Sabtu, 16 April 2016

EKA KURNIAWAN: SEKS. HANTU. TAK JELAS DAN MEMBOSANKAN







Pujian untuk Eka Kurniawan selain yang ada disampul buku dan di dalamnya:


Eka Kurniawan, Karya yang mempesona. Sangat dianjurkan bagi mereka yang kekurangan kayu bakar untuk memasak.
-Merah naga

Lelaki Harimau. Cocok untuk menumbuhkan gairah seks anda! Bacaan wajib bagi orang bodoh. Dan bacaan untuk membuat anda terkenang lagi dengan Tusuk Jelangkung, Mak Lampir dan juga Suzanna. Tapi sangat disayangkan, tokoh-tokoh Eka tak mampu menyaingi mereka.
-Arah Lalu

Dalam karyanya, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka mampu mewujudkan ketidakmampuannya keluar dari khayalan seks dan alur cerita dipaksakan. Karya luar biasa yang menyadarkan kita bahwa Eka Kurniawan hanya bisa gitu-gitu aja.
-Lembayung Senja

Pramoedya mungkin akan menangis di dalam kubur sambil berjongkok ketika melihat Eka Kurniawan membawa karya sastra kembali ke era hantu-hantu. Karya-karya yang layak dibaca oleh bintang porno Jepang.
-Kanta Kastiri

Kehebatan Eka Kurniawan sebagai sastrawan adalah sangat mirip dengan hampir semua sastrawan modern Indonesia. Eka bahkan tak mampu menyaingi ide-ide segar para komikus/mangaka Jepang, Korea dan sebagainya. Kekagumanku pada Eka, terletak pada kenyataan bahwa Sastra kita mengalami perkembangan yang mencengangkan; jalan di tempat.
-Naga Sukma

Kelebihan Corat-coret di Toilet adalah sampulnya. Hanya itu.
-Kritikus Anonim

Aku kagum dengan para pengagum Eka Kurniawan. Terlebih para penulis dan sastrawan yang berkomentar positif dan memuji-muji karyan-karyanya. Entah di mana para kritikus kita. Karya sejelek itu dipuji oleh banyak orang. Ah, ternyata otak orang Indonesia masih nyaris belum berkembang. Mengagumkan.
-Shuu


 

Susah untuk memuji karya Eka Kurniawan kecuali orang-orang asing yang tergila-gila dengan setan dan bosan dengan rasionalisme positif. Atau makhluk bodoh yang kurang suka membaca dan menggunakan otaknya hanya kadang-kadang. Sejujurnya aku lebih suka membaca manga/komik akhir-akhir ini. Lebih banyak gagasan baru, keberanian menentang arus, dan riset yang tak kalah peliknya. Kegigihan dan suka duka para komikus/mangaka, mengingatkan aku pada kemalasan para sastrawan Indonesia modern. Terlebih Eka, hanya lima karya di usianya yang sudah tua seperti itu. Itu pun karya yang biasa-biasanya saja. Menjadi gelembung sebentar. Setelah itu menghilang.

Dalam bukunya Corat-coret di Toilet, hanya cerpen yang menjadi judul sampul itulah yang bisa dikatakan bagus. Sisanya boleh digunakan untuk bungkus nasi kucing.

Lelaki Harimau, yang banyak dipuji itu, menampilkan sosok harimau hanya di awal dan akhir cerita. Sejujurnya harimau itu gunanya untuk apa? Sekedar bonus cerita, sisipan iklan, atau sekedar untuk dimakan oleh pembaca yang gobloknya tak tertolong lagi hingga mudah untuk dibodohi.

Jujur, kalau tak terpaksa, aku malas membaca Eka. Terlalu membosankan. Alur dipaksakan dengan seenaknya. Sosok yang dipuji-puji internasional tapi sangat tak menghargai hasil pujian itu dan menganggap enteng setiap karya yang dituliskannya. Yang masih lumayan sepertinya hanya Cantik Itu Luka. Sisanya sangat tak bertanggung Jawab. Seolah-olah kita ini orang bodoh yang bisa dicekoki dengan mudahnya karena nama pengarangnya sudah besar. Dan dia, Eka, bisa menulis seenaknya sendiri dengan hasil yang sungguh, sangat mengecewakan. Sangat sekedarnya. Jalinan tokoh, psikologis, alur, dan apapun itu, terlihat sangat semrawut. Cerpen-cerpennya pun sangat biasa-biasa saja.

Dan akhirnya, sangat jelas, bahwa pembaca Indonesia kebanyakan adalah pembaca yang otaknya jalan di tempat. Minimnya kritikus sastra membuktikan itu.

Hal yang sangat jelas dari Eka Kurniawan adalah teks yang sarat seks. Apakah Eka sangat senang jika , anaknya nanti diam-diam belajar bersetubuh dari karya dirinya sendiri? dan yang perlu diketahui, Eka menempatkan sosok perempuan yang seolah mirip pelacur dihampir setiap karyanya; novel.

Sosok perempuan di karya-karya Eka bisa disetubuhi dengan mudahnya. Digilir. Digonta-ganti. Dan selalu dalam keadaan kalah atau bahkan dijadikan pemuas nafsu dalam jalan cerita yang tak jelas. Apakah Eka Kurniawan adalah sosok misoginis, dalam sebagian dirinya? Begitu mudahnya sosok perempuan dalam Eka dijamah, diperkosa, dan dijadikan bahan untuk bersenang-senang seolah-olah itu hal yang wajar dan perlu dalam karya-karyanya. Dan anehnya, perempuan dalam karya Eka pun seringkali puas disetubuhi oleh macam-macam orang!

Perempuan-perempuan dalam karya Eka mirip seperti manga/komik hentai Jepang dan film porno dari negeri sakura itu. Perempuan yang boleh disetubuhi dan menyetubuhi siapa pun asalkan dia suka dan terangsang senang. Cobalah baca karya Eka dengan sungguh-sungguh. Plot dan psikologis tokohnya tak dibangun dengan baik guna menguatkan alasan kenapa pihak perempuan sampai menjadi sangat keterlaluan mirip pelacur. Seolah-olah tokoh-tokoh perempuannya digunakan dalam karyanya untuk sekedar membuat pembaca membayangkan, atau bumbu dari karya yang sejatinya gagal. Hanya orang yang keterlaluan bodoh yang memuji berbagai karya Eka tanpa sikap kritis dan meminta penjelasan.

Di bukunya yang berjudul, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, tak ada yang menarik. Sejujurnya yang menjadi inti buku itu adalah beberapa kisah yang mirip dongeng dan berbagai macam cerita imajinasi berbagai macam hewan. Kekuatannya terletak disitu. Sedangkan, cerpen yang menjadi judul itu sangat biasa saja. Benar-benar biasa dan membuat kita ngantuk karena sangat tak jelas dan mirip cerpen yang dibuat anak sekolah dan seorang remaja.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, sangat berbau pornografis. Buku yang isinya sejujurnya bisa ditulis dalam 10-20 halaman saja. Sisanya hanya membuang-buang tempat. Penguatan latarnya juga biasa saja. Tokoh-tokohnya seperti di film silat atau laga, yang sayangnya dikerjakan secara terpaksa dan terburu-buru. Dan perempuan yang bisa dijadikan mainan oleh siapa pun. Seolah-olah novel itu bercerita; jika kamu ingin membuat seorang anak perempuan tunduk, buatlah ia merasakan nikmatnya seks sedari muda. Jadi, buku-buku Eka Kurniawan bisa dijadikan panduan bagi para pecandu seks dan anak-anak sekolahan yang sedang sibuk pacaran agar berimajinasi dengan bebas dan mungkin kelak akan melakukannya.

Eka terbukti tak mampu menulis novel dengan tokoh-tokoh yang banyak dan kompleks. Pada akhirnya dia kesusahan membangun alur, psikologis dan karakter tokoh, latar cerita, dan karya yang utuh dan tak seenaknya sendiri ditulis dengan seasal-asalnya. Itulah yang membuat karya Eka membosankan. Hanya terlihat sangat pornografi dibagian adegan mesumnya. Sangat tidak jelas. Hantu bertebaran hanya untuk sekedar sebagai sisipan antah berantah atau penutup cerita dengan cara tak bertanggung jawab dan seenaknya. Seolah-olah dengan hantu, Eka bisa dengan mudahnya menutup cerita yang berantakan. Itulah yang aku sebut tak bertanggung jawab.

Dengan kualitas asal-asalan semacam itu, hanya orang bodoh yang menganggap Eka adalah penerusnya Pram. Sejujurnya, jika Eka sangat mengagumi Pram dan tahu diri, dia akan lebih baik mengaku dan menarik semua hal hampir menyetarakan Pram dan Eka. Terlebih sebagai penulis penerus Pram. Eka, kalau dia penulis yang sadar diri, dia tak akan pernah mau untuk dijadikan sebagai penerus Pram. Karya-karyanya sangat biasa dan tak layak untuk dianggap sebagai penerus Pramoedya Ananta Toer. Soal Murakami Indonesia, entah orang bodoh mana lagi yang menuliskannya.


Catatan: aku belum membaca Cantik itu Luka. Biasa, lagi males. Takut membosankan lagi. tapi karena sudah terlanjur melakukan kritik terhadap EkA, nanti aku beli dan baca. Akhir-akhir ini aku lebih suka mengkritik ke intinya tanpa harus berbelit-belit menuliskan ulang isi cerita lagi kaya orang sinting. Aku menulis ini untuk mereka yang sudah membaca karya Eka dan bagi mereka yang mau berpikir. Yang tak suka berpikir, perduli amat. Nulis panjang-panjang intinya juga sama, ngapain? Pembaca Indonesia itu sudah sangat keterlaluan di dalam kritik sastra. Sukanya ingin didedahkan secara utuh karya orang lain. Lalu apagunanya otak kalian itu? sejujurnya lebih enak baca Webtoon dari pada membaca karya Eka. Jujur. Banyak komik indonesia yang bagus dan segar daripada novel yang lebih banyak membosankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar