Prancis menjelang Revolusi 1789
Bila kau ingin membelas
dendam terhadap dunia, bunuhlah sang raja. Ambil alih kekuasaannya dan kau bisa
memenggal banyak leher manusia semaumu, saran Marat kepada Robespierre.
Robespierre hanya diam
dan tersenyum pelan. Matanya yang tajam dan raut mukanya yang sulit ditebak,
membuat semua orang kagum sekaligus sebagai sosok yang misterius.
Aha, manusia banyak tak
terlalu penting bukan? Mereka hanyalah orang bodoh yang bisa kita gunakan
sesuka hati kita.Yah, pada akhirnya, karena mereka tak banyak berpikir
dan filsafat hanyalah keburukan bagi lambung mereka, keberadaan mereka tak
terlalu berguna untuk dipertahankan kecuali kita musnahkan setelah kita pada
akhirnya meraih kekuasaan. Tidakkah begitu, heh? Timpal Danton sambil
menyeringai.
Bagaimana menurutmu
Saint-Just? Tanya Robespierre dengan penuh pertimbangan.
Benar kata Danton. Apa engkau
sangat serius mengenai hal ini? Jika engkau benar-benar serius, ambillah
Hobbes, Rousseau dan Machiavelli untuk mengukuhkan kekuasaanmu. Atas nama
keadilan, orang banyak, kesetaraan, persaudaraan, dan kebebasan, engkau bisa
menipu orang-orang bodoh itu Robespierre. Terlalu banyak orang bodoh di dunia
ini bukan? Dengan ilusi yang akan membutakan pikiran pendek mereka akan
kebahagiaan yang tolol itu, engkau bisa memanfaatkan mereka untuk mencapai
tujuanmu. Setelah kekuasaan engkau raih dan ada di tanganmu, bunuhlah sebanyak
mungkin orang yang engkau benci dan tak sukai selagi engkau masih hidup dan
berada di tampuk tertinggi. Bahkan jika mereka tak tahu apa-apa sama sekali
tentang dirimu. Ujar St. Just menerangkan dengan penuh keyakinan.
Marat, Danton, Mirabeau,
dan Desmoulins mengangguk setuju.
Tujuan sejati
pemerintahan adalah kebebasan, ujar Robespiere menirukan Spinoza. Dan bagiku,
kebebasan untuk membunuh.Bila kalian keberatan mengenai tujuanku ini, kalian
boleh meninggalkan ruangan ini sekarang juga. Aku tak akan memaksa kalian untuk
mencapai apa yang aku inginkan. Kalian pasti sudah sangat tahu tentang
cita-cita yang aku inginkan sebelum aku mati bukan? Orang lemah selalu
meresahkan keadilan dan kesetaraan. Orang kuat tak menghiraukan semua itu,
mengutip Aristoteles.
Mereka berkumpul di
sebuah biara Dominikan di rue Saint-Honore yang pada akhirnya menjadi nama gerakan mereka,
Jacobin. Sebuah nama yang berasal dari rue Saint-Jacques tempat ordo
Dominikan pernah bermarkas.
Di seberang jauh sambil
mengamati, Mephisthopeles dan Leviathan bercakap-cakap dengan riang.
Yah, aku rasa, setelah
ini, akan ada hal yang menarik yang membuat kita tak lagi merasa bosan, heh? Tanya
Mephisto ke wajah Leviathan yang bagai membeku di bawah sinar lampu yang redup.
Manusia, mereka lebih
mengerikan dari pada tuhan dan iblis. Bahkan kaum kita sendiri tampak bodoh di
depan orang ini hahaha sambil menunjuk sosok pirang bernama Robespierre.
Maximilien Robespierre
berjalan melewati jalanan Paris yang penuh dengan para Parisian yang keleparan.
Louis XVI sedang membawa negara itu menuju kehancuran setelah Dinding Petani
Jenderal diundangkan. Pemungutan pajak baru semakin membuat kelas bawah dan
miskin sangat marah. Sementara itu, dengan penduduk mencapai 600.000 jiwa, orang-orang
kaya baru dan kelas menengah yang hidup di rumah-rumah bergaya baroque, neo-klasik, dan bangunan
berlantai yang terbuat dari batu bata serta perapian di dalamnya, membuat
situasi semakin memburuk. Jurang kebencian semakin dalam. Parisian yang
kebanyakan adalah kaum miskin semakin membenci Raja mereka dan orang-orang kaya
yang sibuk berceloteh riang di cafe-cafe
dan salon-salon. Benih-benih
pemberontakan yang dipenuhi aura kemarahan yang sangat liar berhembus hingga ke
gang-gang yang paling tak tersentuh di kota yang dulu lebih akrab dengan nama Lutetia. Sebuah kota yang dibangun oleh
bangsa Kelt. Hingga akhirnya kaisar Julian memberikannya sebuah nama Civitas
Parisiorum, kota suku Parisii, yang kemduian hari menjadi Paris. Dan di
sinilah, upacara pengangkatan diri Julian sebagai Kaisar terjadi. Sebuah kota
yang masih menyimpan aura Romawi masa kuno.
Robespierre melewati
Place Louis XV yang sangat luas dan memuakkan. Pandangan matanya terpaku pada
sesosok laki-laki yang sedang menunggang seekor kuda. Simbol dari tempat yang
ingin ia rubuhkan. Di dalam hatinya, alun-alun luas berlatarkan istana raja
bergaya baroque ini, adalah tempat yang tepat untuk memenggal sang raja. Sebuah
tempat yang akan menjadi saksi kejatuhan dan berdirinya sebuah era.
Mengingat nama Louis, ia
menjadi sangat sensitif dan marah. Sebuah nama yang mengingatkan dirinya pada
Clovis sang penakluk Paris. Louis, yang adalah nama dari raja-raja Prancis,
berakar dari pemimpin suku Frank itu, yang mengambil alih paris dari kekaisaran
Roma pada abad ke-5. Sejujurnya ia tak rela jika nama itu kini diambil alih
oleh para raja Prancis. Terlebih Louis XVI. Raja yang baginya harus dimusnahkan
untuk selamanya. Ia mengagumi Clovis yang baru berusia 20 tahun saat menaklukkan
kota ini dan belum cemar oleh Kekristenan yang busuk itu. Ia mengagumi sikap
liar pemuda itu, yang nama suku dan dirinya, menjadi bagian penting dari kota
dan negara ini. Prancis, berakar dari kata Frank, menjadi Francia, dan akhirnya France.
Dan ia bermaksud untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang telah Clovis
lakukan di masa lampau.
Kebebasan,
Kesetaraan, Persaudaraan.
Kata-kata Rousseau tiba-tiba bergema di kepalanya. Dan akhirnya ia semakin
yakin, ia akan memanfaatkan itu semua untuk tujuan-tujuannya sendiri. ia
melangkah menjauh dari Place Louis XV, dan seketika ditelan oleh suasana muram
dari kota yang akan jatuh.
Dan di sebuah zaman yang
sangat jauh, Tuhan berjubahkan Jupiter, mendadak muncul di hadapan seorang anak
yang sedikit pun tak merasa cemas maupun gentar.
Jika kau membenci
keberadaanku dan ingin sekali membunuhku. Bunuhlah lebih dulu dia yang sangat
dekat dengan dirimu. Dan jika suatu saat nanti
kau mampu melakukannya, datanglah kepadaku dengan hati yang membusung
dan dipenuhirasa dengki. Hanya seorang manusia yang tak pernah berani membunuh
orang tuanya dan mereka yang dicintainya, yang tak akan pernah akan mampu
menghilangkan keberadaanku di muka bumi ini. Dan kau, kau akan mengawali sebuah
era baru. sebuah era yang akan mengajariku memecahkan sebuah teka-teki besar
yang tak terpecahkan bahkan oleh diriku ini.
Dalam seketika, sosok itu
pun lenyap tak menyisakan apapun. Anak kecil itu hanya mematung, terdiam begitu
lama di cengkeram kegelapan malam yang mulai merasuk ke dalam istana Tiberius
yang dingin. Anak kecil itu bernama Gaius Caesar. Dan kelak akan lebih dikenal
sebagai Caligula.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar