Pujian untuk Eka
Kurniawan selain yang ada disampul buku dan di dalamnya:
Eka Kurniawan, Karya yang mempesona. Sangat dianjurkan bagi mereka yang
kekurangan kayu bakar untuk memasak.
-Merah naga
Lelaki Harimau. Cocok untuk menumbuhkan gairah seks anda! Bacaan wajib bagi orang
bodoh. Dan bacaan untuk membuat anda terkenang lagi dengan Tusuk Jelangkung,
Mak Lampir dan juga Suzanna. Tapi sangat disayangkan, tokoh-tokoh Eka tak mampu
menyaingi mereka.
-Arah Lalu
Dalam karyanya, Seperti Dendam
Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka mampu mewujudkan ketidakmampuannya keluar
dari khayalan seks dan alur cerita dipaksakan. Karya luar biasa yang
menyadarkan kita bahwa Eka Kurniawan hanya bisa gitu-gitu aja.
-Lembayung Senja
Pramoedya mungkin akan menangis di dalam kubur sambil berjongkok ketika
melihat Eka Kurniawan membawa karya sastra kembali ke era hantu-hantu. Karya-karya
yang layak dibaca oleh bintang porno Jepang.
-Kanta Kastiri
Kehebatan Eka Kurniawan sebagai sastrawan adalah sangat mirip dengan
hampir semua sastrawan modern Indonesia. Eka bahkan tak mampu menyaingi ide-ide
segar para komikus/mangaka Jepang, Korea dan sebagainya. Kekagumanku pada Eka,
terletak pada kenyataan bahwa Sastra kita mengalami perkembangan yang
mencengangkan; jalan di tempat.
-Naga Sukma
Kelebihan Corat-coret di Toilet
adalah sampulnya. Hanya itu.
-Kritikus Anonim
Aku kagum dengan para pengagum Eka Kurniawan. Terlebih para penulis dan
sastrawan yang berkomentar positif dan memuji-muji karyan-karyanya. Entah di
mana para kritikus kita. Karya sejelek itu dipuji oleh banyak orang. Ah,
ternyata otak orang Indonesia masih nyaris belum berkembang. Mengagumkan.
-Shuu
Susah untuk
memuji karya Eka Kurniawan kecuali orang-orang asing yang tergila-gila dengan
setan dan bosan dengan rasionalisme positif. Atau makhluk bodoh yang kurang
suka membaca dan menggunakan otaknya hanya kadang-kadang. Sejujurnya aku lebih
suka membaca manga/komik akhir-akhir ini. Lebih banyak gagasan baru, keberanian
menentang arus, dan riset yang tak kalah peliknya. Kegigihan dan suka duka para
komikus/mangaka, mengingatkan aku pada kemalasan para sastrawan Indonesia
modern. Terlebih Eka, hanya lima karya di usianya yang sudah tua seperti itu.
Itu pun karya yang biasa-biasanya saja. Menjadi gelembung sebentar. Setelah itu
menghilang.
Dalam bukunya Corat-coret di Toilet, hanya cerpen yang
menjadi judul sampul itulah yang bisa dikatakan bagus. Sisanya boleh digunakan
untuk bungkus nasi kucing.
Lelaki Harimau, yang banyak
dipuji itu, menampilkan sosok harimau hanya di awal dan akhir cerita.
Sejujurnya harimau itu gunanya untuk apa? Sekedar bonus cerita, sisipan iklan,
atau sekedar untuk dimakan oleh pembaca yang gobloknya tak tertolong lagi
hingga mudah untuk dibodohi.
Jujur, kalau tak
terpaksa, aku malas membaca Eka. Terlalu membosankan. Alur dipaksakan dengan
seenaknya. Sosok yang dipuji-puji internasional tapi sangat tak menghargai
hasil pujian itu dan menganggap enteng setiap karya yang dituliskannya. Yang
masih lumayan sepertinya hanya Cantik Itu
Luka. Sisanya sangat tak bertanggung Jawab. Seolah-olah kita ini orang
bodoh yang bisa dicekoki dengan mudahnya karena nama pengarangnya sudah besar.
Dan dia, Eka, bisa menulis seenaknya sendiri dengan hasil yang sungguh, sangat
mengecewakan. Sangat sekedarnya. Jalinan tokoh, psikologis, alur, dan apapun
itu, terlihat sangat semrawut. Cerpen-cerpennya pun sangat biasa-biasa saja.
Dan akhirnya,
sangat jelas, bahwa pembaca Indonesia kebanyakan adalah pembaca yang otaknya
jalan di tempat. Minimnya kritikus sastra membuktikan itu.
Hal yang sangat
jelas dari Eka Kurniawan adalah teks yang sarat seks. Apakah Eka sangat senang
jika , anaknya nanti diam-diam belajar bersetubuh dari karya dirinya sendiri? dan
yang perlu diketahui, Eka menempatkan sosok perempuan yang seolah mirip pelacur
dihampir setiap karyanya; novel.
Sosok perempuan
di karya-karya Eka bisa disetubuhi dengan mudahnya. Digilir. Digonta-ganti. Dan
selalu dalam keadaan kalah atau bahkan dijadikan pemuas nafsu dalam jalan
cerita yang tak jelas. Apakah Eka Kurniawan adalah sosok misoginis, dalam
sebagian dirinya? Begitu mudahnya sosok perempuan dalam Eka dijamah, diperkosa,
dan dijadikan bahan untuk bersenang-senang seolah-olah itu hal yang wajar dan
perlu dalam karya-karyanya. Dan anehnya, perempuan dalam karya Eka pun
seringkali puas disetubuhi oleh macam-macam orang!
Perempuan-perempuan
dalam karya Eka mirip seperti manga/komik hentai Jepang dan film porno dari
negeri sakura itu. Perempuan yang boleh disetubuhi dan menyetubuhi siapa pun
asalkan dia suka dan terangsang senang. Cobalah baca karya Eka dengan
sungguh-sungguh. Plot dan psikologis tokohnya tak dibangun dengan baik guna
menguatkan alasan kenapa pihak perempuan sampai menjadi sangat keterlaluan
mirip pelacur. Seolah-olah tokoh-tokoh perempuannya digunakan dalam karyanya
untuk sekedar membuat pembaca membayangkan, atau bumbu dari karya yang
sejatinya gagal. Hanya orang yang keterlaluan bodoh yang memuji berbagai karya
Eka tanpa sikap kritis dan meminta penjelasan.
Di bukunya yang
berjudul, Perempuan Patah Hati yang
Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, tak ada yang menarik. Sejujurnya
yang menjadi inti buku itu adalah beberapa kisah yang mirip dongeng dan
berbagai macam cerita imajinasi berbagai macam hewan. Kekuatannya terletak
disitu. Sedangkan, cerpen yang menjadi judul itu sangat biasa saja. Benar-benar
biasa dan membuat kita ngantuk karena sangat tak jelas dan mirip cerpen yang
dibuat anak sekolah dan seorang remaja.
Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, sangat berbau pornografis. Buku yang isinya sejujurnya bisa ditulis
dalam 10-20 halaman saja. Sisanya hanya membuang-buang tempat. Penguatan
latarnya juga biasa saja. Tokoh-tokohnya seperti di film silat atau laga, yang
sayangnya dikerjakan secara terpaksa dan terburu-buru. Dan perempuan yang bisa
dijadikan mainan oleh siapa pun. Seolah-olah novel itu bercerita; jika kamu
ingin membuat seorang anak perempuan tunduk, buatlah ia merasakan nikmatnya
seks sedari muda. Jadi, buku-buku Eka Kurniawan bisa dijadikan panduan bagi
para pecandu seks dan anak-anak sekolahan yang sedang sibuk pacaran agar
berimajinasi dengan bebas dan mungkin kelak akan melakukannya.
Eka terbukti tak
mampu menulis novel dengan tokoh-tokoh yang banyak dan kompleks. Pada akhirnya
dia kesusahan membangun alur, psikologis dan karakter tokoh, latar cerita, dan
karya yang utuh dan tak seenaknya sendiri ditulis dengan seasal-asalnya. Itulah
yang membuat karya Eka membosankan. Hanya terlihat sangat pornografi dibagian
adegan mesumnya. Sangat tidak jelas. Hantu bertebaran hanya untuk sekedar
sebagai sisipan antah berantah atau penutup cerita dengan cara tak bertanggung
jawab dan seenaknya. Seolah-olah dengan hantu, Eka bisa dengan mudahnya menutup
cerita yang berantakan. Itulah yang aku sebut tak bertanggung jawab.
Dengan kualitas
asal-asalan semacam itu, hanya orang bodoh yang menganggap Eka adalah
penerusnya Pram. Sejujurnya, jika Eka sangat mengagumi Pram dan tahu diri, dia
akan lebih baik mengaku dan menarik semua hal hampir menyetarakan Pram dan Eka.
Terlebih sebagai penulis penerus Pram. Eka, kalau dia penulis yang sadar diri,
dia tak akan pernah mau untuk dijadikan sebagai penerus Pram. Karya-karyanya
sangat biasa dan tak layak untuk dianggap sebagai penerus Pramoedya Ananta
Toer. Soal Murakami Indonesia, entah orang bodoh mana lagi yang menuliskannya.
Catatan: aku
belum membaca Cantik itu Luka. Biasa,
lagi males. Takut membosankan lagi. tapi karena sudah terlanjur melakukan
kritik terhadap EkA, nanti aku beli dan baca. Akhir-akhir ini aku lebih suka
mengkritik ke intinya tanpa harus berbelit-belit menuliskan ulang isi cerita
lagi kaya orang sinting. Aku menulis ini untuk mereka yang sudah membaca karya
Eka dan bagi mereka yang mau berpikir. Yang tak suka berpikir, perduli amat.
Nulis panjang-panjang intinya juga sama, ngapain? Pembaca Indonesia itu sudah
sangat keterlaluan di dalam kritik sastra. Sukanya ingin didedahkan secara utuh
karya orang lain. Lalu apagunanya otak kalian itu? sejujurnya lebih enak baca
Webtoon dari pada membaca karya Eka. Jujur. Banyak komik indonesia yang bagus
dan segar daripada novel yang lebih banyak membosankan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar