidup tak ada lagi.
Ada yang asing di sekitarmu.
Keterputusan yang begitu mengerikan.
Kesedihan yang tak bisa lagi untuk sekedar
diceritakan.
Hingga yang berarti pun tak lagi menarik.
Karena di sebuah kota, segala yang mati tak
akan pernah hidup lagi.
Entah itu burung, capung, atau tuhan dan
hatimu.
**
Untuk apa hidup ini dijalani?
Kita sebentar ada lalu mati tak terkira
banyaknya.
Mungkin akan menyenangkan jika kita leleh
diterpa matahari.
Atau menjadi batu yang lahir dari atas
bukit-bukit purba.
Tak menyenangkan benar segala yang kita
temui.
Kau dikutuk hidup untuk merasa tak hidup.
Sebagai titik kecil yang sekedar lalu.
Lenyap ditelan kehampaan yang tak kau
mengerti mengapa.
Dan segala yang kau perbuat dan
pertahankan,
Tak kan mampu menyelamatkanmu dari
dinginnya warna ketiadaan.
Untuk apa waktu yang pendek ini terlalu
dibanggakan,
Jika sebentar lagi kita pun mati pada
akhirnya.
Terlupakan.
Tak pernah dianggap ada.
Tak berarti untuk selamanya.
**
Di sebuah dunia, kau membuka jendela atau
pintu kamarmu.
Kau membuka diri. Tapi tak ada lagi yang
mau membuka diri untukmu.
Semua orang tak ingin disentuh. Semua orang
semakin sulit diajak bicara.
Di sebuah waktu, kau membuka dunia mayamu.
Kau pun menyapa, berkali-kali, hanya ingin
mendapatkan teman dan sekedar bicara.
Tapi semua orang memilih diam. Semua orang
tak ingin berteman denganmu.
Dan kau pun tak tahu, semua orang sama
seperti dirimu.
Kau hanya bisa tersenyum kecut. Memandang
langit atau gerak sungai yang tak lagi berisi ikan-ikan. Kau tahu, keberadaan
dirimu sangat kosong dan tak berguna sedikitpun. Kau tahu. Dan orang-orang juga
tahu, hidup mereka sama tak berati dan hampanya dengan dirimu. Tapi kau tak
tahu.
Dan di sebuah hari yang cerah, kau
memutuskan untuk berhenti di sebuah jalan.
Kau memutuskan berhenti untuk selamanya.
Dan, tak seorang pun menangisimu. Tak
seorang pun merasa kehilangan.
Di sebuah dunia semacam itu, kehidupan dan
kematian pun tak lagi berarti.
Orang-orang tak lagi berarti. Mayat-mayat
juga tak lagi berarti.
**
Kota yang aku tinggali, membuat aku sakit.
Tahukah kau bahwa kota bisa sangat
membuatmu sakit?
Kehidupan yang berhenti sebagai kehidupan.
Itulah kota yang hari ini aku kenal.
Sebenarnya tak perlu juga aku mengajarimu.
Tapi adakalanya kau tak mau tahu.
Kau tak mau untuk memikirkannya.
Kau memilih berhenti berpikir.
Tahukah kau, bahwa kota juga bisa
membunuhmu?
Asap di mana-mana. Panas yang mirip seperti
neraka.
Sungai yang berisikan sampah. Jalan-jalan
yang sibuk dan macet.
Hewan-hewan liar yang tak lagi bisa
ditemui. Trotoar yang diblokir
Pedagang kaki lima. Gedung-gedung yang
kusam dan menyedihkan.
Walikota yang keburu mati sebelum sempat
memenuhi janji.
Tukang parkir di sana tukang parkir di
sini. Jalanan rusak bergelombang.
Sepeda motor melompat ke pedestrian dan
ingin menjadi pejalan kaki juga.
Dan saat kau sedang ingin berjalan kaki,
cobalah memakai helm dan juga rompi anti peluru.
Banyak teroris di sini. Juga banyak anak
kecil yang bisa setiap waktu mematahkan hati.
Jika kau masih memiliki hati untuk itu. Rumah
ibadah penuh dengan mobil dan mobil.
Lalu banjir, rob, gunung berapi, badai, dan
pemerintah yang bisa menangkapmu tanpa
perlu minta ijin lebih dulu. Di sebuah kota,
sebenarnya kau sudah gila semenjak kau baru dilahirkan.
Dan mungkin, kau sudah mati sebelum sempat
kau diinginkan.
Dan kota yang aku tinggali, benar-benar
membuatku merasa sakit.
Sangat sakit. Dan kau pasti juga
merasakannya bukan?
Tapi kau tak mau tahu.
Kau tak mau perduli. Begitu juga dengan
anak-anakmu. Cucu-cucumu.
Padahal mereka semua sakit. Sama seperti
dirimu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar