Rabu, 27 Juli 2016

TUHAN YANG BERHENTI MENDONGENG: SEORANG ANAK KECIL









Kematianlah yang membuat dunia ini stabil, pikirnya.
Memberikan pupuk bagi tetumbuhan. Memberikan ruang dan makanan bagi yang lainnya.
Kematianlah yang menyeimbangkan segalanya. Para tiran yang dianggap kejam entah menagapa lebih tahu akan hal ini. Mereka nabi-nabi yang dikutuk dan tak diakui. Jika seluruh kehidupan hidup dan terus hidup lebih lama lagi. Tak akan ada yang mampu menyeleseikan masalah mengenai beban kehidupan yang disakralkan itu.

Dia mendongok ke langit. Arah angin berbelok. Menampar lembut kedua pipinya. Di kejauhan, di batas cakrawala, beberapa ekor bangau mengepakkan sayapnya dalam warna hitam titik-titik. Anak itu masih merenung. Sendirian. Seperti biasanya. Debur ombak dan gesekan batu-batu sesekali beradu. Di tangannya terdapat sebuah buku. Terkadang ia menundukkan kepalanya. Memasukkan isi buku itu ke dalam kepala dan imajinasinya.

Dunia sudah semakin membosankan, pikir anak itu. Bahkan alam pun tak lagi menarik di hadapannya.


Aku tak lagi peduli jika semua orang mati di depanku. Teriaknya dalam hati.
Anak itu tahu. Dan sangat tahu. Bahwa jika seluruh manusia mati, dia tak akan kehilangan apa-apa. Sama halnya saat dirinya mati. Sejak awal dia sudah sendirian. Semua orang memandang dirinya sebelah mata. Tak pernah menganggap keberadaannya. Tak pernah menolong kehidupannya.  Dan kali ini dirinya berpikir, apa gunanya manusia bagiku?

Ah, desahnya. Mungkin manusia diciptakan sebagai pupuk tetumbuhan liar dan alam.
Mungkin itu lebih baik. Dari pada mereka tak berguna sama sekali, imbuhnya.

Dilemparkannya sorot matanya di kejauhan langit. Hujan?
Langit bergumpal pertanda akan segera turun hujan. Dan tetes demi tetes butiran air menghantam kulitnya. Gerimis. Waktunya untuk pergi. Akan ada badai besar malam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar