Senin, 18 April 2016

SAUT SITUMORANG, KRITIK SASTRA, DAN MARI BERPIKIR ULANG















Dalam Politik Sastra, Saut Situmorang agak sedikit tertidur ketika ia membicarakan kritik sastra. Saut menginginkan sebuah kritik sastra yang logis, ilmiah, dan jelas menurut standar Barat. Persis seperti itulah yang ia utarakan dalam tulisannya “Dicari: Kritikus (us) Sastra Indonesia” dan tulisan yang lainnya, “Kritik Sastra Tanpa Teori” yang menganggap keberadaan sebuah teori sebagai semacam pendekatan dalam menelaah dan menilai sastra, sangatlah diperlukan dan sangat penting. Tapi tunggu dulu. Sejak kapan teori sastra bisa kita sebut ilmiah?

Mungkin kita harus berani jujur, bahwa kritik sastra kita sebenarnya adalah kritik sastra subyektif. Yang ilmiah dan obyektif hanyalah sekedar keberadaan samar yang tak jelas. Dan sejak kapan, teori sastra yang kita anut dan yakini benar-benar menjadi ilmiah dan kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan? Selama ini, kita berjalan dalam keadaan setengah sadar dan menganggap bahwa teori sastra yang kita gunakan untuk menelaah berbagai macam jenis karya adalah dari sumber yang sudah selesai dan tetap atau bisa dibilang ilmiah hingga mungkin kita mengatakannya sebagai ilmu pasti.

Cobalah suruh Narudin Pituin untuk menelaah seluruh tradisi kritik sastra. Maka dunia dan keyakinan dirinya akan semakin kacau. Makna yang tetap. Dunia yang tetap. Dan keinginan untuk membuat tunggal semua hal dan mudah untuk dikategorikan akan menjadi pengalaman paling gila dalam sejarah manusia.  Sebuah kategori yang mengandaikan bahwa dunia teori yang dipakai oleh para kritikus adalah benar tanpa ada kesalahan dan kemungkinan lain di sana. Seolah-olah tak ada andaian atau imajinasi dan hal yang subyektif dalam teori-teori yang digunakan sebagai alat kritik. Dan apa yang disuarakan oleh Kajitow Elkayeni atas Narudin adalah mengurai apa yang dikejar oleh para kritikus kita sebagai sebentuk kepastian. Dan dia mendedahkan pada kita bahwa yang pasti telah dilalui oleh ketidakpastian dan hal yang cair. Penafsiran yang beragam. Ah, entah kita sedang berada dalam wilayah teori yang ingin ilmiah atau pasca-modern, kita berada dalam jalan keterpecahan.

Narudin dan juga Kajitow sama-sama bermasalah. Begitu juga diriku sendiri. Terlebih sebagai awan dan hampir tak tahu apa-apa seperti diriku ini. Dan dari situlah kritik sastra semakin bermasalah dan membingungkan. Atau pada dasarnya kita semua adalah bagian dari dunia yang membingungkan?

Kita semua seolah berada dalam ketegangan antara kepastian dan ketidakpastian atau keserbamungkinan. Dan kita mungkin akan remuk di dalam tegangan itu. Atau pada akhirnya, berdiri bimbang sebagai penerus Goenawan Mohamad yang tak tahu lagi harus berjalan ke arah mana. Segala macamnya buntu atau serba mungkin.

Semua kritik sastra yang kita percayai bermula dari hal yang meragukan dan belumlah final. Bahkan banyak kesalahan dan ketidakjelasan di sana-sini. Jadi, para kritikus dan kita sebagai awam, menggunakan dengan keyakinan aneh, bahwa teori sastra yang kita gunakan untuk menelaah dan mengurai, adalah hasil dari sebentuk kejelasan final dan tetap.

Semua kritik sastra adalah subyektif. Sebaik apapun dan sedekat apapun kritik itu mencoba menggali dan terus menggali. Pada dasarnya, kita semua berpegang pada pedoman yang rapuh atau bahkan seringkali salah.

Sejak kapan psikologi benar-benar menjadi ilmiah? Bahwa pakar dan ahli psikolog serta para psikolog sendiri berada dalam jalan yang saling bertentangan mengenai status keilmuan dan pedekatan mereka dan apa yang mereka percayai. Tak ada yang final dalam psikologi. Bahkan semakin terpecah dan membingungkan. Terlalu banyak aliran. Terlalu banyak keterpecahan. Terlalu banyak politik kekuasaan untuk mengklaim lebih benar antara aliran satu dan lainnya. Ketidaksepakatan terhadap teori dan gagasan yang lainnya. Bahkan para psikolog saling bermusuhan dan tak mau mendengarkan dan menerima logika, temuan dan sudut pandang yang lainnya. Psikitari, saudara dekat Psikologi, mengalami hal yang sama. Bahkan gerakan Anti Psikiatri dan kasus terkenal Sybil dan Billy Miligan sudah menjadi umum mengenai krisis kesepakatan bersama di kalangan psikolog dan psikitari mengenai apa yang harus mereka terima, sepakati, dan percayai. Lalu, ketika para psikolog dan psikitari sendiri pun bermasalah dengan tradisi mereka sendiri, apa para kritikus sastra masih yakin dan percaya diri menggunakan teori berbasis psikologi. Tidakkah para kritikus sastra adalah mereka yang bukan ilmuwan dan kebanyakan hanya sekedar meminjam hasil dari orang lain, dan anehnya dengan kepercayaan diri yang membuta?

Masihkah para mahasiswa, dosen, hingga kritikus sastra menyandarkan diri pada psikonalisis yang banyak bermasalah dan mengandung banyak hal yang sangat subyektif dan kepura-puraan di sana-sini. Sejarah psikologi dan juga psikiatri adalah sejarah yang tak lengkap dan banyak hal yang ditutupi dan disimpangkan. Sehingga, psikologi sendiri susah untuk dijadikan tempat bersandar. Terlebih psikoanalisis. Dan yang membuat heran, kemana aliran psikologi yang lainnya? Kenapa nyaris tak dimasukkan dalam tradisi besar kritik sastra?

Dan sejak kapan feminisme berlandaskan hal yang sangat ilmiah dan mudah untuk dipertanggung jawabkan secara keilmuan? Tidakkah feminisme lebih bertumpu pada sisi subyektif seorang perempuan yang merasa, mendengar, mengamati, dan mengalami? Feminisme berdiri  diantara jalinan emosional dan fakta atau kenyataan. Bahkan feminisme adalah keberadaan yang lebih sangat rapuh dari pada psikologi yang didasari atas tradisi besar sains positivis. Tidakkah banyak tulisan feminis sangat emosional dan bertumpu pada pengalaman kehidupan mereka sendiri atau apa yang mereka amati di sekitar mereka? Hingga pada akhirnya, muncullah banyak aliran dan saling ketidaksepakatan di kalangan mereka sendiri. Dan tidakkah itu menandakan ada celah di situ. Bahwa feminisme, terlebih tulisan para feminis, terjatuh pada kesalahan sudut pandang dan kesadaran yang mungkin bukan asli atau ilusi. Sehinggga seorang feminis dari aliran tertentu menganggap feminis dari aliran lain salah, memiliki kesadaran palsu dan buruk, atau tak memahami dan menutup mata dari kenyataan yang sebenarnya.

Apa jadinya, jika kritikus sastra yang sejatinya lebih banyak sebagai pengumpul rempah-rempah hasil kerja orang lain, menganggap bahwa teori sastra adalah final, benar, tetap, tak berubah dan bahkan harus mutlak dipercayai? Dan memakainya untuk memaksa orang lain mengikuti kehendaknya yang berasal dari sumber yang sudah cacat dan susah untuk diyakini bersama.

Mari kita akui bersama, sejak kapan Marxisme adalah kebenaran mutlak? Lalu kenapa ada begitu banyak sempalan dari Marxisme dengan masing-masing sudut pandang kepercayaan mereka sendiri? Kenapa dalam tradisi kritik kita menganggap penting Marxisme bukannya Kapitalisme atau Liberalisme yang telah membangun peradaban dunia modern dengan Komputer, Internet, Handphone, Listrik, hingga makanan dan celana dalam kita? Kenapa kita begitu tergila-gila dengan logika Marxisme dalam kritik sastra kita dan tak mau mengakui bahwa Kapitalisme telah menjadi bagian hidup diri diri kita dan membentangkan banyak sekali penemu dan ilmuwan penting yang hasilnya kita nikmati bersama; paling mudah Facebook? Itu pertanyaan tersendiri. Yang jelas, Marxisme lebih sangat rapuh lagi dari yang lainnya. Kenapa harus Ekonomi bukannya agama atau yang bersifat psikologis? Kenapa harus kelas bukannya identitas yang menjadi dasar saling berseteru? Apakah pada dasarnya dunia kita sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan atau bersifat cukup bebas layaknya seorang eksistensialis atau malah ditentukan oleh Tuhan yang jauh? Mana yang lebih benar, Marx, Engels, Stalin, Lenin, Rosa, Lucas, Gramschi, Althusser dan banyak lainnya? Tidakkah itu berarti sangat subyektif karena masing-masing penganut Marx tidak sepakat secara penuh? Lalu kenapa para kritikus kita dengan sangat yakin dengan teori dan hasil telaahnya? Yah, entahlah, silahkan kalian berpikir sendiri-sendiri mengenai hal ini.

Bahkan landasan Marx yang sangat materialis itu mungkin akan banyak disangkal oleh orang lainnya. Dan siapa yang masih bisa berkicau tentang kebenaran dalam sejarah yang utuh? Sedangkan fondasi bangunan dia yang bernada Darwinisme, akan susah dikatakan ilmiah ketika Richard Dawkins pun kesusahan untuk meyakinkan semua orang bahwa Darwin benar dan sudah tak perlu diragukan lagi. Bahkan para pengikut Darwin pun berbeda pendapat dan terbuka untuk berubah jika pengetahuan dan fakta baru muncul di lapangan. Apakah ada kritikus sastra di Indonesia yang rela mengakui kesalahannya dan berani melangkah layaknya para ilmuwan lainnya, di depan publik, meminta maaf atau mengubah sudut pandangnya terhadap dunia dan dengan bijaksana mengakui keunggulan dan kebenaran lawannya? Aku bukan pengamat sastra yang serius. Aku tak begitu tahu. Aku hanya sekedar jarang melihatnya. Jika kalian lebih tahu, tolong direnungkan dan dipikirkan sendiri. Kalau bisa dituliskan agar aku sendiri tahu dan mendapatkan wawasan akan hal itu.

Lalu bagaimana dengan New Historicism, Materialisme Kultural, Dekonstruksi, Posmodern, Strukturalisme, Poskolonial hingga kritik Gay dan Lesbian atau Kritik Baru dan kritik sastra yang bersandarkan pada keklasikan dan kekunoan yang akhir-akhir ini mencuat?

Tak ada di antara sekian banyak tradisi kritik itu yang benar-benar ilmiah. Mantab. Bisa dipertanggung jawabkan secara menyeluruh. Memiliki kebenaran yang utuh. Dan tak terhindar dari subyektifitas. Lalu, masihkkah kita memuja tinggi teori sastra yang selama ini sebagai suatu pendekatan yang absah dan layak dipertanggung jawabkan? Atau anehnya, diyakini kebenarannya? Itulah masalah utama di jantung humaniora.

Aku tak bisa membahas semua teori itu di sini. Aku sedang lapar. Jadi saat aku menulis ini, aku benar-benar sedang ingin makan dan belum mandi. Karena aku bukan penulis yang baik, tak begitu tahu banyak sastra dan kritik sastra, aku serahkan saja pengandainya ini terhadap masing-masing dari kalian.

Dan tidakkah sudah saatnya kita menamai ulang tradisi kritik sastra kita sebagai kritik sastra subyektif? Dan lebih baik secara serius mengakui bahwa kita melandaskan tradisi kritik selama ini kepada pengalaman kita, pengetahuan kita, wawasan kita, apa yang kita baca, sudut pandang kita terhadap dunia, kepercayaan moral kita, agama atau keyakinan kita, sikap politik kita, apa yang kita inginkan dan banyak lainnya.  Bahkan ketika kita sedang menggunakan teori sastra sekalipun. Teori sastra yang pada dasarnya sangat membingungkan, berada di antara fakta dan pengalaman, tengangan antara obyektif dan subyektif, yang nilai kebenaran sangat tak final dan bahkan banyak kesalahan di sana-sini yang anehnya tak kita koreksi dengan baik dan membuangnya dari tradisi kritik kita. Mana yang sudah tak berlaku dan mana yang masih mungkin. Dan perdebatan sastra terus berlanjut di tengah kerapuhan dan keterpecahan kita. Yang mana, sayangnya, kritik sastra bukan teks suci hasil dari yang jauh. Tapi manusia yang bisa saja salah dan memang sering salah. tidakkah teks suci pun sering dipermasalahkan? Apakah kita ingin menganggap teori sastra layaknya kitab suci agama-agama?

Para kritikus sastra kita, jika benar-benar ingin menjadi kritikus berdasarkan teori, harus berani dulu memandang ke belakang. Menguji seluruh landasan dasar teori mereka sendiri. Apa yang salah di sana. Dan apa yang layak dibuang dan sudah tak lagi diyakini dan kemungkinan salahnya besar dan sudah tak mampu lagi menjawab ini dan itu. Atau mungkin kita tak terbiasa dengan gagasan semacam ini. Dan menganggap apa yang sudah ada, sebagai benar tanpa harus dipikrikan ulang. Jika para kritikus sastra sudah seperti itu, lalu apa jadinya dengan dosen sastra, guru sastra, dan mahasiswa sastra yang ketika skripsi dianjurkan jangan yang susah-susah dan kalau bisa jangan aneh-aneh. Ikuti saja teori dan tradisi kritik yang sudah ada. Yang kemungkinan salah itu, dan selesai.

Dan apa yang selama ini diandaikan oleh Saut Situmorang, mengalami dua bentuk kegagalan. Kritik sastra dilandasi oleh pengalaman dan pengetahuan subyektif masing-masing para teoritikusnya yang belum selesai dan kebenarannya susah untuk diakui bersama. Jika Saut menginginkan sebuah kritik sastra yang ilmiah, sejak awal hal semacam itu nyaris tak mungkin. Landasan kritik sastra bukanlah seperti apa yang dipegang oleh para geolog, ahli biologi, fisika, kimia, matematika atau para astronom. Landasan kritik sastra lebih bersifat humaniora dan jauh lebih rapuh dari pada sains yang banyak dianggap rapuh jika menyangkut beberapa hal penting dalam kehidupan kita. Lalu, apakah teori penting? Penting, asal tidak kita anggap benar secara keseluruhan. Dan jika kita sedikit cerdas, kita bisa memilahnya. Mana yang sudah kadaluarsa dan mana yang masih layak dan mungkin. Dan Saut tak bisa memaksa lagi kepada kita bahwa teori Barat itu sudah utuh dan layak. Kecuali sebagai kemungkinan untuk telaah dan bagaimana kita memandang dunia ini. Dan pada akhirnya, Saut pun terlalu emosional dalam setiap debatnya. Yah, keinginan untuk benar-benar obyektif dan profesional layaknya pekerja kantoran yang kaku itu pun susah untuk dia sendiri jalankan. Bahkan tidakkah Saut sendiri seringkali mengumpat? Apakah mengumpat adalah salah satu dari sekian banyak pendekatan ilmiah dan laku obyektif?

Tapi, Saut Situmorang adalah sedikit kewarasan yang susah ditemukan. Menjadi sedikit melenceng dari garis umum sastra Indonesia berarti jalan menuju sakit jiwa, keterasingan, dan mungkin bunuh diri sosial atau bahkan bunuh diri fisik. Apa yang dilakukan dirinya dalam sastra Indonesia, layak aku beri tepuk tangan. Walau kita juga harus mau mengakui banyaknya ketidaksinambungan dari apa yang Saut koarkan dan kenyataan dirinya sendiri. semisal, adakah pendukung Saut berani melakukan kritik nyata dan obyektif terhadap karya dan diri Saut sendiri? ataukah berlindung di bawah kebesaran Saut dan takut jika nanti akan menyinggung dirinya?

Pada akhirnya, sastra kita selalu mandul jika berkaitan dengan orang yang kita kenal dan anggap sebagai teman, guru, dosen, dan yang kita kagumi. Dalam tahap ini, mendadak otak kita beku. Kita tiba-tiba menjadi penakut. Menjadi penipu. Berpura-pura. Dan jadilah apa yag hari ini kita sebut sastra Indonesia.

Aku selalu memberi tepuk tangan bagi mereka yang mau menulis. Entah sebagai sastrawan, penyair, esais atau penulis naskah dan lainnya. Karena tulisan adalah sebagian dari jejak mental, psikologis, agama, keyakinan, sudut pandang akan dunia, identitas dan rekam sebagian dari diri seseorang. Maka, kegiatan menulis adalah semacam kegiatan menelanjangi diri sendiri di muka umum. Sepandai apa pun seorang penulis itu ingin menyamarkan dirinya dan mengelak dari bahasa. Dan  berpolemik panjang serta melakukan laku kritik adalah kegiatan yang benar-benar sangat beresiko. Sehingga sedikit orang yang mau melakukannya.

Sehingga, seketerlaluannya Saut Situmorang, aku akan tetap memberikan tepuk tangan dan hormat kepada dia dari pada mereka yang selalu bersembunyi dan menghakimi seenaknya tanpa mau untuk menulis dan membuka pikirannya terhadap orang lain secara luas. Aku akan tetap memberikan salut kepada Narudin Putin karena keberaniannya mendedahkan dirinya sendiri. Walau kadang ia sangat tak menyenangkan bagi sebagian orang dan susah untuk dikritik. Setidaknya Narudin Pituin, telah menuliskan pikirannya yang akan mudah untuk dinilai, dihakimi, dan ditelaah orang lain. Suatu bentuk penelanjangan diri yang tak berani dilakukan orang lain. Hal semacam ini berlaku dengan Goenawan Mohamad, Binhad Nurrohmat, Maman S Mahayana, Katrin Bandel dan lain sebagainya. Entah mereka adalah esais atau mengaku dirinya kritikus sastra. Dalam tulisan mereka, entah yang tak mau mengakui atau menghindar, atau hal-hal lainnya. Setidaknya mereka menuliskan pikirannya dan aku, juga kalian, bisa menelaahnya dan mungkin menemukan sesuatu yang lain. Entah kedangkalan, sikap hati-hati, kesalahan dasar ilmu, atau sudut pandang yang tak sesuai.

Dengan gairah membaca hanya 0,01 persen, menurut UNESCO, bagi masyarakat yang memiliki penduduk yang sangat besar ini, adanya mereka yang memelencengkan diri untuk menulis karya sastra, patut kita beri penghargaan dan kita akan tetap menilai sejauh mana karya itu, dan tak serta merta membiarkannya begitu saja seperti karya populer yang dipuja-puja tanpa sikap kritis yang berarti. Di masyarakat yang sedikit sekali membaca dengan rata-rata pertahun hanya satu buku bagi masyoritas penduduk. Melihat seorang kritikus, seolah-olah sedang melihat orang gila yang sedang menjerumuskan diri dalam kegilaan total. Siapa yang tak gila jika ia bersedia mati secara sosial, keuangan, dan banyak hal lainnya? Para sastrawan lebih mudah menyembunyikan kebusukan dan wajah pura-puranya terhadap dunia dan hanya sekedar fokus menghasilkan karya. Dan mereka juga akan lebih mudah diterima orang secara sosial; baik penggemar maupun teman sesama sastrawan. Dan uang masih akan mudah mengalir dalan kantong mereka. Bagaimana dengan Kritikus? Keberadaan yang nyaris tak menyenangkan, mudah dibenci, dimusuhi, dan penghasilan yang mungkin lebih susah dari pada seorang sastrawan yang menghindari diri dari polemik. Itulah sebabnya, ada seorang yang mau bersusah payak di lajur kritik sastra adalah bagaikan melihat orang yang sedang ingin bunuh diri.

Sastra kita adalah sastra pertemanan. Sastra berkubu. Sastra saling pura-pura. Sastra kebohongan. Sastra kedamaian dan memilih ikatan sosial dari pada kebenaran. Sastra yang menghamba. Berpatron. Sastra yang memilih ketenaran dan uang dari pada sastra yang berani mengakui kekurangan diri sendiri. Entah dalam puisi sang penyair. Novel sang novelis. Esai sang esais atau kritik dari sang kritikus. Dan sastra yang hampir segala sesuatunya kita pinjam dari Barat dan orang lain. Dari mulai sejarah negara kita yang ditulis oleh orang lain. Hingga teori dan para sastrawan kita yang mengarakan dirinya pada Barat dan peradaban lainnya. Apakah meminjam dan menggunakan apa yang dicptakan dan ditemukan oleh Barat tidak diperbolehkan? Sangat diperbolehkan. Asalkan kita sadar dan tahu diri. Dan mau mengakui apa yang kurang dan cacat dari kita.

Lalu apakah tak ada sastrawan, penyair, kritikus dan lain sebagainya yang tak terlalu berpura-pura, terlalu menjadi penakut dan hidupnya hanya sekedar untuk berkubu dan berbohong. Yang jelas, masih ada. Tapi kecenderungan hari ini adalah sastra yang penakut dan berkubu. Sastrawan dan kritikus yang tak berani mengakui kesalahan dan kekurangan dalam diri sendiri. Mungkin aku menyimpulkan hal yang terlalu gegabah. Karena pada dasarnya aku bukan penulis yang baik. Aku serahkan hal ini kepada mereka yang berada dalam jalan menjadi seorang peneliti.

Dan mari kita juga akui, tidakkah lebih banyak orang yang sangat tak terhormat ada di luar sana? Yang kadang keberadaannya sangat menyebalkan. Mereka ini, yang sama sekali tidak menulis, lebih tepatnya konsumen yang kerjanya hanya sekedar berkomentar seadanya di jejaring maya, mengutuk sumpahi sastrawan, kritikus dan lainnya sebagainya tapi tanpa mampu menampakkan diri dengan sikap yang layak dipuji, yang memenuhi hampir semua ruang sosial yang ada, masihkah kita menghargai orang-orang ini? Orang-orang yang bersembunyi tapi melemparkan suara yang keras dan kadang sangat mengerikan. Suruhlah orang ini menulis sebuah esai, sedikit kritik atau karya. Maka kebanyakan dari mereka akan mundur, berpikir panjang atau bahkan menghilang dan mengindari tantangan. Karena menulis sama dengan menelanjangi diri sendiri. Menyodorkan batasan apa yang ia ketahui, miliki, dan sejauh mana bacaan yang ia resapi. Maka, polemik secara sadar dan akan dilihat banyak orang, hanya akan dilakukan oleh mereka yang bermental kuat, berani mengakui kesalahan, atau yang cukup bijaksana dan kurang ajar. Tidakkah sedikit orang yang berani berpolemik atau mengakui kekurangan dan kesalahannya di depan umum?

Jumlah kritikus itu sedikit dan hampir punah. Dan apa yang ada di dalam kritik sastra pun semakin membingungkan. Lalu, di dalam sana, di jantung sastra kita, ada keterpecahan, saling memaki, menghina, ketidakbersamaan, tak berani bersikap jujur dan adil, sikap berkubu dan mengamba, lalu sikap pragmatisme yang sudah berurat akar di sebagian kalangan sastrawan dan kritikus. Laluapa jadinya, jika tiba-tiba kita di invasi oleh negara asing kembali di saat kita sendiri sedang bermasalah? Di saat banyak dari kita adalah oportunis dan mereka yang pengecut? Bagaimana nasib kita kelak jika perang besar tiba-tiba mampir di rumah kita yang hari ini?

Jika dalam tubuh kesusatraan kita saja seperti itu. Bagaimana dengan mereka yang hanya sekedar mengacu pada ekonomi, status sosial, identitas agama, suku, bahasa, bahkan sikap politik dan keyakinan terhadap idelogi tertentu? Mari kita berpikir ualng terhadap dunia yang hari ini kita tinggali. Dan sastra, hanyalah cermin kecil dari apa yang terjadi di gedung DPR hingga apa yang ada di pasar tradisonal setiap hari.

1 komentar:

  1. sastra lahir dari keadaan zaman
    sastra terkonsep dari suasana kebatinan dan kenyataan
    kadang absurd
    kadang menggebungebu
    bisa garang
    bisa melankolis
    sastra saksi sejarah yang terekam
    sepi pengunjung
    sastra panggilan jiwa
    para mesayah suara langit

    BalasHapus