tiap-tiap kali kali membaca karya sastra,
entah kenapa saya selalu merasa diri saya
berada di pusat, dan saya bisa melihat segalanya-
bahkan seluruh kerikil yang terkandung di seluruh
bentangan sungai atau seluruh semut yang
merangkak tekun di hutan-hutan nenek moyang.
saya curiga, selain dalam karya sastra, saya
agaknya tidak akan pernah lagi bisa melihat
pemandangan dan pertunjukkan yang abadi dan
sekejapan semacam itu.
- Tia Setiadi
Petualangan yang Mustahil
aku tak tahu, kenapa isi dalam esai-esai Tia Setiadi, Petualangan yang Mustahil,
terlalu sopan, malu-malu, dan membosankan. yang mengherankan, seluruh
esai yang terkandung di dalamnya tak melangkah, sekedar duduk, seperti
sosok idiot yang menggaruk-garuk kuburan orang lain ditemani burung
bangkai yang menjelma jadi tukang sapu pribadi. sebagai esais atau
kadang bahkan dikatakan kritikus, buku itu terlalu mirip anak kecil yang
sedang mengigau tentang permen sebesar gajah. atau mungkin, penulisnya
sedang berada di alam mimpi dan enggan berendam di rawa-rawa.
esais,
yang memenangkan berbagai macam penghargaan itu, pada akhirnya hanya
sosok anak kecil yang tak pernah dewasa. esai-esainya pun terlalu
menjengkelkan. karena sangat menjengkelkan, esai-esai di dalam buku itu
mirip resensi buku atau katalog hiburan menuju taman sastra yang sudah
sekarat. baiklah, kadang, aku tak mengerti, kenapa buku itu, atau
esai-esai itu memenangkan berbagai penghargaan? mungkin, orang-orang
yang menyeleksinya sudah terlanjur terserang kantuk atau terlanjur
berubah menjadi kuda nil yang sibuk berkubang di kedalaman air.
jika
esais atau kritikus sudah sangat malu-malu, hati-hati dalam menulis
esai, dan jika gaya menulisnya cenderung terkesan sopan, mungkin, kelak,
burung pelatuk pun terjatuh dari ketinggian pohon. semut-semut gulung
tikar. para lebah frustasi dan orang utan akhirnya bunuh diri. atau,
sastra menjadi semacam toko obat dengan diskon kata-kata yang meriah.
hingga membuat mabuk siapapun yang membacanya.
dan
buku itu pun, nyaris berisikan sampah yang layak dibuang ke kandang
babi atau sebagai pakan kuda dan ayam. seorang esais, hanya sampai
sejauh itu? sebagai epigon? mirip dan sangat mirip dengan penceramah
sastra yang lainnya? sungguh, dunia akan kiamat dan kakiku mulai
kesemutan dibuatnya.
jika
karya sastra adalah hal yang agung bagi Tia Setiadi dan membuat dunia
berada di sekitarnya semakin jelas. tidakkah ia harus tahu, karya
sastralah yang membuat berbagai macam perang, pembunuhan, dan tidakkah
karya sastra yang membuat hutan hujan indonesia musnah? bahkan mungkin
dunia. mungkin, ketika sedang menulis kata pengantar bagi dirinya
sendiri, Tia Setiadi lupa menjadi beruang kutub atau sekedar onggokan
bangkai katak yang tersangkut di toilet. sampai-sampai, seluruh esainya,
nyaris tak ada sesuatu yang baru. penglihatan macam apa yang ia peroleh
dari membaca sastra? penglihatan yang datang dari kebun binatangkah
atau dari sebuah kurungan anjing dan kucing persia?
jika
seluruh esais menjadi sangat pemalu dan seperti laki-laki pesolek macam
itu. ah, sastra sepertinya akan sekedar menjadi kubangan pura-pura.
persahabatan lebih penting dari pada ide. teman lebih berharga dari pada
karya yang bebas dan baru. dan omong kosong dunia sastra terus
berlanjut.
dan
yang paling mengesalkan dari karya itu, nyaris tak ada sedikit pun
gagasan yang muncul kecuali sekedar menerjemahkan milik orang lain.
selalu memilih surut dan jika memang seperti itu, mungkin para orang
gila lebih baik dari pada para sastrawan kita.
kapan
ada esais yang mengagumkan muncul? apakah semua esais pada akhirnya
cocok menjadi pelawak dan penghibur berita? kapan, ada esais yang tidak
hanya membawa polusi bagi kata-kata dan seluruh makna dunia ini?
ah, aku tahu, mungkin hanya sampai sejauh itulah sastra kita. hanya sampai sejauh itulah esai-esai yang terkandung dalam, Petualangan yang Mustahil.
dan entah kenapa, mungkin hanya sampai segitulah yang bisa dilakukan
penulisnya. apakah itu juga akan jadi wabah bagi sastra Indonesia?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar