Minggu, 15 Mei 2016

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: LOTAN












Prancis menjelang Revolusi 1789


Bila kau ingin membelas dendam terhadap dunia, bunuhlah sang raja. Ambil alih kekuasaannya dan kau bisa memenggal banyak leher manusia semaumu, saran Marat kepada Robespierre.

Robespierre hanya diam dan tersenyum pelan. Matanya yang tajam dan raut mukanya yang sulit ditebak, membuat semua orang kagum sekaligus sebagai sosok yang misterius.

Aha, manusia banyak tak terlalu penting bukan? Mereka hanyalah orang bodoh yang bisa kita gunakan sesuka hati kita.Yah,  pada akhirnya, karena mereka tak banyak berpikir dan filsafat hanyalah keburukan bagi lambung mereka, keberadaan mereka tak terlalu berguna untuk dipertahankan kecuali kita musnahkan setelah kita pada akhirnya meraih kekuasaan. Tidakkah  begitu, heh? Timpal Danton sambil menyeringai.

Bagaimana menurutmu Saint-Just? Tanya Robespierre dengan penuh pertimbangan.

Benar kata Danton. Apa engkau sangat serius mengenai hal ini? Jika engkau benar-benar serius, ambillah Hobbes, Rousseau dan Machiavelli untuk mengukuhkan kekuasaanmu. Atas nama keadilan, orang banyak, kesetaraan, persaudaraan, dan kebebasan, engkau bisa menipu orang-orang bodoh itu Robespierre. Terlalu banyak orang bodoh di dunia ini bukan? Dengan ilusi yang akan membutakan pikiran pendek mereka akan kebahagiaan yang tolol itu, engkau bisa memanfaatkan mereka untuk mencapai tujuanmu. Setelah kekuasaan engkau raih dan ada di tanganmu, bunuhlah sebanyak mungkin orang yang engkau benci dan tak sukai selagi engkau masih hidup dan berada di tampuk tertinggi. Bahkan jika mereka tak tahu apa-apa sama sekali tentang dirimu.  Ujar St. Just menerangkan dengan penuh keyakinan.

Marat, Danton, Mirabeau, dan Desmoulins mengangguk setuju. 

Tujuan sejati pemerintahan adalah kebebasan, ujar Robespiere menirukan Spinoza. Dan bagiku, kebebasan untuk membunuh.Bila kalian keberatan mengenai tujuanku ini, kalian boleh meninggalkan ruangan ini sekarang juga. Aku tak akan memaksa kalian untuk mencapai apa yang aku inginkan. Kalian pasti sudah sangat tahu tentang cita-cita yang aku inginkan sebelum aku mati bukan? Orang lemah selalu meresahkan keadilan dan kesetaraan. Orang kuat tak menghiraukan semua itu, mengutip Aristoteles. 

Mereka berkumpul di sebuah biara Dominikan di rue Saint-Honore yang  pada akhirnya menjadi nama gerakan mereka, Jacobin. Sebuah nama yang berasal dari rue Saint-Jacques tempat ordo Dominikan pernah bermarkas.

Di seberang jauh sambil mengamati, Mephisthopeles dan Leviathan bercakap-cakap dengan riang.

Yah, aku rasa, setelah ini, akan ada hal yang menarik yang membuat kita tak lagi merasa bosan, heh? Tanya Mephisto ke wajah Leviathan yang bagai membeku di bawah sinar lampu yang redup.

Manusia, mereka lebih mengerikan dari pada tuhan dan iblis. Bahkan kaum kita sendiri tampak bodoh di depan orang ini hahaha sambil menunjuk sosok pirang bernama Robespierre.



Maximilien Robespierre berjalan melewati jalanan Paris yang penuh dengan para Parisian yang keleparan. Louis XVI sedang membawa negara itu menuju kehancuran setelah Dinding Petani Jenderal diundangkan. Pemungutan pajak baru semakin membuat kelas bawah dan miskin sangat marah. Sementara itu, dengan penduduk mencapai 600.000 jiwa, orang-orang kaya baru dan kelas menengah yang hidup di rumah-rumah bergaya baroque, neo-klasik, dan bangunan berlantai yang terbuat dari batu bata serta perapian di dalamnya, membuat situasi semakin memburuk. Jurang kebencian semakin dalam. Parisian yang kebanyakan adalah kaum miskin semakin membenci Raja mereka dan orang-orang kaya yang sibuk berceloteh riang di cafe-cafe dan salon-salon. Benih-benih pemberontakan yang dipenuhi aura kemarahan yang sangat liar berhembus hingga ke gang-gang yang paling tak tersentuh di kota yang dulu lebih akrab dengan nama Lutetia. Sebuah kota yang dibangun oleh bangsa Kelt. Hingga akhirnya kaisar Julian memberikannya sebuah nama Civitas Parisiorum, kota suku Parisii, yang kemduian hari menjadi Paris. Dan di sinilah, upacara pengangkatan diri Julian sebagai Kaisar terjadi. Sebuah kota yang masih menyimpan aura Romawi masa kuno.

Robespierre melewati Place Louis XV yang sangat luas dan memuakkan. Pandangan matanya terpaku pada sesosok laki-laki yang sedang menunggang seekor kuda. Simbol dari tempat yang ingin ia rubuhkan. Di dalam hatinya, alun-alun luas berlatarkan istana raja bergaya baroque ini, adalah tempat yang tepat untuk memenggal sang raja. Sebuah tempat yang akan menjadi saksi kejatuhan dan berdirinya sebuah era.

Mengingat nama Louis, ia menjadi sangat sensitif dan marah. Sebuah nama yang mengingatkan dirinya pada Clovis sang penakluk Paris. Louis, yang adalah nama dari raja-raja Prancis, berakar dari pemimpin suku Frank itu, yang mengambil alih paris dari kekaisaran Roma pada abad ke-5. Sejujurnya ia tak rela jika nama itu kini diambil alih oleh para raja Prancis. Terlebih Louis XVI. Raja yang baginya harus dimusnahkan untuk selamanya. Ia mengagumi Clovis yang baru berusia 20 tahun saat menaklukkan kota ini dan belum cemar oleh Kekristenan yang busuk itu. Ia mengagumi sikap liar pemuda itu, yang nama suku dan dirinya, menjadi bagian penting dari kota dan negara ini. Prancis, berakar dari kata Frank, menjadi Francia, dan akhirnya France. Dan ia bermaksud untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang telah Clovis lakukan di masa lampau.

Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan. Kata-kata Rousseau tiba-tiba bergema di kepalanya. Dan akhirnya ia semakin yakin, ia akan memanfaatkan itu semua untuk tujuan-tujuannya sendiri. ia melangkah menjauh dari Place Louis XV, dan seketika ditelan oleh suasana muram dari kota yang akan jatuh.

Dan di sebuah zaman yang sangat jauh, Tuhan berjubahkan Jupiter, mendadak muncul di hadapan seorang anak yang sedikit pun tak merasa cemas maupun gentar.

Jika kau membenci keberadaanku dan ingin sekali membunuhku. Bunuhlah lebih dulu dia yang sangat dekat dengan dirimu. Dan jika suatu saat nanti  kau mampu melakukannya, datanglah kepadaku dengan hati yang membusung dan dipenuhirasa dengki. Hanya seorang manusia yang tak pernah berani membunuh orang tuanya dan mereka yang dicintainya, yang tak akan pernah akan mampu menghilangkan keberadaanku di muka bumi ini. Dan kau, kau akan mengawali sebuah era baru. sebuah era yang akan mengajariku memecahkan sebuah teka-teki besar yang tak terpecahkan bahkan oleh diriku ini.

Dalam seketika, sosok itu pun lenyap tak menyisakan apapun. Anak kecil itu hanya mematung, terdiam begitu lama di cengkeram kegelapan malam yang mulai merasuk ke dalam istana Tiberius yang dingin. Anak kecil itu bernama Gaius Caesar. Dan kelak akan lebih dikenal sebagai Caligula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar