Pintu
air mengetuk dasar yang tinggi.
Tiga
waktu bicara. Warna kabut membelah ceruk.
**
Mulut
yang berkelindan di kedalaman sana,
Menumbuhkan
musim bagi awan yang bergerak menjauh.
**
Tangan
yang tergelincir pelan,
Adalah
kau di sisa malam yang abu.
**
Jam
berdetak,
Jantung
menarik dirinya kedalam kepompong.
**
Hisaplah
aku,
Maut
yang lapar.
Sisa
dataran yang menguning hilang.
**
Hujan
datang dan berbisik sebagai,
**
Tanah
dan setangkup kaki.
Sisa
nyeri di kemudian hari.
**
Pohon
itu mendongengiku tentang seekor burung.
Burung
kecil yang sekarat di dalam telur dan piring
yang
menjamur tanpa musim dan waktu.
**
Seperti
doa,
Tangan
membeku di celah udara.
**
Hanya
ada aku, kau dan setan mungil yang lupa membeli sebotol anggur.
**
Suara
merendah, gelap, laut yang tak bernafas sama.
Fajar
yang merayap di unggun kulit yang memerah.
**
Keramaian
melahirkan kesunyian, yang berlari sebagai sekawanan domba.
Biarkan
ia diam sejenak sebagai garis. Tipis di sisa mata.
**
Puisi
adalah tuhan yang bergerak di reruntuhan bukit.
Dan
seekor rusa yang berlari dari bayangan pohon yang jauh.
**
Sisakah
untukku langit yang biru.
Dan
aliran air yang tak lagi mendaki bukit.
**
Darah
menetes, pelan, dan hidup bergerak lambat.
**
Rasa
sakit itu, adalah aku yang terhenti di cermin kau.
Ikatan
yang putus sebelum membenihkan ranting.
**
Seperti
jurang yang mengaum keras.
Gunung-gunung
bergema di lorong-lorong telinga.
Tuhan
yang patah di kesakitan pulang.
**
Rumah
memutih.
Rambut
pun mengering.
**
Dekat
yang berjarak, jauh yang mengilu.
Kau.
**
Anak
kecil berjalan pelan ditumpukan mayat.
Mengigau
tentang surga yang semakin mendekat.
**
Seekor
kucing, burung, dan katak yang tertidur di lapisan tanah. anak anjing
bertengkar dengan bayi mungil yang sedang belajar menggerakan kata.
sepasangcicak menarik diri dari lampu-lampu.
**
Lihatlah
kedua mataku.
Seekor
singa yang tersudut oleh sekawanan hyena.
Dan
burung bangkai yang setia menunggu dalam tabah.
**
Sebuah
kamar, dan sebaris panjang semut.
Dan
laki-laki patah hati yang tertidur sepanjang hari.
**
Mencintaimu,
Luka
yang tak kusadari tumbuh di selapis tidur.
**
Dan
tuhan pun tersenyum,
Seekor
anak manusia mengambang di lelaut sebagai bangkai.
**
Aku
menantimu, dalam waktu yang tak terhitung oleh hati.
Dan
kini, tubuhku tak lagi mampu dibangunkan oleh sepi.
**
Seatap
liar kau cengkram bahuku lalu.
Sepasang
paru yang tertimbun oleh seduka rasa.
Dasar
kaki memuncak ke atas tuli.
**
Merapal
tuhan. Menjelma iblis.
**
Seorang
perempuan, danau, sebuah perahu dan langit yang berkilauan.
Seperti
anak kecil ia menangkap semesta di kedalaman riang.
**
Tak
ada yang salah dengan engkau.
Seekor
tikus mengerat di kebisuan malam.
Manusia
yang tertidur menebangi hutan.
**
Kau
berdiri, terpaku, ombak menggulung amuk.
Rasa
takjub yang lebih perkasa dari pada sang maut.
**
Di
kedalaman hutan sejati;
Surga
adalah jalan yang tak ingin lagi kau lalui.
Dan
tempat yang tak ingin lagi kau masuki.
**
Mendaki
dan terus mendaki.
Lalu
kau temukan kekosongan.
Seorang
kecil yang tersesat dalam kehamaluasan.
**
Ingin
aku berikan kisah ini untukmu.
Bahwa
dahulu kala..
**
Kau
rapatkan tubuh hingga dinding bergemeretak takut.
Kau
renggangkan tangan sampai angin menggigil sayu.
Dan
mata yang mencari, menusuk sebongkah tanah yang menjauhi keramaian.
**
Seandainya
semut sebesar gajah.
**
Dan
siang pun kembali datang.
Jatuh
di selasela mimpi yang terputus.
**
Kesepian
seperti lautan asin yang terdampar
di
depan seorang yang terdampar.
**
Dan
kini, letupan nyeri bersenandung di sudut-sudut.
Debu
yang terpantul angin di kebisingan gerimis.
Daun
yang menatap tanah dengan lelah dan resah.
**
Wajah
yang mencuat di sela-sela batu.
Adalah
aku yang tercenung dikekedapan masa.
**
Mencintaimu,
kadang aku harus diam dalam kebingunganku.
Saat
lepas adalah kata yang masih tak kumengerti.
**
Seekor
capung mengepak sayap di kekeringan kota.
Pohon-pohon
yang membisu kaku. Tak berair. Tak mengalir.
**
Tahan,
biarkan kata menekan hingga masuk keluar.
Kau,
yang berseteru dengan rautku.
Menantang
dendam di kesumat diam.
Sudihkan
kau memecah lubangku?
**
Jendela
menyayat kayu. Angin datang sebagai keluh.
Lilin
mengecup mata. Seorang buta yang menapaki seluruh malam.
**
Aku
kembali,
Dari
perjalanan panjang yang tak kumengerti.
Dimana
rumah untukku kembali?
Sedaun
pintu.
Atap
yang beku disiksa layu.
Wajahmu,
dan kenangan yang berderit sepanjang kaku.
**
Keluarga,
jauh dipandang hingga hilang dari mata.
Pulau
yang membentang. Rasa menguliti setiap dari kenangan.
**
Bintang-bintang
mengelopak sungai.
Berlayarkah
kita pada keabadian?
**
**
Seperti
kecil kau memungil merah
mata membiru
di rerusuk hijau
jemari yang
bergerak melayang awan
kuasa yang
halus mencengkram sendu
15 april 2016

Pakai botol yg buat muncak. Kedap panas. Jadi sampai sini mungkin masih ada anget
BalasHapus