baru beberapa tahun inilah aku mencoba menilai ulang lagi sosok Goenawan Mohamad yang kerap membingungkanku. aku tak terlalu kenal dengan sosok itu. tak juga terlalu paham dengan dunia yang ia alami dan rasakan. hanya saja, perjalananku dalam membaca karya-karyanya beserta pengalaman hidupku sendiri, membuat sudut pandangku terhadap apa yang ada di dalam kepala orang itu berubah.
aku mengenal Goenawan Mohamad lewat sastra. lebih tepatnya esai dan puisi. lalu perdebatan yang keras ketika masalah politik sastra, yang menyeret Utan Kayu dan dirinya dalam perdebatan dan kisruh yang aneh. Boemiputra. Utan Kayu. Goenawan Mohamad. aku tak tahu mana yang lebih benar. mana yang lebih salah. masing-masing memiliki kebenaran beserta faktanya sendiri. dan dari situlah, kebingunganku dalam sastra membuat diriku pada akhirnya memilih surut. dan aku juga bukan siapa-siapa.
sastra adalah perjalanan yang aneh yang membuat orang mudah tersesat dan bingung. itulah yang terjadi di negara ini.
pada titik tertentu mungkin Goenawan salah bagi mereka yang tak menyukai cara, dunia berpikir, dan apa yang ia lakukan. aku juga tak menyukai beberapa dalam diri GM. tapi aku benar-benar menyukai gaya menulis dan perenungan dia dari setiap bukunya yang ada. walau kadang, aku seringkali kehilangan semangat dalam membaca apa yang ia tulis di saat tertentu.
di lain sisi, para pengkritiknya pun salah karena memaksakan banyak hal di dunia yang masing-masing dari kita ini adalah individu bebas dalam negara plural. dan para pengkritik GM pun seringkali hanya beberapa orang yang serius membaca seluruh karyanya. sementara yang lainnya sekedar ikut dan marah. sementara kritik terhadap dunia yang lebih nyata dalam tingkat geraknya dalam sastra indonesia, terlebih politik sastra; aku tak tahu lagi harus berkata apa. ada kebenaran di dalam kritik mereka. juga ada kenyataan yang ingin ditampik oleh pengkritik GM. kenyataan yang sudah terlanjur hari ini menjadi diri dan bagian penting dari masyarakat Indonesia. entah sebagian atau orang-orang tertentu.
perubahan diri seseorang, diriku
sendiri, mengubah sudut pandangku akan orang dan karya yang sedang aku
baca dan renungi. dan itu terus-menerus. ketika aku membaca entah karya
siapapun yang pernah aku baca.
pada akhirnya, aku membaca karya GM dari sudut pandang seorang eksistensialis yang terus-menerus berproses. menjadi. mencari. dan berubah terus-menerus.
pada mulanya ambivalen. menyukai sekaligus membenci. lalu skeptis. dan sedikit mundur dan menjauhi karya-karyanya. lalu, ketika pengalaman hidup dan sudut pandangku akan dunia berubah. aku pun mendekati karya GM dengan cara yang berbeda. kembali menyukainya. menikmatinya. dan kini, tibalah pada rasa sendu yang aneh.
kadang aku berpikir, seandainya aku adalah Pram, apakah aku tak akan menjadi sekaku, seteguh dan sekeras dia? begitu juga seandainya aku menjadi Goenawan Mohamad, apakah aku tak akan berjalan seperti yang kinI ia jalani?
Catatan Pinggir. di sanalah aku menemukan seorang tua yang gelisah. selalu gelisah. memikirkan banyak hal. terlalu banyak. hingga kadang aku berpikir, pernahkah para pengagum dan pengkritiknya mencoba berpikir seperti ia yang berpikir tentang dunia dan segala isinya? cara berpikir yang aku benar-benar tahu, sangat menyakitkan di tengah masyarakat dan komunitas yang cara berpikirnya satu arah, tak terlalu suka membaca, dan menuntut untuk berpikir tunggal dan berkubu. serta, ketika seorang terlalu mempermasahkan banyak hal, tahu banyak hal, dan gelisah akan banyak hal, adalah aib.
Goenawan Mohamad adalah seorang tua yang selalu berpikir dan gelisah di tengah masyarakat yang tak terlalu banyak gelisah. apa salahnya ketika ia berubah sudut pandang. bergerak ke sana lalu ke mari. menjadi seorang humanis, liberal, pemikir bebas, dan menyukai keterbukaan. atau di saat-saat tertentu mungkin ia akan salah langkah di tengah masyarakat yang seperti ini dan dianggap sebagai seorang musuh. berbahaya. menjual negara dan rakyat. apakah Goenawan Mohamad adalah sosok yang harus terus dituntut tanpa dimengerti dan dipahami?
setiap orang bisa berubah. menjadi jahat dan baik setiap waktu. mengagumi pemikiran, keyakinan dan mengubah sudut pandang akan dunia, negara dan lain sebagainya dalam waktu yang bisa saja singkat. dan Goenawan Mohamad adalah sosok yang terus berubah. mengalir. bergerak. dan itulah yang membuatku sering bingung dan kadang heran.
dia adalah salah satu sosok yang kontradiktif dalam dunia yang aku tak mengerti. dan Catatan Pinggir yang ia tulis, semacam sisi lain dari jati diri dalam dirinya yang terlalu luas aku masuki. terlalu membingungkan. terlalu banyak hal. terlalu banyak yang dipikirkan. coba diselami. direnungi. dimasuki. kadang aku berpikir, orang macam apa dia yang mau merenungi dan memikirkan terlalu banyak hal di tengah masyarakat dan bahkan komunitas sastra yang tak terlalu banyak memikirkan segala macam hal?
akhirnya, dia hanya bisa keluar sebagai manusia yang terus disalahpahami dan membingungkan. karena sedikit orang yang berpikir dengan cara ia berpikir.
Catatan Pinggir, bagiku sendiri, adalah semacam ensiklopedia terhadap banyak hal atau jalan singkat untuk memasuki dunia yang mungkin aku abaikan tapi Goenawan Mohamad mencoba menangkapnya walau tak utuh. dan di dalamnya ada kebimbangan, keresahan, perasaan sedih, dan keinginan untuk menyuarakan apa yang hilang dari dunia ini. dan di dalamnyalah, di tengah lautan dunia yang membingunkan dan terlalu banyak hal yang tak mudah dimengerti, Goenawan Mohamad menempuh jalan buntu. tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. ketika segala hal adalah mungkin. ketika salah dan benar bisa berada di masing-masing kubu, suku, dunia, negara, dan agama. ketika kebenaran pun terus berubah dan tak mudah digenggam. dan saat kekejaman, keburukan, dan tindakan terkeji pun bisa dilakukan siapa saja dari mereka yang mengaku dirinya baik dan mereka yang dituduh jahat. orang ini terlalu memikirkan banyak hal yang melelahkan. hingga akhirnya ia tak tahu lagi harus memihak yang mana. ia tak tahu lagi harus berdiri di sisi yang mana. dan dia pun mengambang dalam samudra luas dunia yang membingungkan ini. berada di sana. terus berada di sana. memikirkan banyak hal yang terus berubah. dan tak siap untuk mengambil kesimpulan akan dunia ini dan apa yang harus dilakukan dengan pasti. di dalam samudra itulah, dia mengambang sendirian, dan orang-orang tak perduli apa yang ia lalui.
pengalaman semacam itu, pengalaman yang paling menyakitkan, sunyi dan melelahkan, tak akan mudah untuk dimengerti oleh orang-orang yang tak terbiasa berada di dalamnya, masuk di dalamnya dan mengalaminya sendiri. dan pada akhirnya, Goenawan Mohamad akan terus menjadi mitos aneh antara dipuja dan dibenci tapi tak benar-benar dipahami dengan sedikit pasti.
sosok ini, dalam sekali waktu dianggap busuk tapi dalam sekali waktu yang lain, memberikan hampir semua dirinya untuk orang-orang yang membutuhkan bantuannya yang sedang berada dalam jurang. mungkin, hanya sosok istrinyalah, yang selama berpuluh-puluh tahun menemainya yang tahu. atau juga tak terlalu tahu? sedang aku, dan mungkin kita, hanya sekedar mencoba mengambil sedikit segala yang saling bertabrakan. pada akhirnya, terlalu sedikit. dan akan terus terlalu sedikit. manusia, atau individu, tak mudah untuk diuraikan dan dimasuki secara tuntas. selalu ada celah di sana. celah yang akan selalu gagal kita tangkap dan renungi.
akhir-akhir ini, aku mencoba untuk mengumpulkan berbagai macam buku Goenawan Mohamad. dan yang paling penting di antara semuanya adalah Catatan Pinggir. dan saat aku membuka halaman demi halaman, ada hal yang membuat aku sedih dan sendu. pada akhirnya, aku berkata pada diriku sendiri; orang ini terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tak dipikirkan orang lain. dan apa yang dibahas dari buku pertama hingga terakhirnya terlalu luas. dengan sedih aku pun berkata pada diriku sendiri; perlu waktu yang sangat lama untuk bisa memahami semua yang ia renungkan dan tuliskan. dan pengetahuanku akan dunia ini, wacana, berbagai aspek, politik, budaya, seni dan manusia terlalu sedikit. dan akhirnya, menjadi kritikus yang mencoba untuk menguraikan Goenawan Mohamad akhirnya terbelenggu pada beberapa hal; dia harus dikarunia tingkat intelektual dan wawasan yang cukup dan luas. dan kedua, dia harus sosok yang sabar dan mungkin juga obsesif dan perfeksionis, yang rela berlama-lama untuk membaca dan menakar banyak hal yang Goenawan Mohamad tulis dan pikirkan. jika tidak, pada akhirnya hanyalah mengambil apa yang sedikit tampak dan memasukkan dia dalam wadah dan steorotif yang gampangan untuk alasan-asalan tertentu.
jarang orang mengatakan dia adalah salah satu sosok pemikir dan intelektual. dia adalah intelektual. dan kita mengakui hal itu. tapi, hal itu tenggelam, karena orang terlalu sering mengatakan bahwa dia adalah penyair, esais, sastrawan, budayawan dan semacamnya. sebuah keberadaan, yang mana, di negeri ini, akhir-akhir ini, selalu diidentikan oleh sosok yang sekedar menghasilkan karya dan karya. atau terlalu sibuk memikirkan sebuah karya dari pada dunia ini beserta isinya. atau paling tidak, memikirkan dunia ini secara terbatas sebagai jalan atau proses untuk menghasilkan karya serta menyuarakan sekedar hal tertentu. berpikir terlalu kompleks dalam sastra seolah-olah dilarang. terlebih ketika menjadi intelektual atau orang yang terlalu banyak berpikir seperti Goenawan Mohamad.
pada dasarnya, aku masih tak mengerti sosok ini. tapi dari apa yang ia tulis dan renungkan, dan aku membacanya; dia adalah sosok tua yang gelisah dan selalu gelisah. melihat dunia yang terus berubah dan susah untuk ditangkap dan dimengerti ini. dari situlah, kadang aku ingin menangis ketika merenungkan orang tua ini. dan dia, adalah Goenawan Mohamad.

(y)
BalasHapus