Jumat, 15 April 2016

SEPERTI KECIL KAU MEMUNGIL MERAH








Pintu air mengetuk dasar yang tinggi.
Tiga waktu bicara. Warna kabut membelah ceruk.

**

Mulut yang berkelindan di kedalaman sana,
Menumbuhkan musim bagi awan yang bergerak menjauh.

**

Tangan yang tergelincir pelan,
Adalah kau di sisa malam yang abu.

**

Jam berdetak,
Jantung menarik dirinya kedalam kepompong.

**

Hisaplah aku,
Maut yang lapar.
Sisa dataran yang menguning hilang.

**

Hujan datang dan berbisik sebagai,

**

Tanah dan setangkup kaki.
Sisa nyeri di kemudian hari.

**

Pohon itu mendongengiku tentang seekor burung.
Burung kecil yang sekarat di dalam telur dan piring
yang menjamur tanpa musim dan waktu.

**

Seperti doa,
Tangan membeku di celah udara.

**

Hanya ada aku, kau dan setan mungil yang lupa membeli sebotol anggur.

**


Suara merendah, gelap, laut yang tak bernafas sama.
Fajar yang merayap di unggun kulit yang memerah.

**

Keramaian melahirkan kesunyian, yang berlari sebagai sekawanan domba.
Biarkan ia diam sejenak sebagai garis. Tipis di sisa mata.

**

Puisi adalah tuhan yang bergerak di reruntuhan bukit.
Dan seekor rusa yang berlari dari bayangan pohon yang jauh.

**

Sisakah untukku langit yang biru.
Dan aliran air yang tak lagi mendaki bukit.

**

Darah menetes, pelan, dan hidup bergerak lambat.

**

Rasa sakit itu, adalah aku yang terhenti di cermin kau.
Ikatan yang putus sebelum membenihkan ranting.

**

Seperti jurang yang mengaum keras.
Gunung-gunung bergema di lorong-lorong telinga.
Tuhan yang patah di kesakitan pulang.

**

Rumah memutih.
Rambut pun mengering.

**

Dekat yang berjarak, jauh yang mengilu.
Kau.

**

Anak kecil berjalan pelan ditumpukan mayat.
Mengigau tentang surga yang semakin mendekat.

**


Seekor kucing, burung, dan katak yang tertidur di lapisan tanah. anak anjing bertengkar dengan bayi mungil yang sedang belajar menggerakan kata. sepasangcicak menarik diri dari lampu-lampu.

**

Lihatlah kedua mataku.
Seekor singa yang tersudut oleh sekawanan hyena.
Dan burung bangkai yang setia menunggu dalam tabah.

**

Sebuah kamar, dan sebaris panjang semut.
Dan laki-laki patah hati yang tertidur sepanjang hari.

**

Mencintaimu,
Luka yang tak kusadari tumbuh di selapis tidur.

**

Dan tuhan pun tersenyum,
Seekor anak manusia mengambang di lelaut sebagai bangkai.

**

Aku menantimu, dalam waktu yang tak terhitung oleh hati.
Dan kini, tubuhku tak lagi mampu dibangunkan oleh sepi.

**

Seatap liar kau cengkram bahuku lalu.
Sepasang paru yang tertimbun oleh seduka rasa.

Dasar kaki memuncak ke atas tuli.

**

Merapal tuhan. Menjelma iblis.

**

Seorang perempuan, danau, sebuah perahu dan langit yang berkilauan.
Seperti anak kecil ia menangkap semesta di kedalaman riang.

**

Tak ada yang salah dengan engkau.
Seekor tikus mengerat di kebisuan malam.
Manusia yang tertidur menebangi hutan.

**

Kau berdiri, terpaku, ombak menggulung amuk.
Rasa takjub yang lebih perkasa dari pada sang maut.

**

Di kedalaman hutan sejati;
Surga adalah jalan yang tak ingin lagi kau lalui.
Dan tempat yang tak ingin lagi kau masuki.

**

Mendaki dan terus mendaki.
Lalu kau temukan kekosongan.
Seorang kecil yang tersesat dalam kehamaluasan.

**

Ingin aku berikan kisah ini untukmu.
Bahwa dahulu kala..

**

Kau rapatkan tubuh hingga dinding bergemeretak takut.
Kau renggangkan tangan sampai angin menggigil sayu.
Dan mata yang mencari, menusuk sebongkah tanah yang menjauhi keramaian.

**

Seandainya semut sebesar gajah.

**

Dan siang pun kembali datang.
Jatuh di selasela mimpi yang terputus.

**

Kesepian seperti lautan asin yang terdampar
di depan seorang yang terdampar.

**

Dan kini, letupan nyeri bersenandung di sudut-sudut.
Debu yang terpantul angin di kebisingan gerimis.
Daun yang menatap tanah dengan lelah dan resah.

**


Wajah yang mencuat di sela-sela batu.
Adalah aku yang tercenung dikekedapan masa.

**

Mencintaimu, kadang aku harus diam dalam kebingunganku.
Saat lepas adalah kata yang masih tak kumengerti.

**

Seekor capung mengepak sayap di kekeringan kota.
Pohon-pohon yang membisu kaku. Tak berair. Tak mengalir.

**

Tahan, biarkan kata menekan hingga masuk keluar.
Kau, yang berseteru dengan rautku.
Menantang dendam di kesumat diam.
Sudihkan kau memecah lubangku?

**


Jendela menyayat kayu. Angin datang sebagai keluh.
Lilin mengecup mata. Seorang buta yang menapaki seluruh malam.

**

Aku kembali,
Dari perjalanan panjang yang tak kumengerti.
Dimana rumah untukku kembali?

Sedaun pintu.
Atap yang beku disiksa layu.

Wajahmu, dan kenangan yang berderit sepanjang kaku.

**

Keluarga, jauh dipandang hingga hilang dari mata.
Pulau yang membentang. Rasa menguliti setiap dari kenangan.

**

Bintang-bintang mengelopak sungai.
Berlayarkah kita pada keabadian?

**

Sekarat menanti yang tak pernah terjawab.

**

Seperti kecil kau memungil merah
mata membiru di rerusuk hijau

jemari yang bergerak melayang awan
kuasa yang halus mencengkram sendu


15 april 2016



1 komentar:

  1. Pakai botol yg buat muncak. Kedap panas. Jadi sampai sini mungkin masih ada anget

    BalasHapus