Sabtu, 16 April 2016

TIA SETIADI: ESAI-ESAI YANG SANGAT PEMALU DAN TERLALU SOPAN







tiap-tiap kali kali membaca karya sastra,
entah kenapa saya selalu merasa diri saya 
berada di pusat, dan saya bisa melihat segalanya-
bahkan seluruh kerikil yang terkandung di seluruh
bentangan sungai atau seluruh semut yang 
merangkak tekun di hutan-hutan nenek moyang.
saya curiga, selain dalam karya sastra, saya
agaknya tidak akan pernah lagi bisa melihat
pemandangan dan pertunjukkan yang abadi dan
sekejapan semacam itu.
- Tia Setiadi
  Petualangan yang Mustahil




aku tak tahu, kenapa isi dalam esai-esai Tia Setiadi, Petualangan yang Mustahil, terlalu sopan, malu-malu, dan membosankan. yang mengherankan, seluruh esai yang terkandung di dalamnya tak melangkah, sekedar duduk, seperti sosok idiot yang menggaruk-garuk kuburan orang lain ditemani burung bangkai yang menjelma jadi tukang sapu pribadi. sebagai esais atau kadang bahkan dikatakan kritikus, buku itu terlalu mirip anak kecil yang sedang mengigau tentang permen sebesar gajah. atau mungkin, penulisnya sedang berada di alam mimpi dan enggan berendam di rawa-rawa. 

esais, yang memenangkan berbagai macam penghargaan itu, pada akhirnya hanya sosok anak kecil yang tak pernah dewasa. esai-esainya pun terlalu menjengkelkan. karena sangat menjengkelkan, esai-esai di dalam buku itu mirip resensi buku atau katalog hiburan menuju taman sastra yang sudah sekarat. baiklah, kadang, aku tak mengerti, kenapa buku itu, atau esai-esai itu memenangkan berbagai penghargaan? mungkin, orang-orang yang menyeleksinya sudah terlanjur terserang kantuk atau terlanjur berubah menjadi kuda nil yang sibuk berkubang di kedalaman air. 

jika esais atau kritikus sudah sangat malu-malu, hati-hati dalam menulis esai, dan jika gaya menulisnya cenderung terkesan sopan, mungkin, kelak, burung pelatuk pun terjatuh dari ketinggian pohon. semut-semut gulung tikar. para lebah frustasi dan orang utan akhirnya bunuh diri. atau, sastra menjadi semacam toko obat dengan diskon kata-kata yang meriah. hingga membuat mabuk siapapun yang membacanya.

dan buku itu pun, nyaris berisikan sampah yang layak dibuang ke kandang babi atau sebagai pakan kuda dan ayam. seorang esais, hanya sampai sejauh itu? sebagai epigon? mirip dan sangat mirip dengan penceramah sastra yang lainnya? sungguh, dunia akan kiamat dan kakiku mulai kesemutan dibuatnya.

jika karya sastra adalah hal yang agung bagi Tia Setiadi dan membuat dunia berada di sekitarnya semakin jelas. tidakkah ia harus tahu, karya sastralah yang membuat berbagai macam perang, pembunuhan, dan tidakkah karya sastra yang membuat hutan hujan indonesia musnah? bahkan mungkin dunia. mungkin, ketika sedang menulis kata pengantar bagi dirinya sendiri, Tia Setiadi lupa menjadi beruang kutub atau sekedar onggokan bangkai katak yang tersangkut di toilet. sampai-sampai, seluruh esainya, nyaris tak ada sesuatu yang baru. penglihatan macam apa yang ia peroleh dari membaca sastra? penglihatan yang datang dari kebun binatangkah atau dari sebuah kurungan anjing dan kucing persia?

jika seluruh esais menjadi sangat pemalu dan seperti laki-laki pesolek macam itu. ah, sastra sepertinya akan sekedar menjadi kubangan pura-pura. persahabatan lebih penting dari pada ide. teman lebih berharga dari pada karya yang bebas dan baru. dan omong kosong dunia sastra terus berlanjut.

dan yang paling mengesalkan dari karya itu, nyaris tak ada sedikit pun gagasan yang muncul kecuali sekedar menerjemahkan milik orang lain. selalu memilih surut dan jika memang seperti itu, mungkin para orang gila lebih baik dari pada para sastrawan kita.

kapan ada esais yang mengagumkan muncul? apakah semua esais pada akhirnya cocok menjadi pelawak dan penghibur berita? kapan, ada esais yang tidak hanya membawa polusi bagi kata-kata dan seluruh makna dunia ini?

ah, aku tahu, mungkin hanya sampai sejauh itulah sastra kita. hanya sampai sejauh itulah esai-esai yang terkandung dalam, Petualangan yang Mustahil. dan entah kenapa, mungkin hanya sampai segitulah yang bisa dilakukan penulisnya. apakah itu juga akan jadi wabah bagi sastra Indonesia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar